Saturday, March 20, 2010

Perkembangan Pemikiran Jean Baudrillard, dari Realitas ke Simulacrum.

PROPOSAL TESIS
1. Judul: Perkembangan Pemikiran Jean Baudrillard
2. Latar Belakang
2.1.Jean Baudrillard
Baudrillard lahir di Reims, Perancis pada tahun 1929, tidak lama setelah
jatuhnya bursa saham di Wall Street, yang menyebabkan krisis ekononomi
dunia modern yang pertama kali. Lalu siapakah Baudrillard itu?
Baudrillard is a contradictory character. The “real” Baudrillard is elusive –
almost secretive. In seminars he seems passive and uncertain. Yet the
“virtual” Baudrillard is ferociously uncompromising – an his virulent style is
met with equal force by critics who accuse him of intolerance, banality,
generalization and facetiousness.” (IB: 4). “The image of Jean Baudrillard
as a sort of academic Jimi Hendrix is, as the French would say, ‘drôle’…”
(JBCM: 25).
Terjemahannnya:
Baudrillard mempunyai karakter yang kontradiktoris. Baudrillard yang
sebenarnya adalah sulit untuk dipahami – hampir selalu berahasia. Dalam
seminar ia nampak pasif dan kurang percaya diri. Akan tetapi Baudrillard
yang virtual sangatlah tidak ada bandingannya – dan gayanya yang
berbahaya itu berhadap-hadapan dengan kritik-kritik yang menudingnya
sebagai tidak toleran, kasar, terlalu mudah untuk mengambil kesimpulan
dan konyol. (IB: 4). Citra Jean Baudrillard semacam akademikus Jimi
Hendrix, orang Perancis mengatakannya sebagai ‘badut’. (JBCM: 25).
Baudrillard mengawali karirnya sebagai guru sekolah menengah pada
mata kuliah kesusastraan Jerman. Tesis awalnya adalah tentang Nietzsche
dan Luther, dan ia terutama tertarik pada karya-karya Hölderlin. (Death: ix). Ia
juga tertarik dengan fotografi (buku foto yang dieditnya, diterbitkan pada
tahun 1963) yang terus ia geluti (pada bulan Desember 1992 ia memamerkan
foto-fotonya di suatu galeri di Champs-Élysées). Pada tahun 1960 an ia
beralih ke sosiologi dibawah pengaruh Henri Lefebvre dan Roland Barthes.
Karir mengajarnya di universitas terutama di Nanterre, Paris. Pada akhir 1960
an ia dikaitkan dengan Utopie dan kemudian dengan Traverses, keduaduanya
adalah jurnal radikal diluar organisasi ortodok kaum kiri. Ia
dipengaruhi secara mendalam oleh situationism tetapi tidak pernah terlibat
secara formal. Pada tahun 1970 an ia mulai bepergian keluar negeri,
misalnya ke Amerika Serikat. Sepulangnya dari Amerika Serikat ia
menerbitkan buku America (1988, aslinya Amérique: 1986), yang juga
termuat di dalam Cool Memories (1980-1985). Perjalanannya ke Eropa
terentang diantara Paris-Milan-Barcelona yang sekarang menjadi Paris-
Berlin-Madrid. Ia pernah bermukim di Berlin, Argentina dan Brazil, dan jarang
bepergian ke Inggris. Setengah dari waktunya ia habiskan di luar Perancis.
2
Oleh karena itu tidaklah mengejutkan bila Baudrillard menjadi terkenal di
dunia, bahkan ia menjadi subyek dari konferensi yang diadakan di Montana,
Kanada pada tahun 1990 (diterbitkan sebagai Jean Baudrillard: The
Disappearance of Art and Politics, William Stearns and William Chaloupka,
ed., 1992). Dari suatu survei mengenai beberapa cendekiawan Perancis
yang paling terkemuka, ia memperoleh posisi sebagai cendekiawan yang
karya-karyanya paling banyak diterjemahkan dan dikutip.
Derasnya terjemahan-terjemahan karyanya disertai pula dengan
komentar-komentar dari cendekiawan-cendekiawan seperti Fredric Jameson,
Douglas Kellner, Arthur dan Marilouise Kroker.
2.2.Obyek Formal Penelitian
Dalam penelitian ini hendak diselusuri perkembangan pemikiran Baudrillard
tentang sign, dimulai dari periode modernnya sampai dengan sekarang
(postmodern), dari jaman ‘Marxisme’ nya sampai dengan hyperrealilty;
periode ini terentang dari tahun 1960 an sampai dengan sekarang.
3. Kegunaan Penelitian Sign pada Baudrillard
3.1. Kegunaan Umum
Sign hendak diteliti dalam konteks kebudayaan kontemporer. Kebudayaan
kontemporer atau kebudayaan masa kini yang dipahami Baudrillard adalah
3
suatu dunia hyperreality, yang hanya dapat dipahami sebagai sistem sign.
Penelitian sign juga dapat menjelaskan ‘jaman informasi’ -- dari ‘The
Medium is the Message’ (Marshall McLuhan) sampai dengan derasnya
informasi digital masa kini.
3.2. Kegunaan Khusus
Penelitian sign pada Baudrillard dapat juga untuk memberikan kontribusi
kepada beberapa pertanyaan yang agak ambisius dibawah ini:
Bagaimanakah kita dapat menjelaskan krisis multi dimensional yang kita
alami sekarang ini? Apakah untuk hidup kita memerlukan identitas? Bila
identitas itu tidak perlu, apakah kekacauan yang kita alami sekarang ini
disebabkan tidak adanya identitas kita sebagai bangsa? Bagaimanakah pula,
berhadap-hadapan dengan globalisasi – tanpa identitas akankah sirna
masyarakat “Indonesia” itu? Atau sebaliknya dengan ditemukannya suatu
formulasi tentang apa yang disebut “Kebudayaan Indonesia”, dapatlah
kiranya menyelesaikan segala kemelut, mempersatukan bangsa dan kita
dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain?
Apakah ledakan revolusi informatika yang berpusing membentuk galaksi
menjadikannya sebagai infra-struktur, chain of signifier tanpa referen yang
semakin membesar tanpa batas itu menentukan segala nilai-nilai
kebudayaan kita?
4
Studi tentang pemikiran Baudrillard tentang manusia dan kebudayaan
(Indonesia) dapatlah kurang lebih menjelaskan persoalan-persoalan tersebut.
4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah dapatlah kiranya menerangi fenomena
kebudayaan yang aktual, yang dipilih sesuai dengan kecenderungan
subyektif penulis yaitu berkenaan dengan kesenian kontemporer (bab 4).
5. Informasi yang sudah tersedia
Penulis telah mengumpulkan informasi-informasi yang diperlukan bagi
penelitian ini, yaitu: 1) Informasi primer berupa buku-buku yang sudah
diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, kecuali pour une critique de
l’économie politique du signe 2) informasi primer berupa wawancarawawancara
dalam bahasa Inggris dan Perancis.
Informasi sekunder yang penulis peroleh adalah 1) sebuah buku
Charles Levin, Jean Baudrillard, a study in cultural metaphysics 2) artikelartikel
dari para komentator Jean Baudrillard dalam bahasa Inggris dan
Perancis.
5.1. Informasi Primer
5
Pemikiran Baudrillard dapat dibagi kedalam dua periode, yaitu Periode Kritis
dan Periode Simulasi dibawah ini yang disusun berdasarkan penerbitan
aslinya agar tidak ada kerancuan dalam menelusuri perkembangan pemikiran
Baudrillard.
5.1.1 Periode Kritis Jean Baudrillard
Tulisan-tulisan Baudrillard dari tahun 1960 an sampai dengan awal 1980 an
merupakan teori-teori modern tentang sosial yang nampak rasional, resmi
dalam argumen yang koheren. Pemikirannya secara kronologis tertuang di
dalam buku-bukunya, sebagai berikut:
Le système des objets, 1968 (The System of Objects):
Dalam disertasi doktoralnya tentang The system of Objects (1968) ia
mengembangkan penelitian Lukacs secara panjang lebar, bahwa pada awal
dari esai yang terkenal tentang reification, “masalah komoditas … adalah
pusat, problem struktural dari masyarakat kapitalis dalam semua aspeknya.”
Hal ini berarti komoditas bukanlah hanya suatu masalah ekonomi saja,
melainkan benih dari krisis semantik yang kemudian menyebar keseluruh
sistem sosial. Konsumsi lalu menjadi semacam labor ‘pekerjaan’, suatu
manipulasi aktif dari signs, semacam bricolage dimana individu bersusah
payah menyusun kehidupan pribadinya dengan memberikan suatu makna
(FCPS: 5).
6
La société de consommation, 1970 (The Consumer Society):
Baudrillard membahas proses dan makna konsumsi pada kebudayaan
kontemporer; ia menunjukkan bahwa konsumsi adalah sumbu dari
kebudayaan. Buku ini mengandung diskusi dan aplikasi yang sistematis dari
tema-tema kunci Baudrillard, misalnya tentang simulasi dan simulakrum. Ia
juga membahas mass media, makna dari waktu santai, anomie dari affluent
society ‘masyarakat maju’, sementara bahasannya mengenai tubuh
menunjukkan pemahamannya yang mendalam dan dapat melihat kedepan
terhadap subyek vital dalam teori kebudayaan kontemporer.
Pour une critique de l’économie politique du signe, 1972 (For a Critique
of the Political Economy of the Sign):
Baudrillard berpendapat bahwa setelah sekian lama bergelut dibidang
produksi, maka masyarakat modern dapat dipahami dengan meneliti bidang
konsumsi dan sistem kebudayaan secara umum. Sebagaimana halnya
produksi artistik, intelektual dan ilmiah, maka kebudayaan pun dihasilkan
sebagai sign dan exchange value. Pada masyarakat modern konsumsi
menentukan tahapan dimana komoditi dihasilkan sebagai sign dan sign
sebagai komoditi.
7
Sebagaimana halnya Marx meng kritik komoditas dalam ekonomi
politik: Komoditi sekaligus exchange value dan use value – maka bagi
Baudrillard, sign adalah sekaligus signifier dan signified.
Satu formula dalam For a Critique of the Political Economy of the Sign
(1981, aslinya 1972), “semiological reduction of the symbolic properly
constitutes the ideological process” (FCPS: 98), dapat diambil sebagai
pernyataan kunci dalam penelitian Baudrillard. Pada saat itu dengan jelas
terlihat adanya analisa terhadap proses yang penting dalam masyarakat
kapitalis: suatu “ideological reduction to the (capitalist) system of order and
social values” (hlm. 100).
Le miroir de la production, 1972 (The Mirror of Production)
Dalam buku ini Baudrillard mempersoalkan, bahwa apakah konsep labor dan
produksi masih cocok bagi masyarakat industri modern pada abad 20?
Apakah arti dari organisasi pra-industrial? Dalam upaya menjawab
persoalan-persoalan ini Baudrillard belajar dari Marx yang telah menciptakan
productivist model dan fetishism of labor. Baudrillard berpendapat bahwa kita
haruslah mematahkan the mirror of production yang merupakan refleksi dari
semua metafisika, dan membebaskan logika Marxisme dari konteks yang
kaku berkenaan dengan ekonomi politik.
8
5.1.2 Periode Simulasi Jean Baudrillard
Tulisan-tulisannya dari 1980 an sampai dengan sekarang bergaya
postmodern dan dituduh orang sebagai pastiches of aphorism ‘tulisan-tulisan
pendek dari sana-sini’. (CS: 2); Tulisan-tulisannya nampak lebih sebagai puisi
daripada teks filsafat pada umumnya. Ia tidak henti-hentinya bermain dengan
kata-kata dan membuat metafor-metafor liar dari astronomi, membuat
perhatian pembaca terarah kepada bahasanya daripada pendapatnya. Gaya
tulisannya merupakan suatu ilustrasi dari tesisnya bahwa kita telah
meninggalkan atau membelakangi realitas. Kita telah memasuki hyperreality,
dimana kita dapat bersembunyi dari ilusi yang kita takuti itu.
Landasan filsafat Baudrillard adalah kritiknya terhadap cara berpikir
kritis-ilmiah. Manusia kini hidup dalam suatu ilusi radikal dimana segalanya
where things are exactly what they seem to be. Ilusi adalah pengalaman
langsung melalui panca indranya, suatu pengalaman subyektif yang
dipengaruhi oleh perasaan dan tanpa rasionalisasi.
L’échange symbolique et la mort (Paris: Gallimard, 1976) translated as
Symbolic exchange and Death.
Dalam buku ini Baudrillard sepenuhnya meninggalkan Marxisme dan
masuk kedalam dunianya, “radical semiurgy”, dominasi total oleh the code of
sign-exchange. Marxisme, semiotik, antropologi, dan psikoanalisa tidak ada
9
artinya bagi kritik revolusioner sampai mereka dibalikkan melalui the logic of
reversibility dan simulasi.
À l’ombre des majorités silencieuses, ou la fin du social, In the Shadow
of Silent Majorities or, The End of the Social and Other Essays
De la séduction
Pour moi c’est une forme, c’est-à-dire justement un mode qui s’oppose à la
production d’une part, à l’échange de l’autre ; c’est un rapport duel, c’est une
forme duelle. Alors elle peut prendre tous les attributs qu’on veut, elle peut
passer à travers l’analyse, l’obscénité, tout ce qui est anti-séduisant si on
veut.
Simulacres et simulation
Les stratégies fatales, translated as Fatal Strategies
The Illusion of the End:
Baudrillard berpendapat bahwa kata “akhir” merupakan fantasi dari
pandangan sejarah yang linear. Sekarang (akhir abad 20) kita tidak
mendekati akhir dari sejarah melainkan bergerak mundur kedalam suatu
proses penghapusan yang sistematis. Kita menghapus seluruh sejarah abad
20 satu demi satu, yaitu misalnya: Perang Dingin, revolusi politik dan
ideologi, bahkan mungkin sign perang dunia I dan II. Singkatnya kita terlibat
dalam suatu proses besar untuk merevisi sejarah manusia dan dengan
tergesa-gesa kita berupaya untuk menyelesaikannya sebelum akhir abad 20
– dan secara diam-diam berharap agar dapat lagi memulai kehidupan dari
awal.
10
5.1.3 Wawancara-wawancara
Setelah surfing dalam internet dan menemukan 956 situs tentang Baudrillard,
maka penulis telah dapat mengumpulkan teks-teks wawancara yang
dilakukan orang-orang terhadap Baudrillard (lampiran).
3.1. Informasi sekunder
Informasi sekunder berupa teks para komentator Baudrillard, baik itu berupa
buku-buku, artikel-artikel dan teks-teks yang diacu oleh Jean Baudrillard,
misalnya Marshall McLuhan, Understanding Media, dll. (lampiran).
6. Hipotesa
Baudrillard yang karir awalnya adalah guru yang mengajar kebudayaan
Jerman, dan kemudian memperoleh gelar doktor di bidang sosial – tetapi
merupakan kesalahan bila ia dianggap sosiolog. Seperti yang ia katakan
sendiri “No, I’ve never been a sociologist in that sense. I moved away very
early on from the sociology of institutions, of law, of social structures … In a
way, I prefer anthropology to sociology.” (Paroxysm: 40).
Lalu apakah Baudrillard seorang nihilistik? Seperti yang ia katakan
sendiri: “I am a nihilist.” (SS: 160); tetapi harap diketahui bahwa pernyataan
itu diterbitkan pada tahun 1981 – sementara itu pikirannya terus berkembang
11
(atau mengalami degenerasi?) sampai dengan umurnya yang 71 tahun
sekarang ini. Pernyataan ini dipersoalkan pula oleh Charles Levin.
Charles Levin dalam bukunya, Jean Baudrillard, a study in cultural
metahphysics mengajukan pertanyaan sebagai berikut: “Why, over the
course of his career, Baudrillard has transformed an essentially sociological
perspective on culture into the philosophically ‘nihilistic’ one now so familiar to
students of modern and postmodern intellectual histrory.” (Levin: 1). Ia pun
mengusulkan suatu konsep yang ia namakan cultural metaphysics, suatu
genre, kerangka atau kertas kerja agar dapat memasukkan pemikiran radikal
seperti halnya Baudrillard tanpa harus menghakiminya. (Levin: )
7. Metode Penulisan
Mengikuti metode Baudrillard, maka metode penelitian ini adalah
fenomenologis; dengan kekecualian pada Le système des objets dan la
société de consommation, Baudrillardlah jaranglah berpikir analitis,
melainkan fenomenologis dan deskriptif, tetapi tidak sintetik. (Levin: 83);
Metode fenomenologis diartikan, bahwa: Ditelusuri pemikiran Baudrillard
secara kronologis, apa adanya dan kemudian ditarik gagasan Baudrillard
tentang sign.
Bab I : Menjelaskan latar belakang Jean Baudrillard, kegunaan atau
pentingnya penelitian sign pada Baudrillard, tujuan dari penelitian ini, tinjauan
12
informasi yang sudah tersedia, studi atau hipotesa yang pernah dilakukan
para cendikiawan berkenaan dengan pemikiran Baudrillard.
Bab 2: Menelusuri secara kronologis periode kritis Baudrillard yang
tertuang secara berturut-turut dalam Le système des objets (1968), La
sociéte de consommation (1970), Pour une critique de l’économie du Signe
(1972), Le miroir de la production (1972). Dalam penelusuran tersebut diatas,
ditemukan tema-tema penting, yaitu commodity fetishism dan the theory of
reification sebagai code yang didudukkan dalam kerangka Marxisme,
structuralism dan the critique of everyday life, yang dilihat sebagai wacana
semiotik.
Bab 3: Menulusuri secara kronologis periode simulasi Baudrillard yang
tertuang di dalam buku-buku: L’échange symbolique et la mort (1976), À
l’ombre des majorités silencieuses, ou la fin du social (1978), De la séduction
(1979), Simulacres et simulation (1981), Les stratégies fatales (1983), L’Autre
par lui-mème (1987), La transparence du mal: Essai sur les phénomènes
extrémes (1990), L’illusion de la fin ou la grève des événements (1992). Dari
buku-buku tersebut diatas ditemukan tema-tema pentingnya. Tema-tema
tersebut adalah fatal strategies, seduction dan simulation
Bab 4: Memaparkan fenomena kebudayaan aktual dengan tema
yang cenderung subyektif, yaitu: tentang estetika dalam kajian semiotik.
Bab 5: merupakan kesimpulan atau mungkin bukanlah merupakan
suatu kesimpulan -- seperti apa yang dikatakan Baudrillard,
13
It is paradoxical to make a retrospective survey of a work which never
intended to be prospective. It recalls the fate of Orpheus, who looked
back on Eurydice too soon, and therby condemned her to the
underwold forever. One must pretend that the work prexisted to itself
and forebode its own end from the very beginning. This may be an ill
omen. Yet this is an exercise in simulation which may be resonant with
one of the principal themes of the whole: to pretend that this work were
accomplished, that it developed in a coherent manner and has always
existed. Therefore I can only conceive of speaking of it in terms of
simulation, much in the same manner that Borges reconstitutes a lost
civilization through the fragments of a library. In other words, I can
hardly examine the question of sociological verisimilitude, to which,
moreover, I could only answer with the greatest of difficulty; rather I
must put myself in the place of an imaginary traveler who stumbles
upon these writings as upon a lost manuscript and who, for lack of
supporting evidence, would attempt to reconstitute the society they
describe. (Ecstasy: 9-10).
14

Jean Baudrillard

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN
JEAN BAUDRILLARD
dari Realitas ke Simulakrum


Tesis


yang diajukan untuk melengkapi
persyaratan perolehan gelar Magister Humaniora
pada Program Pascasarjana
Ilmu Pengetahuan Budaya
Fakultas Sastra Universitas Indonesia


Program Studi Filsafat

oleh:
Bambang Utoyo
NPM: 6797050014


PROGRAM PASCASARJANA
ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2001
















Why is there nothing than something?

Jean Baudrillard

LEMBAR PENGESAHAN



Tesis ini telah diujikan pada hari Rabu, tanggal 11 Juli 2001, pukul 12.30, dengan susunan penguji sebagai berikut:

Tanda tangan


1.Prof. Dr. Soerjanto Poespowardojo ……………………………
Ketua/Penguji


2.Dr. Alois Agus Nugroho ……………………………
Pembimbing/Penguji


3.Dr. V. Irmayanti Budianto, M. Hum. ……………………………
Penguji


Disahkan di Depok pada hari , tanggal
Oleh:

Ketua Program Studi Filsafat Dekan
Program Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Budaya Fakultas Sastra Universitas Indonesia



Prof. Dr. Soerjanto Poepowardojo Dr. Abdullah Dahana
NIP. 130 353 859 NIP. 130 246 668

Seluruh isi tesis ini sepenuhnya menjadi
tanggung jawab penulis




Depok, 11 Juli 2001

Penulis,






Bambang Utoyo

NPM: 6797050014

PRAKATA


Tesis ini merupakan perkenalan pertamaku dengan Jean Baudrillard, sehingga tanpa bantuan dari: Prof. Dr. Soerjanto Poespowardojo, Dr. Alois Agus Nugroho dan Dr. V. Irmayanti Budianto, Prof. Dr. Toeti Heraty yang telah meminjamkan (melalui Dr. Shinta Gondokusomo) buku Symbolic Exchange and Death tidaklah mungkin tesis ini dapat diselesaikan dengan baik dan lancar – kuucapkan terima-kasih yang tulus kepada mereka.
Kuucapkan sayang kepada ibuku: Nani Aisyah, isteriku: Novi, dan para teroris kecil-balita (anak-anakku): Afifah, Habibie dan Lulu yang telah menggugah semangatku.


Daftar Isi


PERKEMBANGAN PEMIKIRAN i
JEAN BAUDRILLARD i
dari Realitas ke Simulakrum i
Tesis i
Program Studi Filsafat i
PRAKATA vi
Daftar Isi vi
Daftar Singkatan Judul viii
Kronologi Jean Baudrillard 1929- x
ABSTRAK xiv
Bab 1 1
Pendahuluan 1
1.1.Latar Belakang Jean Baudrillard 1
1.2.Obyek Formal Penelitian 4
1.3.Kegunaan Penelitian Perkembangan Pemikiran Baudrillard 4
1.4. Tujuan Penelitian 6
1.5. Informasi yang sudah tersedia 6
1.6. Pendapat Cendekiawan-Cendekiawan tentang Baudrillard 14
1.7. Hipotesa 15
1.8. Metode Penulisan 15
Bab 2 18
Periode Kritis 18
2.1.Pendahuluan 18
2.2.Sistem Obyek-Obyek 20
2.3.Masyarakat Konsumer 23
2.4.Kritik Tanda pada Politikal Ekonomi 27
2.5.Cermin Produksi 45
Bab 3 48
Periode Simulasi 48
3.1.Pendahuluan 48
3.2.Pertukaran Simbolik dan Kematian 49
3.3.Massa yang Bungkam 62
3.4.Rayuan yang Menghanyutkan 67
3.5.Strategi Fatal 75
3.6.L'autre par lui-même 78
Bab 4 93
FENOMENA KEBUDAYAAN KONTEMPORER 93
4.1.Pemikiran Radikal sebagai dasar untuk memahami Kebudayaan Kontemporer 93
4.2. Implosi 96
Pataphysics tahun 2000 101
[Mid-20th century. Via French pataphysique, an alteration of Greek ta epi ta metaphusika, “that which comes after the metaphysics.”] 101
4.4. Ilusi Perang Teluk 105
4.5. Transaesthetics 107
Komputer 115
Bab 5 118
KESIMPULAN 118
NILAI DAN TUJUANNYA 118
5.2. Relevansi Pemikiran Baudrillard bagi Indonesia 122
GLOSARIUM 128
KEPUSTAKAAN 147
Index 151
CURRICULUM VITAE 154

Daftar Singkatan Judul


Semua kutipan atau referensi karya-karya Baudrillard (sumber utama) terdapat di tubuh karangan, dengan bantuan daftar singkatan dibawah ini.

CS The Consumer Society, Myths & Structures, intro. George Ritzer (London: Sage Publications, 1998).
Death Symbolic Exchange and Death, trans. by Iain Hamilton Grant (London: Sage, 1993).
Ecstasy The Ecstasy of Communication, trans. by Bernard & Caroline Schutze, ed. Sylvere Lotringer (NY: Semiotext(e), 1988).
Evil The Transparency of Evil, Essays on Extreme Phenomena, trans. James Benedict (NY: Verso, 1996).
FCPES For a Critique of the Political Economy of the Sign, trans. with an intro. by Charles Levin (U.S.A.: Telos Press, 1981).
Fatal Fatal Strategies, trans. by Philip Beitchman and W.G.J. Niesluchowski, ed. Jim Fleming (London: Pluto Press, 1999).
IE The Illusion of the End, trans. by Chris Turner (California: Stanford University Press, 1994).
JBSW Jean Baudrillard, selected writings, ed. and intro. Mark Poster (Oxford: Polity Press, 1990)
MP The Mirror of Production, trans. with “Introduction” by Mark Poster (USA: Telos Press, 1975).
Paroxysm Paroxysm, interviews with Philippe Petit, trans. Chris Turner (London: Verso, 1998).
Seduction Seduction, trans. by Brian Singer (New York: St. Martin, 1990).
Shadow In the Shadow of the Silent Majorities or, the End of the Social and Other Essays, trans. Paul Foss et al. (USA: Semiotext(e), 1983).
SO The System of Objects, trans. by James Benedict (London: Verso, 1997).
TTT Transpolitics, Transsexuality, Transaesthetics in Jean Baudrillard, The Disappearance of Art and Politics, ed. William Stearns and William Chaloupka (New York: St. Martin’s Press, 1992).

Kronologi Jean Baudrillard 1929-



1929Lahir di kota katedral Reims (Marne) 27 Juli, dari kakek petani dan ayah pegawai negeri.
1956.1966Menjadi guru sekolah menengah; mengkhususkan pada teori sosial Jerman dan kesusasteraan. Mengikuti jejak Jean-Paul Sartre dan banyak kaum intelektual kiri lainnya, menentang kebijakan kolonial Perancis di Aljazair.
1962-63 Mengulas tulisan-tulisan di Les Temps Moderne, termasuk sebuah esai tentang Italo Calvino.
1964.68Menerjemahkan naskah-naskah Jerman kedalam bahasa Perancis, termasuk beberapa karya dramawan Peter Weiss (Marat/Sade, The German Ideology nya Marx dan Engels, Messianisme revolutionairre du tiers monde dari Muhlmann) dan Bertold Brecht. Turut serta dalam jurnal radikal Utopie, dan bergabung dengan oposisi, menentang kebijakan Amerika Serikat di Indocina.
1965Pada bulan Maret, mempertahankan disertasinya “Thèse de Troisème Cycle” dalam bidang sosiologi, Universitas Paris X – Nanterre. Diterbitkan menjadi Le systèm des objets. Pada bulan Oktober mulai mengajar sosiologi di Nanterre sebagai asisten, maître-assistant, dan maître de conférence.
1966Menerbitkan ulasan ringkas tetapi dengan prediksinya, tentang Understanding Media, Marshall-McLuhan dalam jurnal Marxis humanis L’homme et la société.
1967Menerbitkan Le système des objets. Berperan aktif sebagai intelektual dalam demonstrasi mahasiswa di Paris, pada bulan Mei 1968.
1970.76Menjadi maître-assistant di Nanterre. Menerbitkan penelitian-penelitian pokoknya, yaitu diantaranya La sociéte de consommation, Le miroir de la production, L’échange symbolique et la mort. Pada tahun 1975 mulai mengajar di luar negeri, yaitu di University of California, San Diego.
1977.78Meluncurkan serial provokatif tentang esai antisosialis dan anti postrukturalis dalam bentuknya yang sangat atraktif, publikasi gaya pamplet yang menutup kariernya sebagai akademikus dan political outsider. Dapat dicatat adalah Oublier Foucault dan L’ombre des majorités silencieuses: la fin du social. Kedudukannya sebagai jurnalis satirikal menjadi semakin jelas.
1980-Menerbitkan De la séduction. Terus mengajar, memberikan seminar di Kanada, Amerika Serikat, Brazil, Jerman Barat, Australia, Argentina, Spanyol, Denmark. Karya-karyanya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Jerman, Itali, Spanyol, Jepang, Denmark, Belanda, Portugis, Yunani, Hungaria.
1981Menerbitkan Simulacres et simulation.
1982Menerbitkan Les stratégies fatales.
1985La gauche divine, kronik jurnalistik satirikal dari politikus kiri Perancis, dari tahun 1977 sampai 1984.
1986Menerbitkan Amérique. pada bulan Februari, mengajukan habilitation à diriger des recherches, dibawah direktur politikal antropologis Georges Balandier, di Sorbonne; yang diterbitkan pada tahun 1987 dengan judul L’autre par lui-même, seiring dengan volume pertama Cool Memories.
1988-95 Mulai mengundurkan diri dari kehidupan kampus, tetap aktif sebagai jurnalis, esais, dan intelektual profesional bête noir. Hal yang menarik dari waktu ini adalah sekitar tulisan La Guerre du Golfe n’a pas eu lieu (1991), suatu koleksi tulisan-tulisan politikal satirikal dari Januari-Maret 1991, yang bagian-bagiannya sebelumnya diterbitkan dalam jurnal Libération. Terbitnya La transparence du mal (1990), Cool Memories II (1990), dan L’illusion de la fin (1992).
ABSTRAK

Bambang Utoyo. Kajian kepustakaan berkenaan dengan Perkembangan Pemikiran Jean Baudrillard: dari Realitas ke Simulakrum dengan metode historis eksploratif (Di bawah bimbingan Dr. Agus Nugroho) Program Studi Filsafat Pascasarjana, Ilmu Pengetahuan Budaya, Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Pokok Masalah
1.Sejarah perkembangan industri sejak zaman Renaissance hingga sekarang adalah sejarah simulacra, yaitu sejarah imitasi, atau reproduksi sehingga menimbulkan persoalan makna, orisinalitas dan identitas manusia.
2.Masyarakat konsumer adalah masyarakat dalam pertanyaan.
3.Sirnanya realitas “Not into nothingness, but into the more real than real (the triumph of simulacra)? (Ecstasy: 103).
4.Perkembangan yang pesat dari teknologi diakhir abad 20 dan awal millennium ketiga ini telah melampaui batas-batasnya dan menjalar keseluruh sendi-sendi kehidupan manusia dan mengubah secara radikal cara pandang manusia terhadap dunia. Dipertanyakan kemampuan teori untuk menjawabnya.

Dasar Teoritis
Latar belakang pemikiran Baudrillard merupakan suatu intellectual landscape yang luas, yaitu bahwa:
1.Baudrillard diilhami oleh pernyataan Nietzsche bahwa “Tuhan sudah mati”, sebenarnya adalah suatu upaya mencari nilai-nilai baru.
2.Gestell dari Heidegger, walaupun tidak langsung, tersebar didalam tulisan-tulisan Baudrillard.
3.Symbolic Exchange adalah teori yang diilhami oleh Accursed Share-nya Georges Bataille, Gift-Exchange-nya Marcel Mauss, dan Anagram-nya Ferdinand de Saussure.
4.Seduction adalah game of appearance yang berada pada tataran simbolik.
5.Fatal Strategy telah menggantikan teori yang menjadi usang karena tidak dapat mengikuti perubahan zaman yang pesat.
6.Symbolic exchange, seduction dan fatal strategy dapat dibandingkan dengan différance, differend dan chora.
7.Metamorphosis, Metaphor, Metastasis adalah tahapan proses dehumanisasi.
8.Vanishing of history adalah karena ruang-waktu non-Euclidian.

Analisis
Perlu digaris bawahi bahwa cara berpikir Baudrillard yang radikal, metaforis dan ironis disebabkan “… so great is the sway of the real over the imagination” (Fatal: 181), “… it’s not a familiar form you can use and abuse, but something alien which has to be seduced” (Paroxysm: 32) dan untuk mengatasi tirani dari sign.
Pada tahun 1960-an Baudrillard memulai penelitian strukturalis terhadap the consumer society, the society of spectacle pada industri kapitalis akhir. Masyarakat ini bukanlah masyarakat dalam artian yang sebenarnya, melainkan la masse, the silent majorities yang tidak mempunyai akar sosiologis – sehingga merupakan akhir dari masyarakat.
Baudrillard juga mengkritisi Karl Marx, bahwa a) bukan produksi, melainkan konsumsi lah yang merupakan basis dari tatanan sosial, b) Use value adalah efek dari exchange value – use value adalah alibi agar produksi tetap berjalan.
Hommo consumans atau ego consumans pada affluent society adalah manusia yang hidup dikelilingi oleh the system of objects. Ego consumans membutuhkan obyek hanya untuk dihancurkan sehingga diperoleh maknanya in its disappearance. Dari the system of objects ke the destiny of objects: Keunggulan object diatas subject, merupakan fatal strategies yang juga adalah the principle of evil yang bersifat seductive.
Sejak jaman Renaissance hingga kini telah terjadi tiga kali revolusi simulacra, yaitu counterfeit, production dan simulation, yang merupakan nama yang berbeda untuk arti yang sama yaitu, imitasi atau reproduksi dari image atau obyek. Pertama, image merupakan representasi dari realitas. Kedua, image menutupi realitas. Ketiga, image menggantikan realitas yang telah sirna, menjadi simulacrum murni. Pada sign as sign, simbolika muncul dalam bentuk irruption. Baudrillard kemudian menambahkan tahapan keempat yang disebut fractal atau viral.

Kesimpulan
1.gagasan Nietzsche mengenai transvaluation of all values telah terwujud dalam kebalikannya: involution of all values.
2.THERE IS NEVER ANYTHING TO PRO-DUCE, melainkan imitasi dan reproduksi (simulacra) menimbulkan krisis makna dan identitas (Bewährung = proving oneself).
3.Kini kita pada tahapan fractal, suatu tahapan trans-everything yang mengubah secara radikal cara pandang kita terhadap dunia.
4.Diperlukan tatanan dunia baru horizontal in void.







Bab 1
Pendahuluan


1.1.Latar Belakang Jean Baudrillard
Baudrillard lahir di Reims, Perancis pada tahun 1929, tidak lama setelah jatuhnya bursa saham di Wall Street, yang menyebabkan krisis ekononomi dunia modern yang pertama kali. Lalu siapakah Baudrillard?
Baudrillard is a contradictory character. The “real” Baudrillard is elusive – almost secretive. In seminars he seems passive and uncertain. Yet the “virtual” Baudrillard is ferociously uncompromising – an his virulent style is met with equal force by critics who accuse him of intolerance, banality, generalization and facetiousness.”1 “The image of Jean Baudrillard as a sort of academic Jimi Hendrix is, as the French would say, ‘drôle’…”2

Terjemahannnya:
Baudrillard mempunyai karakter yang kontradiktoris. Baudrillard yang sebenarnya adalah sulit untuk dipahami – hampir selalu berahasia. Dalam seminar ia nampak pasif dan kurang percaya diri. Akan tetapi Baudrillard yang virtual tiadalah ada bandingannya – dan gayanya yang berbisa itu berhadap-hadapan dengan kritik-kritik yang menudingnya sebagai tidak toleran, menjemukan, terlalu mudah untuk mengambil kesimpulan dan konyol. Citra Jean Baudrillard semacam akademikus Jimi Hendrix, orang Perancis mengatakannya sebagai lucu atau aneh.


Baudrillard mengawali karirnya sebagai guru sekolah menengah pada mata kuliah kesusastraan Jerman. Tesis awalnya adalah tentang Nietzsche dan Luther, dan ia terutama tertarik pada karya-karya Hölderlin. (Death: ix). Ia juga tertarik dengan fotografi (buku foto yang dieditnya, diterbitkan pada tahun 1963) yang terus ia geluti (pada bulan Desember 1992 ia memamerkan foto-fotonya di suatu galeri di Champs-Élysées). Pada tahun 1960 an ia beralih ke sosiologi dibawah pengaruh Henri Lefebvre dan Roland Barthes -– tetapi tidaklah benar bila ia dianggap seorang sosiolog. Seperti yang ia katakan sendiri “No, I’ve never been a sociologist in that sense. I moved away very early on from the sociology of institutions, of law, of social structures … In a way, I prefer anthropology to sociology.” (Paroxysm: 40).
Karir mengajarnya di universitas terutama di Nanterre, Paris. Pada akhir 1960 an ia dikaitkan dengan Utopie dan kemudian dengan Traverses, kedua-duanya adalah jurnal radikal diluar organisasi ortodok kaum kiri. Ia dipengaruhi secara mendalam oleh situationism tetapi tidak pernah terlibat secara formal. Pada tahun 1970 an ia mulai bepergian keluar negeri, misalnya ke Amerika Serikat. Sepulangnya dari Amerika Serikat ia menerbitkan buku America (1988, aslinya Amérique: 1986), yang juga termuat di dalam Cool Memories (1980-1985). Perjalanannya ke Eropa terentang diantara Paris-Milan-Barcelona yang sekarang menjadi Paris-Berlin-Madrid. Ia pernah bermukim di Berlin, Argentina dan Brazil, dan jarang bepergian ke Inggris. Setengah dari waktunya ia habiskan di luar Perancis. Oleh karena itu tidaklah mengejutkan bila Baudrillard menjadi terkenal di dunia, bahkan ia menjadi subyek dari konferensi yang diadakan di Montana, Amerika Serikat pada tahun 1990 (diterbitkan sebagai Jean Baudrillard: The Disappearance of Art and Politics, William Stearns and William Chaloupka, ed., New York: St. Martin’s Press, 1992). Dari suatu survei mengenai beberapa cendekiawan Perancis yang paling terkemuka, ia memperoleh salah satu posisi sebagai cendekiawan yang karya-karyanya paling banyak diterjemahkan dan dikutip.
Derasnya terjemahan-terjemahan karyanya disertai pula dengan komentar-komentar dari cendekiawan-cendekiawan seperti Fredric Jameson, Douglas Kellner, Arthur dan Marilouise Kroker.

1.2.Obyek Formal Penelitian
Dalam penelitian ini hendak ditelusuri perkembangan pemikiran Baudrillard dari realitas ke simulacrum, dari periode modernnya sampai dengan sekarang (postmodern), dari jaman ‘Marxisme’ nya sampai dengan hyperreality; periode ini terentang dari tahun 1960 an sampai dengan sekarang.

1.3.Kegunaan Penelitian Perkembangan Pemikiran Baudrillard

1.3.1.Kegunaan Umum

Pemikiran Baudrillard hendak diteliti dalam konteks kebudayaan kontemporer. Kebudayaan kontemporer atau kebudayaan masa kini yang dipahami Baudrillard adalah suatu dunia hyperreality, yang hanya dapat dipahami sebagai sistem sign. Penelitian pemikiran Baudrillard juga dapat menjelaskan ‘jaman informasi’ -- dari ‘The Medium is the Message’ (Marshall McLuhan) sampai dengan derasnya informasi digital masa kini.

1.3.2. Kegunaan Khusus


Penelitian pemikiran Baudrillard dapat juga untuk memberikan kontribusi kepada beberapa pertanyaan yang agak ambisius dibawah ini (walaupun tidak secara langsung):
Bagaimanakah kita dapat menjelaskan krisis multi dimensional yang kita alami sekarang ini? Apakah untuk hidup kita memerlukan identitas? Bila identitas itu tidak perlu, apakah kekacauan yang kita alami sekarang ini disebabkan tidak adanya identitas kita sebagai bangsa? Bagaimanakah pula, berhadap-hadapan dengan globalisasi – tanpa identitas akankah sirna masyarakat “Indonesia” itu? Atau sebaliknya dengan ditemukannya suatu formulasi tentang apa yang disebut “Kebudayaan Indonesia”, dapatlah kiranya menyelesaikan segala kemelut, mempersatukan bangsa dan kita dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain?
Apakah ledakan revolusi informatika yang berpusing membentuk galaksi menjadikannya sebagai chain of signifier tanpa referen yang semakin membesar tanpa batas itu menentukan segala nilai-nilai kebudayaan kita?
Studi tentang pemikiran Baudrillard berkaitan dengan manusia dan kebudayaan (Indonesia), walaupun tidak langsung, dapatlah kurang lebih menjelaskan persoalan-persoalan tersebut.

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini, sesuai dengan pemikiran Baudrillard, adalah suatu upaya untuk mencari nilai-nilai baru dalam kerangka suatu metafisika kultural – suatu upaya untuk dapat memahami dan mengantisipasi perubahan dunia yang pesat di awal era millennium ketiga ini.

1.5. Informasi yang sudah tersedia

Penulis telah mengumpulkan informasi-informasi yang diperlukan bagi penelitian ini, yaitu: 1) Informasi primer berupa buku-buku yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, kecuali pour une critique de l’économie politique du signe 2) informasi primer berupa wawancara-wawancara dalam bahasa Inggris dan Perancis.
Informasi sekunder yang penulis peroleh adalah diantaranya yang terpenting 1) sebuah buku Charles Levin, Jean Baudrillard, a study in cultural metaphysics 2) artikel-artikel dari para komentator Jean Baudrillard dalam bahasa Inggris dan Perancis.

1.5.1.Informasi Primer

Pemikiran Baudrillard dapat dibagi kedalam dua periode, yaitu Periode Kritis dan Periode Simulasi dibawah ini yang disusun berdasarkan penerbitan aslinya agar tidak ada kerancuan dalam menelusuri perkembangan pemikiran Baudrillard. Wawancara-wawancara dalam bahasa Perancis dan terjemahan dalam bahasa Inggris juga telah penulis kumpulkan.

1.5.1.1. Periode Kritis Jean Baudrillard

Tulisan-tulisan Baudrillard dari tahun 1960 an sampai dengan awal 1980 an merupakan teori-teori modern tentang sosial yang nampak rasional, resmi dalam argumen yang koheren. Pemikirannya secara kronologis tertuang di dalam buku-bukunya, sebagai berikut:

1.5.1.1.1. Le système des objets, 1968 (English translation: The System of Objects, 1996):

Dalam disertasi doktoralnya tentang The system of Objects (1968) ia mengembangkan penelitian Lukacs secara panjang lebar, bahwa pada awal dari esai yang terkenal tentang reification, “masalah komoditas … adalah pusat, problem struktural dari masyarakat kapitalis dalam semua aspeknya.” Hal ini berarti komoditas bukanlah hanya suatu masalah ekonomi saja, melainkan benih dari krisis semantik yang kemudian menyebar keseluruh sistem sosial. Konsumsi lalu menjadi semacam labor ‘pekerjaan’, suatu manipulasi aktif dari signs, semacam bricolage dimana individu bersusah payah menyusun kehidupan pribadinya dengan memberikan suatu makna (FCPS: 5).

1.5.1.1.2. La société de consommation, 1970 (English translation: The Consumer Society, Myths & Structures, 1998):

Baudrillard membahas proses dan makna konsumsi pada kebudayaan kontemporer; ia menunjukkan bahwa konsumsi adalah sumbu dari kebudayaan. Buku ini mengandung diskusi dan aplikasi yang sistematis dari tema-tema kunci Baudrillard, misalnya tentang simulasi dan simulakrum. Ia juga membahas mass media, makna dari waktu santai, anomie dari affluent society ‘masyarakat maju’, sementara bahasannya mengenai tubuh menunjukkan pemahamannya yang mendalam dan dapat melihat kedepan terhadap subyek vital dalam teori kebudayaan kontemporer.

1.5.1.1.3. Pour une critique de l’économie politique du signe, 1972 (English translation: For a Critique of the Political Economy of the Sign, 1981):

Baudrillard berpendapat bahwa setelah sekian lama bergelut dibidang produksi, maka masyarakat modern dapat dipahami dengan meneliti bidang konsumsi dan sistem kebudayaan secara umum. Sebagaimana halnya produksi artistik, intelektual dan ilmiah, maka kebudayaan pun dihasilkan sebagai sign dan exchange value. Pada masyarakat modern konsumsi menentukan tahapan dimana komoditi dihasilkan sebagai sign dan sign sebagai komoditi.
Sebagaimana halnya Marx mengkritisi komoditas dalam ekonomi politik: Komoditi sekaligus exchange value dan use value – maka bagi Baudrillard, sign adalah sekaligus signifier dan signified.
Satu formula dalam For a Critique of the Political Economy of the Sign (1981, aslinya 1972), “semiological reduction of the symbolic properly constitutes the ideological process” (FCPS: 98), dapat diambil sebagai pernyataan kunci dalam penelitian Baudrillard. Pada saat itu dengan jelas terlihat adanya analisa terhadap proses yang penting dalam masyarakat kapitalis: suatu “ideological reduction to the (capitalist) system of order and social values” (hlm. 100).

1.5.1.1.4. Le miroir de la production, 1972 (English translation: The Mirror of Production, 1975)

Dalam buku ini Baudrillard mempersoalkan, bahwa apakah konsep labor dan produksi masih cocok bagi masyarakat industri modern pada abad 20? Apakah arti dari organisasi pra-industrial? Dalam upaya menjawab persoalan-persoalan ini Baudrillard belajar dari Marx yang telah menciptakan productivist model dan fetishism of labor. Baudrillard berpendapat bahwa kita haruslah mematahkan the mirror of production yang merupakan refleksi dari semua metafisika, dan membebaskan logika Marxisme dari konteks yang kaku berkenaan dengan ekonomi politik.

1.5.1.2. Periode Simulasi Jean Baudrillard

Tulisan-tulisannya dari 1980 an sampai dengan sekarang bergaya postmodern dan dituduh orang sebagai pastiches of aphorism ‘tulisan-tulisan pendek dari sana-sini’. (CS: 2); Tulisan-tulisannya nampak lebih sebagai puisi daripada teks filsafat pada umumnya. Ia tidak henti-hentinya bermain dengan kata-kata dan membuat metafor-metafor liar dari astronomi, fisika, biologi, dan sebagainya, membuat perhatian pembaca terarah kepada bahasanya daripada pendapatnya. Gaya tulisannya merupakan suatu ilustrasi dari tesisnya bahwa kita telah meninggalkan realitas. Kita telah memasuki hyperreality, dimana kita dapat bersembunyi dari ilusi yang kita takuti itu.
Landasan filsafat Baudrillard adalah kritiknya terhadap cara berpikir kritis-ilmiah. Manusia kini hidup dalam suatu ilusi radikal dimana segalanya where things are exactly what they seem to be. Ilusi adalah pengalaman langsung melalui panca indranya, suatu pengalaman subyektif yang dipengaruhi oleh perasaan dan tanpa rasionalisasi.


1.5.1.2.1. L’échange symbolique et la mort, 1976 (English translation: Symbolic exchange and Death, 1993)

Dalam buku ini Baudrillard sepenuhnya meninggalkan Marxisme dan masuk kedalam dunianya, “radical semiurgy”, dominasi total oleh the code of sign-exchange. Marxisme, semiotik, antropologi, dan psikoanalisa tidak ada artinya bagi kritik revolusioner sampai mereka dibalikkan melalui the logic of reversibility dan simulasi.

1.5.1.2.2. À l’ombre des majorités silencieuses, ou la fin du social, 1978. English translation: In the Shadow of Silent Majorities or, The End of the Social and Other Essays, 1983.

Dalam buku ini Baudrillard menguraikan bahwa, pada jaman kini “masyarakat” sudah sirna dan digantikan oleh mass ‘massa’. Massa tidak mempunyai predikat, atribut, kualitas maupun reference – massa tidak mempunyai realitas sosiologikal.

1.5.1.2.3. De la séduction, 1979. English translation: Seduction, 1990
Seduction pada hakekatnya adalah suatu permainan penampakkan diantara subyek dan obyek. Seduction adalah proses sirkular diantara tantangan, kemenangan, dan kematian.

1.5.1.2.4. Les stratégies fatales, 1983. Translated as Fatal Strategies, 1990.

Teori pada jaman radikalitas obyek harus melupakan upayanya untuk menyajikan dunia. Fatal strategy bukanlah merupakan strategi politik, aktif maupun pasif, tetapi merupakan semacam identifikasi magikal berkenaan dengan obyek. Fatal strategy muncul bersamaan dengan ‘objective irony’ dari benda-benda – suatu ironi yang dimiliki sistem, yang tumbuh dari sistem karena sistem secara konstan berfungsi melawan dirinya.

1.5.1.2.5. L’Autre par lui-même , 1987. English translation: The Ecstasy of Communication, 1988

Buku ini merupakan eksposisi paling cemerlang berkenaan dengan perkembangan pemikiran Baudrillard. Tulisan tersebut dibuat oleh Baudrillard sebagai syarat untuk doctoral Habilitation di Sorbonne, pada tahun 1986.

1.5.1.3. Wawancara-wawancara

Setelah surfing dalam internet dan menemukan 956 situs tentang Baudrillard, maka penulis telah memperoleh teks-teks wawancara yang dilakukan orang-orang terhadap Baudrillard.

1.5.2. Informasi sekunder

Informasi sekunder berupa teks para komentator Baudrillard, baik itu berupa buku-buku, artikel-artikel dan teks-teks yang diacu oleh Jean Baudrillard, misalnya Marshall McLuhan, Understanding Media, dll.


1.6. Pendapat Cendekiawan-Cendekiawan tentang Baudrillard
Sudah banyak cendekiawan yang telah melakukan penelitian tentang Baudrillard, diantaranya adalah Charles Levin. Levin mengindikasikan bahwa Baudrillard adalah nihilis; Seperti yang Baudrillard katakan sendiri: “I am a nihilist.” (SS: 160); tetapi harap diketahui bahwa pernyataan itu diterbitkan pada tahun 1981 – sementara itu pikirannya terus berkembang (atau mengalami kemunduran?) sampai dengan umurnya yang 71 tahun sekarang ini. Pernyataan ini dipersoalkan pula oleh Charles Levin.
Charles Levin dalam bukunya, Jean Baudrillard, a study in cultural metaphysics mengajukan pertanyaan sebagai berikut: “Why, over the course of his career, Baudrillard has transformed an essentially sociological perspective on culture into the philosophically ‘nihilistic’ one now so familiar to students of modern and postmodern intellectual history.”3 Ia pun mengusulkan suatu konsep yang ia namakan cultural metaphysics, suatu genre, kerangka atau kertas kerja agar dapat memasukkan pemikiran radikal seperti halnya Baudrillard tanpa harus menghakiminya.4

1.7. Hipotesa
Tidaklah mudah untuk membuat hipotesa tentang Baudrillard, karena cara berpikirnya yang ironis, radikal, metaforis, pluralistis dan non-analitik (kecuali pada periode kritisnya). Namun demikian diupayakan sebuah hipotesa berkenaan dengan pandangan Baudrillard, yaitu: Kini manusia telah menggantikan realitas dengan simulacrum.

1.8. Metode Penulisan
Metode penelitian ini adalah historis-eksploratif; dengan kekecualian pada Le système des objets dan la société de consommation, Baudrillard jaranglah berpikir analitis, melainkan fenomenologis dan deskriptif, tetapi tidak sintetik.5 Metode historis-eksploratif diartikan, bahwa: Ditelusuri pemikiran Baudrillard secara kronologis berdasarkan urutan penerbitan buku-bukunya, dan ditelusuri pula karya-karya para pemikir-pemikir lain yang melatar belakangi pemikiran Baudrillard, termasuk juga para komentator-komentator Baudrillard.
Bab I : Menjelaskan latar belakang Jean Baudrillard, kegunaan atau pentingnya penelitian perkembangan pemikiran Baudrillard, tujuan dari penelitian ini, tinjauan informasi yang sudah tersedia, studi atau hipotesa yang pernah dilakukan para cendekiawan berkenaan dengan pemikiran Baudrillard.
Bab 2: Menelusuri secara kronologis periode kritis Baudrillard yang tertuang secara berturut-turut dalam Le système des objets (1968), La sociéte de consommation (1970), Pour une critique de l’économie du Signe (1972), Le miroir de la production (1972). Dalam penelusuran tersebut diatas, ditemukan tema-tema penting, yaitu commodity fetishism dan the theory of reification sebagai code yang didudukkan dalam kerangka Marxisme, strukturalisme dan the critique of everyday life, yang dilihat sebagai wacana semiotik.
Bab 3: Menulusuri secara kronologis periode simulasi Baudrillard yang tertuang di dalam buku-buku: L’échange symbolique et la mort (1976), À l’ombre des majorités silencieuses, ou la fin du social (1978), De la séduction (1979), Les stratégies fatales (1983), L’Autre par lui-mème (1987. Dari buku-buku tersebut diatas ditemukan tema-tema pentingnya. Tema-tema tersebut adalah fatal strategies, seduction dan simulation.
Bab 4: Memaparkan contoh-contoh fenomena kebudayaan aktual dengan tema yang dipilih berdasarkan keinginan penulis, yaitu tentang: Implosi, Sejarah, Perang Teluk, Transestetik dan Komputer.
Bab 5: Kesimpulan dan relevansi Baudrillard bagi Indonesia.







Bab 2
Periode Kritis


2.1.Pendahuluan

Tulisan-tulisan Baudrillard dari tahun 1960 an sampai dengan awal 1980 an merupakan teori-teori modern tentang sosial yang nampak rasional, resmi dalam argumen yang koheren. Periode ini merupakan periode “Kritis” Baudrillard.
Dalam hal ini kata “Kritis” harus dijelaskan lebih dahulu. Kata "Kritis" mengacu kepada Critical Theory 'Teori Kritis' (Benjamin, Marcuse, Horkheimer, dll.) dan kemudian juga New French Theory 'Teori Baru Perancis' (Derrida, Foucault, Baudrillard dll.); kedua-duanya mempunyai landasan teori yang sama6. Sejak berdirinya Critical Theory di Jerman pada tahun 30 an sampai dengan sekarang, Critical Theory menolak untuk didudukkan dalam domain akademik konvensional yang telah mengkotak-kotakkan ilmu-ilmu humaniora kedalam disiplin ilmu yang ketat; misalnya, filsafat yang tepisah dari sosiologi, ekonomi dan political science akan menjadi timpang. Critical Theory dan New French Theory lalu mengatasi batas-batas tersebut dengan melakukan studi interdisipliner diantara ilmu-ilmu untuk mengembangkan critical social theory 'teori kritik sosial'.
Bagi Critical Theory, ekonomi mempunyai peranan yang konstitutif bagi semua proses sosial, sehingga mustahillah membahas masalah politik tanpa membahas ekonomi juga. Ringkasnya Critical Theory adalah suatu kritik terhadap batasan diantara disiplin ilmu-ilmu humaniora, dan suatu teori mediatisasi atau interkoneksi yang menghubungkan dan menyatukan berbagai mode dan dimensi realitas sosial kedalam suatu sistem sosial atau “masyarakat.”7
Secara khusus Critical Theory mengkritik hambatan diantara filsafat dan teori sosial, dan pula mencoba mengatasi perbedaan diantara teori dan politik – dalam hal ini mereka mengacu kepada Hegelian Marxism.8


2.2.Sistem Obyek-Obyek

Dalam buku The System of Objects, Baudrillard memaparkan tesis tentang masyarakat konsumer dilihat dari perspektif neo-Marxis, disorot oleh psikoanalisa Lacanian dan strukturalisme Saussurean untuk mengembangkan tema pokoknya, bahwa konsumsi telah menjadi basis pokok dalam tatanan sosial.
Obyek konsumer menata perilaku melalui suatu sign function ‘fungsi tanda’ dalam linguistik. Advertising 'reklame' telah mengambil alih tanggung jawab moral bagi masyarakat dan menggantikan moralitas puritan dengan moralitas hedonistik yang mengacu hanya kepada kesenangan saja dan menjadikannya sebagai barometer dari hypercivilization (SO: 185).
Kebebasan dan kemerdekaan yang kita peroleh dalam hypercivilization sepenuhnya berasal dari sistem komoditas: Bebas menjadi diri-sendiri sebenarnya berarti bebas untuk memproyeksikan keinginan seseorang pada barang-barang industri. Bebas menikmati hidup (Dichter) sebenarnya berarti: bebas untuk mundur dan irasional; hal-hal ini menunjukkan penerapan suatu organisasi sosial pada produksi (SO: 185-86). Hal ini menjadi keutamaan dalam moralitas, yaitu semenjak konsumer secara simultan menyelaraskan dengan dirinya dan dengan kelompok. Manusia lalu menjadi mahluk sosial yang sempurna (SO: 186). Membeli komoditas adalah aktifitas yang sudah direkayasa sebelumnya yang terjadi pada persilangan dua sistem: Yaitu individual, yang bersifat cair, tidak saling berhubungan dengan sesamanya, dan relasi produksi, yang dikodifikasi, berlanjut dan merupakan kesatuan. Tidak ada interaksi diantara keduanya, melainkan integrasi yang dipaksakan dari sistem kebutuhan kepada sistem produksi (SO: 188). Hubungan ini serupa dengan sistem Saussurean tentang langue dan parole: obyek konsumsi ialah artikulasi partikular (parole) dari seperangkat ekspresi yang kehadirannya mendahului komoditas (langue). Tetapi ini bukanlah bahasa: Disini kita melihat menara Babel: setiap hal berbicara dalam idiomnya sendiri… paradigma yang luar biasa besarnya ini kehilangan syntax yang benar (SO: 188-89); ini adalah suatu sistem klasifikasi dan bukan suatu bahasa (SO: 190). “Needs” ‘kebutuhan’ semacam ini diciptakan oleh obyek konsumsi: obyek bertindak sebagai kategori obyek dengan caranya yang sangat sewenang-wenang, menentukan kategori manusia – mereka mengendalikan makna sosial, dan significations yang mereka ciptakan dikontrol secara ketat (SO: 191). Pada masyarakat konsumer obyek menandai status sosial dan menggantikan segala macam perbedaan hirarki sosial yang ada – misalnya ras, gender, kelas. Pengenalan suatu kode universal memberitahukan kepada kita bahwa orang yang memakai jam Rolex berada pada status sosial yang tinggi. Hal ini tidak berarti bebas dari eksploitasi: Sebaliknya akan nampak bahwa the insistence on univocal reference merely exacerbates the desire to discriminate … a perpetually renewed obsession with hierarchies and distinctions is to be observed.” (SO: 195). Konsumsi adalah suatu tindakan sistematis untuk memanipulasi tanda (SO: 200) yang menandakan status sosial melalui perbedaan – membeli jam Rolex tidaklah sama dengan membeli Seiko. Konsumsi tidaklah pada obyeknya melainkan gagasan suatu relasi diantara obyek-obyek. Teknologikal imperatif juga menggerogoti problematika revolusi Marxisme karena perubahan adalah integral pada sistem dan dengan reproduksinya: Segalanya berada dalam keadaan bergerak, segalanya berubah, segalanya ditransformasikan tetapi tidak ada yang berubah. Masyarakat semacam ini yang mencampakkan dirinya kedalam kemajuan teknologi, telah mencapai segala kemungkinan revolusi tetapi ini adalah revolusi terhadap dirinya sendiri. Pertumbuhan produktifitas tidak membawa kepada perubahan struktural apapun.

2.3.Masyarakat Konsumer
Seluruh wacana konsumsi disatukan dalam seri mitologikal fable: Manusia yang secara kodrati berkehendak dan serba butuh akan obyek yang dapat memberikannya kepuasan. Manusia dengan pembawaannya akan keinginan atau kebutuhan mengarahkan dirinya kepada obyek yang dapat memuaskannya. (CS: 69). Mitos ini mengabaikan kodrat masyarakat konsumer dimana produsen mengendalikan perilaku, mengarahkan dan membentuk social attitudes dan kebutuhan-kebutuhan ... this is a total dictatorship of the order of production," (CS: 72). Baudrillard menentang pernyataan J.K. Galbraith bahwa “needs are the fruits of production” (CS 74; citing The New Industrial State), melainkan berpendapat bahwa sistem kebutuhan adalah produk dari sistem produksi … kebutuhan dihasilkan sebagai suatu kekuatan konsumsi. Dengan kata lain, apa yang dimaksudkan Galbraith “need” hanya ada untuk meningkatkan percepatan konsumsi: Kebutuhan tidak lain adalah bentuk yang paling maju dari sistemasi rasional kekuatan produksi pada tingkatan individual, ‘one in which 'consumption' takes up the logical and necessary relay from production," (CS: 75). Dunia obyek-obyek dan kebutuhan-kebutuhan lalu menjadi dunia dari general hysteria. Konsumsi adalah suatu ideologi dan sistem komunikasi (seperti halnya exchange) dan dapat dilihat sebagai exclusive of pleasure (CS: 78). Kesenangan bukanlah tujuan dari konsumsi melainkan suatu rasionalisasi dari konsumsi. Tujuan yang pokok dari konsumsi adalah untuk memperkuat pertumbuhan sistem obyek-obyek: “Production and consumption are part of one and the same process of expanded reproduction of the productive forces and their control.” Imperatif ini yang termasuk dalam sistem, dalam keadaan bentuk terbalik masuk kedalam mentalitas, etika dan ideologi sehari-hari, demikianlah tipu muslihatnya: dalam bentuk pembebasan keinginan, individual fulfillment ‘pemenuhan diri, kesenangan, kelimpahan, dsb. (CS: 82). Konsumer individual adalah esensial bagi reproduksi sistem. Konsumsi telah menjadi semacam labor, bricolage (Levi-Strauss) dimana individual invest ‘menanamkan modal’ dunia pribadinya dengan makna melalui manipulasi aktif dari tanda-tanda. Apa yang dikonsumsi bukanlah obyek itu sendiri, melainkan sistem obyek-obyek, 'the idea of a relation' that is actually 'no longer lived, but abolished, abstracted, consumed' by the signifying system itself ... As we 'consume' the code, in effect, we 'reproduce' the system" 9. Obyek artistik dalam sistem ini kehilangan statusnya sebagai suatu tanda artistik, karena ini telah menjadi peranan seluruh obyek. Senyuman sinis dari karya seniman Pop Art Amerika (Warhol) adalah suatu obligatory signs dari konsumsi: “It is not really clear in the end whether this ‘cool’ smile is the smile of humour or that of commercial complicity…it is not the smile of critical distance, but the smile of collusion. (CS: 121).
Menurut Baudrillard seluruh wacana tentang needs pada masyarakat konsumer adalah berdasarkan pada suatu antropologi yang naïve: yaitu sudah menjadi kodrat manusia untuk hidup bahagia atau selamat. Konsepsi yang spontan ini tidak berasal dari individu, melainkan berasal dari sejarah sosial sampai dengan masyarakat modern dengan apa yang disebut the myth of Equality menuju kepada happiness; hal ini merupakan kecenderungan masyarakat demokratik. Happiness kemudian dilepaskan dari sifatnya yang kolektif, menjadi prinsip individualistik yang tercermin dalam the Declaration of the Rights of Man and the Citizen yang secara jelas menyatakan hak untuk Bahagia bagi setiap orang. Prinsip demokratik kemudian dialihkan dari persamaan hak, kesempatan dan kesejahteraan sosial kepada persamaan didepan Obyek dan manifest signs of social success and happiness. Hal ini adalah democracy of social standing, demokrasi akan TV,
mobil, stereo dsb. (CS: 49-50). Atau dapat juga dikatakan bahwa setiap orang mempunyai need, the principle of satisfaction, use-value obyek yang sama, maka need menjadi index pada use-value – suatu relasi objective utility atau natural finality; tidak ada perbedaan diantara yang kaya dan miskin, semuanya menonton program TV yang sama, liburan, makan dan minum dsb.
Baudrillard juga mengkritisi sikap keras kepala dari versi ideal bahwa: growth means affluence; affluence means democracy. Fakta menunjukkan bahwa tidak ada affluent society melainkan growth society yang tidak makin dekat kepada affluent society, karena growth menangggung expenditure – sehingga selalu terdapat kemiskinan “… growth itself which is a function of inequality.” Seperti juga yang dikatakan oleh Baudrillard, bahwa:
The act of consumption is never simply a purchase (reconversion of exchange value into use value); it is also an expenditure (an aspect as radically neglected by political economy as by Marx); that is to say, it is wealth manifested, and a manifest destruction of wealth (FCPES: 113).

Terjemahannya:
Tindakan mengkonsumsi tidaklah sesederhana membeli sesuatu (rekonversi dari nilai tukar kepada nilai guna); ini juga merupakan biaya (suatu aspek yang secara radikal ditolak oleh ekonomi politikal seperti Marx); dapat dikatakan, ini adalah manifestasi kekayaan, dan manifestasi destruktif dari kekayaan.


2.4.Kritik Tanda pada Politikal Ekonomi
Hubungan manusia dengan konsumsi mempunyai nilai status yang hirarkis dalam suatu sistem ‘symbolic exchange’ ‘pertukaran

simbolik’ dimana institusi sosial telah menentukan perilaku sebelum disadari oleh aktor-aktor sosialnya. (FCPES: 31). Pada sistem ini, konsumsi menentukan status sosial seseorang – melalui obyek-obyek, setiap manusia dan kelompok mencari posisinya dalam tatanan sosial, dengan selalu mencoba berhubungan dengan tatanan ini sesuai dengan kecenderungan personal (FCPES: 38). Dalam arti ini tidak ada maksud untuk meletakkan suatu obyek empirikal (FCPES: 63) karena obyek hanya mempunyai arti dalam relasi penandaan.


2.4.1.Baudrillard dan teori politik: Marxisme, strukturalisme dan “the critique of everyday life”:

Pemikiran Baudrillard, pada periode 1968-1972, terutama dalam le système des objets (1968) -- referensi judul ini dengan kemungkinan menganalisa suatu “sistem” obyek ditarik dari dua tradisi teori sosial, yaitu teori Marxis tentang komoditas di masyarakat kapitalis dan analisa strukturalis tentang systems of social signification10. Relasi kedua teori ini dapat dijelaskan, bahwa: pada waktu paradigma strukturalis dan Hegelian dalam sejarah dianggap antitetikal dan secara epistemologis tidak dapat dipertukarkan, Baudrillard lalu memakai teknik analisa dari semiologi dengan tujuan memahami kategori dialektikal dari teori kritis, seperti exchange value, commodity fetishism, reification dan culture industry. Konsep kritikal terutama diambil dari tradisi Hegelian, terutama dari Marx dan “Marxis Barat” seperti Walter Benjamin dan Herbert Marcuse.


2.4.2.Fetishism ‘pemujaan’ komoditas dan teori reification ‘materialisasi’

Tahun 1970 an adalah fase dimana pemikiran Baudrillard dipengaruhi oleh pemikiran Marxisme. Pemikiran awalnya adalah “Consumer Society” sebelum ia pindah ke teori postmodern, misalnya:
a)Manusia dilingkupi oleh consumer goods ‘barang-barang industri’, sebagai individu manusia semakin fungsional dibawah pengaruh barang-barang tersebut.
b)Komoditas mengelompokkan dirinya kedalam systems of objects ‘sistem dari obyek’ yang menjadi pusat perhatian manusia.
c)Hal-hal yang membangkitkan kehidupan (pekerjaan, waktu santai, alam, kebudayaan) tidak dapat direduksi dan menghasilkan anxiety ‘kecemasan’. (Hal-hal ini bersifat tetap dan tidak dapat dikendalikan oleh manusia). Manusia larut dalam aktivitas sederhana, yaitu terus-menerus berbelanja. Baudrillard melihat pola konsumtif: Manusia menjadi obyek dari ilmu pengetahuan semenjak mobil sulit untuk dijual daripada di produksi.
Didalam “The Ecstasy of Communication” Baudrillard membuktikan bahwa use value of commodities ‘nilai guna komoditas’ mulai digantikan oleh sign value ‘nilai tanda’. Pada titik inilah Baudrillard meninggalkan Marxisme tradisional. Bagaimanapun Karya-karya di periode Marxisme nya tetap penting, karena ia menunjukkan bahwa pada saat masyarakat dan kebudayaan ditata disekitar produksi, maka sekarang mereka ditata disekitar konsumsi. Contohnya, Baudrillard membuktikan bahwa “Credit is a disciplinary process which extorts savings and regulates demands” ‘kredit (kartu kredit) adalah suatu proses disipliner yang menguras tabungan dan mengatur keinginan’.
Pada masalah-masalah false consciousness, terutama yang diwujudkan dalam theories of fetishism: Baudrillard mengkaji bahwa semiologi bukanlah suatu cara untuk menghapuskan mitologisasi dunia konsumer – semiologi adalah bagian dari masalahnya. Linguistik struktural dan semiologi adalah kapitalisme; kapitalisme memproduksi makna dan difference yang telah dimanipulasi. Selanjutnya dapat kita bandingkan bentuk komoditas (Marx) dengan linguistic sign form (Baudrillard), sebagai berikut:

Marx’s commodity form = economic exchange value (price)11
Use value (its utility)
Linguistic sign form = signifier (the object/image/sound)
Signified (concept/meaning)

Baudrillard berpendapat bahwa kedua struktur tersebut diatas dihubungkan dalam konsumsi. Konsumsi adalah muara dimana komoditas diproduksi sebagai suatu tanda dan tanda-tanda (kebudayaan) diproduksi sebagai komoditas-komoditas.
Baudrillard lalu menghancurkan ideologi akan kebutuhan dari Marx; dan bila needs dituding, maka demikian pula dengan use value dari suatu produk yang dianggap mempunyai makna. Lalu apakah artinya use value?
Marx menggunakan contoh Robinson Crusoe, dikarang oleh Daniel Defoe, untuk menunjukkan bahwa karakter mistikal dari komoditas tidaklah berasal dari use value. Manusia mengolah alam sedemikian rupa sehingga menjadi berguna. Marx menyatakan bahwa suatu produk adalah berguna sebelum apapun juga. Economic exchange lalu mengganggu relasi sosial (keuntungan = eksploitasi) dan penggunaan use value secara lugu seperti halnya Robinson Crusoe membuat komoditas menjadi manusiawi12. Hal ini menurut Baudrillard membuat Marx terjebak kedalam perangkap, yaitu Marx hanya menggaris bawahi myth of primary needs dari kaum borjuis, yang juga mengalahkan otonomi individual, manusia sebagai buruh yang tidak teralienasi dengan kesadaran moralnya terikat pada alam.
Karl Marx berpendapat bahwa komoditas selalu mempunyai dua aspek: use values dan exchange values. Menurut Marx tidak ada komoditas yang tidak mempunyai use value. Tetapi memang ada sesuatu yang mempunyai aspek use value tetapi bukanlah merupakan komoditas, karena komoditas juga mempunyai aspek exchange value. Exchange value dari suatu obyek tidak pernah intrinsik dari obyek.
Bagi Marx human-labour menciptakan nilai tetapi hanya sedikit yang diperoleh dari nilai tersebut. Akibatnya, exchange value, tidak seperti halnya use value, adalah suatu abstraksi. “The exchange of commodities is evidently an act characterized by a total abstraction from use value.” (Capital: 47). Exchange value tidak mempunyai hubungan dengan partikularitas dari obyek; ini adalah hal yang umum dari produk yang dihasilkan di masyarakat kapitalis – misalnya waktu kerja yang dibutuhkan untuk suatu produksi.(Capital). Akibat dari fakta ini adalah exchange value hanya dapat mengejewantah dalam hubungan sosial dari komoditas ke komoditas. Bila sistem exchange value mencapai otonomi, komoditas, yang merupakan bagian dari sistem kapitalis, akan muncul mengguncangkan.
Dalam tiga buku pertamanya, Baudrillard berpendapat bahwa Marxisme klasik membutuhkan tambahan teori semiologi yang berkenaan dengan sign ‘tanda’. Argumennya adalah, pertama, transisi dari tahapan awal kapitalisme dengan persaingan pasarnya membutuhkan perhatian terus-menerus terhadap manajemen kebutuhan (demand management), untuk melipat-gandakan dan mengendalikan konsumsi (JB 1973 dan Kellner 1989b). Pada tahapan ini, mulai tahun 1900 sampai dengan 1960 an, keinginan untuk mengintensifkan demand ‘kebutuhan’ disertai dengan menurunkan ongkos produksi, melipat-gandakan produksi dan sebagainya.
Pada era monopoli kapitalisme – pada saat konsentrasi pada ekonomi, teknik produksi baru, percepatan bagi produksi massa – kapitalis makin memusatkan perhatian kepada pertumbuhan dan manajemen konsumsi. Hasilnya adalah apa yang sekarang kita ketahui, yaitu masyarakat konsumer yang menjadi pusat perhatian karya-karya awal Baudrillard. Dalam masyarakat semacam ini, reklame, pengepakan, etalase, fashion, emansipasi seksualitas, mass-media dan kebudayaan, dan pertumbuhan yang cepat dari komoditas dilipat gandakan dengan signs ‘tanda-tanda’ dan spectacles ‘tontonan-tontonan’. Baudrillard berpendapat bahwa komoditas tidaklah disifatkan dengan use-value dan exchange value (Marx) melainkan “sign-value”; ekspresi seperti halnya gaya, prestis, kemewahan, kekuasaan, dan sebagainya, menjadi bertambah penting sebagai bagian dari komoditas dan konsumsi. Komoditas lalu dijajakan dan dibeli sebagai sign-value daripada use-value, dan fenomena sign-value menjadi esensi komoditas dan konsumsi pada masyarakat konsumer.

2.4.3.Empat logika obyek-obyek menurut Baudrillard (FCPES 66, 123):

Use-Value
Exchange Value
Symbolic Exchange
Sign-Value
functional
economic/
commercial
gift (Mauss)
consumption
practical operations
equivalence
ambivalence
difference
world
market
subject
other objects
instrument
commodity
symbol
sign
what the object does
what its worth
relation to subject
relation to other signs
fridge stores food
2 butter = 1 gun
wedding ring
fashion

Konsep need “kebutuhan” (sebagaimana dalam use-value domain) secara ideologis berfungsi menghasilkan suatu tautology dimana subyek ditentukan oleh obyek dan demikian sebaliknya. Legitimasi produk terletak pada kepastian bahwa masyarakat akan merasionalisasi konsumsi melalui konsep kebutuhan.
“And so it appears that this begging of the question -- this forced rationalization -- simply masks the internal finality of the order of production. To become an end in itself, every system must dispel the question of its real teleology,” (FCPES 71). "In other words, there are only needs because the system needs them," (FCPES 82).


Tindakan konsumsi (sign-value) tidaklah pernah semudah dengan purchase ‘membeli’ … melainkan juga suatu expenditure ‘biaya’ … it is wealth manifested, and a manifest destruction of wealth," (FCPES: 112). Economic exchange value (i.e., shekels) is transformed into sign exchange value based on "a monopoly of the code," (FCPES: 115).
Pada masyarakat konsumer Individual agency tidaklah relevan: Logika pertukaran adalah primordial. Dalam arti individual adalah nonexistent … semacam bahasa … adalah mendahului individual.
This language is a social form in relation to which there can properly speaking be no individuals, since it is an exchange structure ... Language cannot be explained by postulating an individual need to speak.... Before such questions can even be put, there is, simply, language -- not as an absolute, autonomous system but as a structure of exchange contemporaneous with meaning itself, and on which is articulated the individual intention of speech," (FCPES 75).

Seperti yang dikatakan sendiri oleh Baudrillard, bahwa:
"Marxism eliminates any real chance it has of analyzing the actual process of ideological labor. By refusing to analyze the structures and the mode of ideological production inherent in its own logic, Marxism is condemned ... to expanding the reproduction of ideology, and thus of the capitalist system itself ... The term 'fetishism' almost has a life of its own. Instead of functioning as a metalanguage for the magical thinking of others, it turns against those who use it, and surreptitiously exposes their own magical thinking," (FCPES 89-90).

Terjemahannya:
Marxisme membatasi kemungkinan menganalisa proses aktual dari buruh ideologikal. Dengan menolak menganalisa struktur dan cara produksi ideologikal yang terkandung dalam logikanya, Marxisme bersalah…karena mengembangkan reproduksi dari ideologi, dan berarti sistem kapitalis…istilah fetishism mempunyai kehidupannya sendiri. Bukannya berfungsi sebagai suatu meta-bahasa untuk berpikir magis tentang sesuatu, ia melawan siapapun yang menggunakannya, dan secara rahasia menyajikan cara berpikir magisnya.

Baudrillard berpendapat bahwa bukanlah passion ‘hawa-nafsu’ untuk obyek-obyek yang mendorong commodity fetishism, tetapi the passion for the code ‘hawa nafsu akan kode’ … ini adalah artikulasi fundamental dari proses ideologis: bukanlah proyeksi dari alienated consciousness ‘kesadaran yang terasing’ kepada berbagai ragam suprastruktur, melainkan kedalam generalisasi pada segala tingkatan dari suatu kode struktural (FCPES: 92). Maka ideologi bukanlah hasil dari pengelabuan kesadaran: ideologi adalah logika sosial yang mensubstitusi untuk yang lainnya (dan yang menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi), sehingga merubah segala definisi akan nilai (FCPES: 118). Adalah daya magis dari code yang membentuk “the keystone of domination” (FCPES: 119). Ideologi dapat pasang-surut dihadapan ekonomi. (FCPES: 144). Tautologi dari semiosis yang tak terbatas mengeluarkan hal-hal yang nyata – signified disahkan pada basis signifier dan demikian sebaliknya. Lingkaran ini adalah rahasia dari segala operasi metafisikal (ideologikal)… meja yang nyata tidaklah ada … bilapun ada, adalah karena sudah direncanakan, diabstraksi dan di rasionalisasi oleh pemisahan (decoupage) yang membentuk ekivalensi pada dirinya (FCPES: 155). Lalu, berkenaan dengan signification, Baudrillard berpendapat:

Signification, thus, is reification -- "All the repressive and reductive strategies are already present in the internal logic of the sign, as well as those of exchange value and political economy. Only total revolution, theoretical and practical, can restore the symbolic in the demise of the sign and of value. Even signs must burn," (FCPES 163).

Terjemahannya:
Signifikasi lalu merupakan reification – “Segala hal yang menekan dan strategi yang mereduksi sudah hadir dalam logika internal dari tanda, demikian juga halnya dengan pertukaran nilai dan ekonomi politikal. Hanya revolusi total, secara teoritis dan praktikal, dapat mengembalikan simbolika dengan kematian tanda dan nilai. Bahkan tanda harus dimusnahkan.

Menurut Baudrillard mass media haruslah dipelajari dalam artian bentuk dan bukan isinya; Frankfurters seperti halnya Brecht dan Enzensberger menyetujui bahwa media yang dianggap membebaskan melupakan bahwa mass media sarat dengan ideologi: “Ideologi tidaklah akan muncul begitu saja, sebagai wacana dari kelas yang dominan, sebelum ia disalurkan melalui media … ideologi media berfungsi pada tingkatan bentuk. Mass media memproduksi non-komunikasi (FCPES: 169) karena mereka “are what always prevents a response” , membuat semua proses pertukaran menjadi tidak mungkin … ini merupakan abstraksi yang nyata dari media. Dan sistem kontrol sosial dan kekuasaan berakar pada media. (FCPES: 170). Media tidaklah merupakan suatu cara yang utama bagi kontrol sosial, media adalah kontrol sosial; Adalah sia-sia untuk membayangkan proyeksi negara bagi enforcement of law melalui TV … karena TV sendiri merupakan kontrol sosial. Tidaklah perlu untuk membayangkan bagaimana negara memata-matai kehidupan pribadi seseorang --- situasi yang ada adalah lebih efisien daripada yang dibayangkan: bahwa tanpa keraguan dapatlah dikatakan bahwa manusia tidak berbicara satu sama lainnya, mereka secara pasti diisolasi berhadap-hadapan dengan pembicaraan tanpa tanggapan. (FCPES: 172). Graffiti hanyalah satu-satunya media subversif, karena ia tidak mempertentangkan satu code dengan yang lainnya, melainkan “simply smashes the code” (FCPES: 184).
Ekonomi politikal dibawah naungan utilitas … membentuk suatu sistem logis yang koheren, suatu kalkulus dari produktifitas dimana semua produksi dipecahkan kedalam elemen-elemen yang sederhana, dimana semua produksi adalah ekivalen dalam abstraksi. Ini merupakan logika dari komoditas dan sistem dari exchange value ‘pertukaran nilai’.
Ekonomi politikal dari sign ‘tanda’, dibawah naungan fungsionalitas … membentuk suatu cara signifikasi dimana semua ruang lingkup signs ‘tanda-tanda berlaku sebagai elemen-elemen sederhana dalam suatu kalkulus logikal dan berhubungan satu sama lainnya dalam kerangka sistem pertukaran nilai tanda. (FCPES: 191).

Denotation
Connotation
functional
parasitical
objective
ideological
truth
metaphysics/morality
beautiful
ugly
signified
signifier
nucleus of meaning
"residue, superfluity, excrescence," (196)

Tidaklah ada kebenaran tentang obyek, dan denotasi tidak lebih dari konotasi yang paling indah … fungsion(alitas) dari bentuk-bentuk, dari obyek-obyek, menjadi lebih tidak komprehensif, sulit untuk dicerna, tidak dapat dikalkulasi, keseharian. (196).




2.4.4.Diatas Use Value

Status use value dalam teori Marxian bersifat membingungkan. Kita mengetahui bahwa komoditas adalah exchange value (EV) dan use value (UV). UV selalu konkrit dan partikular, tergantung kepada tujuannya sendiri, baik itu dalam proses konsumsi individual maupun dalam proses produksi (dalam hal ini, lemak babi dihargai sebagai lemak babi, katun sebagai katun: masing-masing tidak dapat exchanged ‘dipertukarkan’). Dilain pihak EV adalah adalah abstrak dan bersifat umum. Untuk menentukan bahwa sesuatu itu adalah komoditas, adalah tidak penting untuk mengetahui kandungan dan tujuannya. Cukuplah dikatakan bahwa itu adalah komoditas yang mempunyai aspek EV – komoditas itu memuaskan kebutuhan sosial dengan memiliki properti yang berguna. Maka UV tidaklah lalu terkandung didalam logika EV, yang merupakan logika ekivalen. Disamping itu juga terdapat UV tanpa EV (seperti halnya juga kekuatan produksi diluar bidang pasar) – UV tidak pernah benar-benar tertera pada ekonomi pasar: UV mempunyai finalitas tersendiri, walaupun terbatas. Maka kelihatanlah bahwa commodity fetishism (dimana relasi sosial disembunyikan bagi kepentingan komoditas) bukanlah suatu fungsi dari komoditas yang serempak mempunyai nilai UV dan EV, tetapi hanya EV saja. UV pada analisis yang dibatasi pada fetishism, munvul bukanlah sebagai suatu relasi sosial maupun sebagai titik fetishisasi. Utilitas seperti ini meninggalkan determinasi historis dari kelas. Ia menampakkan suatu obyektifitas, relasi final dari destination propre ‘maksud intrinsik’, yang tidak menutupi dirinya dan yang sifat transparansinya, sebagai bentuk, menolak sejarah (bahkan bila isinya berubah terus menerus dalam kaitannya pada determinasi sosial dan kultural). Disinilah idealisme Marxian bekerja; Menurut Baudrillard disinilah kita harus lebih logis dari Marx – dan lebih radikal, dalam artian yang sebenar-benarnya. UV, bahkan utilitas adalah fetishized social relation, seperti halnya abstrak ekivalen dari komoditas. UV adalah suatu abstraksi; UV adalah abstraksi system of needs.
Hipotesis Baudrillard adalah needs are the equivalent of abstract social labor (FCPES: 131): diatasnya dibangkitkan sistem UV, seperti halnya abstract social labor adalah basis untuk sistem EV. Dalam hipotesis ini juga terkandung, bahwa untuk menjadi suatu sistem, UV dan EV harus diregulasi oleh suatu identical abstract logic of equivalence, suatu identical code. The code of utility adalah juga code of abstract equivalence dari obyek dan subyek (untuk setiap kategori dalam dirinya dan untuk kedua-duanya dalam suatu relasi): lalu, adalah suatu combinatory code yang melibatkan potential calculation. Lebih lanjut, adalah dalam dirinya, sebagai sistem, UV dapat di fetishized, dan tentunya tidak sebagai suatu operasi praktikal; ini selalu sebagai abstraksi sistematis yaitu fetishized.

2.4.5.5.Lelang Seni

Karya seni dan tempat pelelangannya merupakan kasus yang bagus untuk menguraikan proses dari ideological labor karena mereka berada dalam konteks kekuatan ekonomi dan wilayah kultural. Dalam pelelangan, suatu pertukaran tanda yang panas (sign wars), terdapat nilai-nilai: economic value, sign value dan symbolic value melebur berdasarkan aturan permainan, dapat dianggap sebagai matrix ideologikal -- suatu tempat sakral bagi political economy of the sign.
Merupakan pertanyaan tentang decoding lahirnya sign form seperti halnya Marx dapat mengungkapkan lahirnya commodity form dalam Critique of Political Economy. Dalam konsumsi pada umumnya, economic exchange value (uang) ditransformasikan kepada sign exchange value (prestis, dsb.): tetapi hal ini masih didukung oleh alibi use value. Jauh berbeda, pada pelelangan karya seni mempunyai karakteristik tertentu: bahwa economic exchange value (uang) ditukar untuk suatu pure sign yaitu lukisan. Proses menentukan harga dalam pelelangan adalah simultaneous double reduction -- yaitu exchange value (uang) dan symbolic value (tanda-tangan pada lukisan, menghargai seni sebagai luxury value dan obyek yang langka) dengan expenditure dan kompetisi yang ngotot, suatu sign wars.
Dalam expenditure, uang berubah maknanya. Fakta ini terbentuk pada pelelangan karya seni, yang dapat dialihkan kepada suatu hipotesa berkenaan dengan konsumsi pada umumnya. Tindakan mengkonsumsi tidaklah sesederhana sebagai membeli sesuatu (rekonversi dari exchange value ke use value): ini juga merupakan suatu expenditure (suatu aspek yang secara radikal ditolak oleh Marx). Jadi expenditure is wealth manifested, and a manifest destruction of wealth. (FCPES: 112).
Pada bidang ekonomi kemampuan mengakumulasikan, memiliki surplus value adalah merupakan hal yang esensil. Sementara pada bidang kebudayaan (sign), kemampuan menguasai expenditure lah yang paling menentukan, yaitu "… a mastery of the transsubstantiation of economic exchange value into sign exchange value based on a monopoly of the code". (FCPES: 115). Oleh karena itu tempat pelelangan seni, galeri dan museum bertindak seperti halnya juga bank -- kedua-duanya memutarkan signs. Bila bank menjamin nilai uang, maka galeri menjamin nilai dari suatu karya seni (sign).
Studi tentang lelang seni merupakan nucleum dari strategy of values, suatu momen strategis dan matrix dari proses ideologi, dan kemudian akan selalu merupakan produksi dari sign value dan coded exchange yang melampaui "beyond value (au-delà de la valeur)" segala kalkulasi ekonomi -- suatu upaya pratique 'praktis' untuk mematahkan teori ekonomi politik. (FCPES: 122).

2.4.5.6.Eskalasi Ekonomi Politikal ke Cyberblitz
Tidak semua kebudayaan memproduksi obyek: konsep ini asing bagi Barat, yang lahir dari revolusi industrial. Bahkan masyarakat industrial pun tidak mengenal obyek, melainkan produk. Obyek akan mulai hadir bila dalam pembebasan formalnya, sebagai suatu fungsi sign. Pembebasan ini sebagai akibat dari mutasi masyarakat industri menjadi techno-culture13 - atau dari metallurgic ke masyarakat semiurgic. Obyek akan muncul bila masalah finalitas maknanya, statusnya sebagai message ‘pesan’ dan sign, mulai melampaui statusnya sebagai produk dan komoditas. Mutasi ini sudah mulai terjadi pada abad 19, namun Bauhaus memperkuatnya dengan teori. Oleh karena itu melalui Bauhaus lah kita dapat menyatakan “revolusi obyek”. (FCPES: 185).
Bauhaus (1919-33) adalah aliran dalam senirupa, khususnya design, yang dicetuskan oleh Walter Gropius (1883-1969). Sebelum Bauhaus produk hanyalah merupakan kumpulan gaya-gaya tunggal yang tidak beraturan. Bauhaus melihat obyek sebagai signs dari teknologi. Design adalah code, yang menggantikan gaya pada abad 19. Bauhaus menyatakan semantisasi universal dari lingkungan – yaitu unilateral industrial aesthetic kepada keseluruhan lingkungan sebagai suatu makna14. Setiap obyek menjadi suatu ‘tanda’ dari fungsionalisme dan teknologi. Lalu segalanya menjadi obyek-obyek design: sendok, lampu, bangunan, kota, manusia, dan sebagainya.
Baudrillard menyebut perluasan revolusi industri kepada supra-struktur bentuk dan makna tersebut sebagai cyberblitz atau techno-culture. Lingkungan menjadi suatu signifier yang menciptakan signified baru: functionalism. Functionalism adalah alibi dari Bauhaus untuk mengunggulkan ‘kemurnian’ dari obyek dan untuk menyerang konotasi (makna yang ‘ditambahkan’ atau ‘salah’, seperti halnya ornamen atau dekorasi).

2.5.Cermin Produksi

Gagasan “produksi” dalam artian Marxis haruslah dikritik secara radikal. Kritik kepada konsumsi mencapai puncaknya pada perpanjangan komoditas, yaitu labor power ‘tenaga kerja’. Labor power bukanlah gagasan yang esensial dari potensi manusia (MP: 25); ia dihasilkan sebagai suatu konsep oleh ekonomi politikal. Hal ini merupakan kritik yang fundamental kepada Marxisme, seperti yang Baudrillard katakan, bahwa: Dalam hal ini Marxisme membantu kelicikan kapital. Marxisme meyakinkan orang bahwa mereka teralienasi oleh karena menjual tenaga produksinya, sehingga menutupi hipotesis yang lebih radikal, yaitu mereka dapat teralienasi sebagai tenaga produksi, sebagai tenaga yang tidak laku untuk menciptakan nilai dengan tenaganya. (MP: 31).
Sikap Marxis lalu menjadi problematik karena mengandaikan bahwa kapitalis memandang manusia sebagai mesin produksi. Perspektif radikal yang benar akan mengabaikan konstruksi ideologis mengenai produksi – dan dalam upaya menemukan suatu kenyataan diatas nilai ekonomi (yang pada faktanya hanya perspektif revolusioner), maka “the mirror of production in which all Western metaphysics is reflected, must be broken.” (MP: 47).
Marx berpendapat bahwa kritik agama sudah selesai setelah Feuerbach dan hanya kritik ekonomi politikal yang dapat menyelesaikan masalah agama dengan menggunakan dialektika yang benar. Today we are exactly at the same point with respect to Marx. For us, the critique of political economy is basically completed ‘kita sekarang berada pada satu titik persis seperti Marx pada waktu itu. Bagi kita, kritik ekonomi politikal secara mendasar sudah selesai’. Dialektika materialis telah menguras kandungannya dalam upaya untuk mereproduksi bentuknya. (MP: 51). Radikalisme baru ini mewarisi tidak hanya kritik ekonomi politikal tetapi kritik ekonomi politikal tentang sign ‘tanda’. Revolusi dalam ekonomi politikal ini menarik perhatian setiap orang, tidak perduli apapun juga kelasnya. (MP: 122-3). Dengan dominasi dari code, Marxisme tidak mampu berteori tentang praktek sosial yang total (termasuk juga bentuk yang paling radikal dari Marxisme) kecuali merefleksikannya dalam cermin dari cara-cara produksi. Marxisme tidak dapat mengarahkan kita kepada dimensi politik yang revolusioner. (MP: 152). Alienasi adalah salah: Sungguh suatu absurditas untuk beranggapan bahwa manusia adalah ‘other’, berupaya untuk meyakinkan manusia bahwa hasrat terdalamnya adalah untuk menjadi themselves ‘diri-sendiri’! Setiap manusia dengan sekejap sudah ada disana demikian pula halnya dengan masyarakat. (MP: 166).
Mereduksi Marxisme sepanjang buku ini, suatu reduksi yang habis-habisan dan variasi-variasi deterministik, misalnya Lenin dan Althusser. Dalam karya ini Baudrillard mulai tergelincir kedalam nihilisme, atau apa yang dikatakan Douglass Kellner sebagai “hypercriticism”: "more critical than critical, and reminiscent of the 'critical criticism' of the Young Hegelians attacked by Marx," (JBMB 53).







Bab 3
Periode Simulasi

3.1.Pendahuluan

Walaupun Baudrillard bukanlah perintis dari wacana postmodernism, namun dalam karya-karyanya sekitar pertengahan 70 an sampai dengan sekarang nampak dengan jelas pemikirannya yang ekstrim dengan paradigma teori sosial postmodern.
Baudrillard berpendapat bahwa sekarang kita memasuki suatu tahapan baru dalam sejarah, yaitu suatu dunia simulasi, media, informasi, DNA, satelit, terorisme, cloning, postmodern art dan sebagainya – hal ini membuat Critical Theory menjadi usang.
Tesis utama Baudrillard berkenaan dengan teori sosial posmodern adalah apa yang ia sebut “RADICAL SEMIURGY, the production and proliferation of signs, has created a society of SIMULATIONS governed by IMPLOSION and HYPERREALITY.”15 Dalam hal ini Baudrillard menunjukkan akhir dari jaman modern dan masuk ke jaman simulasi. Modernitas adalah jaman produksi yang dikendalikan oleh kaum industrial borjuis, dan jauh berbeda, jaman simulasi adalah jaman informasi dan tanda yang dikendalikan oleh models, codes dan cybernetics.


3.2.Pertukaran Simbolik dan Kematian
L’échange symbolique et la mort, terbit di Perancis tahun 1976, diterjemahkan kedalam bahasa Inggris sebagai Symbolic Exchange and Death, tidak diragukan lagi merupakan karya Baudrillard yang terpenting; sejajar dengan karya-karya Claude Lévi-Strauss dan Michel Foucault dari penerbit Gallimard yang bergengsi, serial Bibliothèque des Sciences Humaines. Baudrillard, dengan alasan yang beragam, sering diasosiasikan dengan postmodernism, bahkan ia dianggap salah satu tokoh terpentingnya – walaupun sebenarnya hubungan Baudrillard dengan postmodernism tidaklah baik. Buku Symbolic Exchange and Death menjelaskan posisi Baudrillard yang berbeda dengan postmodernism.16
Posisi teoritis Baudrillard dalam buku ini nampak mendua; disatu sisi ia menekankan pentingnya peran kaum proletar dan disisi lainnya ia menekankan lebih pentingnya tatanan simbolik yang lebih radikal dengan basis primordial, bila dibandingkan dengan kebudayaan semiotik. Symbolic Exchange and Death diilhami oleh Marcel Mauss berkenaan dengan gift-exchange – buku ini merupakan awal dari pertentangan yang panjang diantara tatanan simbolik dengan semiotik. Seperti yang ia katakan sendiri, bahwa: “… Saussure’s anagrams and Mauss’s gift-exchange, assume cardinal importance… this hypotheses are more radical than Marx’s or Freud’s, whose interpretations are censored by precisely their imperialism.” (Death: 1). Menurut Baudrillard analisis Marx tidaklah cukup radikal, bahwa bukannya use-value yang harus dihadapkan dengan exchange-value, melainkan symbolic exchange lah yang seharusnya dihadapkan dengan commodity exchange.17
Tesis pertama Baudrillard berkenaan dengan hakekat kapitalisme modern, tidaklah dipandang sebagai cara produksi melainkan sebagai suatu code yang didominasi oleh structural law of value, yaitu proses dari political economy of the sign. Seperti halnya Weber, Baudrillard menekankan pada fakta bahwa perkembangan masyarakat modern tidaklah menentu dan beragam. Proses ini pertama-tama menyerang kesenian, politik, kebudayaan dan terakhir ekonomi. Ekonomi, setelah melampaui suatu tahapan yang spesifik dari simulasi yang dikenal dengan cara-cara produksi kapitalis (misalnya: tahapan pabrik), mengalami logika ironis semenjak cara-cara produksi berbalik dan mulai menghancurkan hirarki basis dan supra-struktur, produksi, reproduksi, buruh dan kapital.18
Terdapat dua argumen yang harus dijelaskan. Pertama adalah argumen berkenaan dengan hakekat perubahan dari cara-cara produksi kapitalis dan kedua argumen berkenaan dengan relasi diantara tatanan simbolik dengan kapitalisme. Pertama adalah kehancuran ekonomi alamiah dari pertukaran simbolik primitif; bagi Baudrillard masyarakat primitif tidak memiliki cara-cara produksi – hanya kapitalisme industrial lah yang memilikinya. Namun, ketika structural law of value menyerang elemen-elemen dari sistem, code menjadi penentu dan mengakhiri dialektika diantara produksi dan konsumsi. Baudrillard menciptakan ironi dari Marx versi Althusser, bahwa reproduksi (pertentangan kelas) merupakan penentu dalam sejarah; Baudrillard berpendapat bahwa ketika reproduksi menjadi pekerjaan yang utama dan produksi berubah artinya, maka mereka kehilangan finalitasnya, yaitu, mereka kehilangan rasionalitasnya sebagai pekerjaan yang bermanfaat -- ketika produksi menjadi reproduksi bagi kepentingan reproduksi itu sendiri. Gagasan ini tercermin pada masyarakat Barat, yaitu ketika semua elemen-elemen dipengaruhi, ketika kaum proletar terlibat pada tatanan sosial; serikat dagang, pemogokan, revolusi Mei ’68 kehilangan claim nya akan keadilan dan radikalitas.
Argumen kedua adalah berkenaan dengan tatanan simbolik dalam sistem kapitalis. Gagasan Baudrillard dalam buku ini tidaklah dapat disederhanakan sebagai proses ideologis reduksi simbolik oleh semiotik, tetapi juga mengandung gagasan tentang irruption ‘kejutan’ simbolik kedalam semiotik. Challenge ‘tantangan’ dan stake ‘tonggak’, menurut Baudrillard, adalah suatu dimensi ‘immanent in the code’. Seperti yang Baudrillard katakan, bahwa:
“Every stake is symbolic. There have only ever been symbolic stakes. This dimension is etched everywhere into the structural law of value, everywhere immanent in the code.” (Death: 39). Dalam analisanya Baudrillard menjelaskan bagaimana kaum kapitalis menghadiahkan pekerjaan kepada kaum proletar. Karena kaum proletar tidak dapat menolak dan mengembalikan pemberian ini, maka kaum proletar tidak dapat menahan kekuatan kaum kapitalis – ini terbukti dengan kaum kapitalis yang tidak menjadi melemah. Baudrillard menyatakan bahwa tidak ada yang dapat menolak kewajiban simbolik, bahkan dengan sistem itu sendiri: terorisme, penyanderaan, jihad, adalah tantangan terhadap sistem dan masuk kedalam tatanan simbolik. Ringkasnya, strategi pemikiran Baudrillard adalah tantangan fundamental terhadap sistem semiotik, yaitu dalam bentuk suatu gift ‘hadiah’ yang tidak dapat dikembalikan.

3.2.1.The Principle of Reversibility (the counter-gift)

Baudrillard berpendapat bahwa symbolic exchange tidak lagi menjadi prinsip yang menata masyarakat modern. Simbolika hanya membayangi institusi modern dalam bentuk kematiannya; simbolika menjadi dambaan terus menerus dan yang ditahan oleh the law of value. Marx dengan revolusinya berupaya untuk mengatasi the law of value, namun menjadikan revolusinya sesuai dengan Hukum. Psikoanalisa pun berupaya demikian dengan ketidak sadaran individu, sehingga mereduksinya dibawah the Law of Father, kepada ketakutan akan pengebirian dan Signifier. Selalu berkenaan dengan Law ‘Hukum’.
Baudrillard berpendapat bahwa teori anagram dari Saussure dan gift-exchange dari Mauss lebih penting dari teori Marx dan Freud. Ketika Freud mengajukan teori tentang death drive, ini adalah seperti anagram dan gift, namun kita telah meradikalisasinya melawan Freud sendiri. Jadi kita melawankan Mauss dengan Mauss, Freud dengan Freud dan Saussure dengan Saussure. The principle of reversibility (the counter-gift) harus diterapkan melawan semua interpretasi ekonomistik, psikologistik dan strukturalis yang telah dirintis oleh Mauss. Anagram nya Saussure harus dilawankan dengan linguistiknya Saussure, bahkan dengan hipotesa anagram nya yang terbatas. Death drive nya Freud dilawankan dengan psikoanalitiknya, bahkan dengan versi death drive nya Freud.
Harga yang dibayar oleh paradox dan kekerasan terhadap teori tersebut diatas, kita menyaksikan suatu prinsip fungsional yang secara mandiri berada diluar dan antagonistik terhadap our economic ‘reality principle’. (Death: 2).
Reversibility, cyclical reversal and annulment mengakhiri linearitas waktu, bahasa, pertukaran ekonomi, akumulasi dan kekuatan. Reversibilitas gift dan counter-gift, reversibilitas exchange dalam sacrifice, reversibilitas waktu dalam lingkaran, reversibilitas produksi dalam penghancuran, reversibilitas kehidupan dalam kematian, dan reversibilitas setiap istilah dan nilai dari langue dalam anagram.


3.2.2.Akhir dari Produksi dan Kematian Buruh

Menurut Baudrillard, Barat sekarang berada pada akhir produksi. Argumennya adalah, tidak ada yang diproduksi, segalanya diperoleh dari Yang Maha (Tuhan) atau alam. Nilai memancar dari Yang Maha Kuasa atau kualitas alam. Kita lalu bertanya apakah ada hukum nilai yang asli – bila adapun hukum, bertentangan dengan hukum komoditas, adalah suatu natural law of value.
Natural law of value kemudian dimutasi menjadi nilai hukum komoditas, yaitu semenjak nilai diproduksi secara rasional, terukur dengan konsekwensinya sebagai surplus-value.
Pada saat ini, dijaman hyper-capitalist, kita telah meninggalkan nilai hukum komoditas dan masuk ke nilai hukum struktural, bersamaan dengan penghapusan bentuk sosial yang dikenal sebagai produksi. Nilai hukum struktural dalam bentuknya yang murni tidaklah berkaitan dengan kelas yang dominan, kekuasaan, tanpa kekerasan dan darah, masuk ke signs yang mengelilingi kita.
Pada saat ini buruh tidak lagi produktif melainkan menjadi reproduktif, yang merupakan kebiasaan umum dari masyarakat yang tidak tahu lagi apa yang harus diproduksi. Pathos pertumbuhan telah mati, karena tidak lagi ada orang yang mempercayai akan adanya pathos produksi. Buruh kemudian hanyalah merupakan suatu ritual sosial (affectation), refleks, moralitas, konsensus, regulasi, sebagai prinsip realitas – sebagai rituals dan signs. Buruh yang merupakan energi dan substansi, kemudian mempunyai peran baru sebagai model dari simulasi sosial, dan membawa semua kategori-kategorinya kedalam wilayah aleatory dari code. (Death: 11).
Tenaga buruh ditata dalam kematian. Seseorang haruslah mati dulu sebelum menjadi tenaga buruh. Ia menukar kematiannya dengan upah. Pemaksaan kapital terhadap buruh dalam padanan diantara upah dan tenaga tidaklah ada artinya dibandingkan dengan kekerasan simbolik yang dipaksakan pada buruh dengan definisinya sebagai daya yang produktif. Kemungkinan padanan kuantitatif yang terbesar adalah mensyaratkan kematian dari buruh – menjadi buruh adalah mati dengan perlahan-lahan. Kematian ini bukanlah fisikal, melainkan netralisasi timbal balik diantara kehidupan dan kematian dalam sur-vival, atau death deferred ‘penundaan kematian’. Jadi satu-satunya kemungkinan bagi buruh, bukanlah waktu bebas atau liburan, melainkan sacrifice ‘pengorbanan’. (Death: 39).
Kemudian hubungan buruh, upah dan kapital dapat dijelaskan sebagai berikut:
kerja upahan bukanlah eksploitasi, melainkan diberikan oleh kapital;
upah tidaklah dirampas dari kapital, melainkan kapital lah yang memberikannya – kapital tidak membeli tenaga buruh, melainkan ia membeli kembali kekuatan kapital.
kematian perlahan-lahan dari buruh tidaklah berlangsung lama – ini merupakan usaha yang sia-sia, suatu tantangan bagi kapital yang telah memberikan pekerjaan dan upah yang tak dapat dikembalikan oleh buruh.
jawaban satu-satunya yang efektif bagi kekuasaan adalah dengan membalas budi, dan ini hanya mungkin secara simbolis melalui kematian.

3.2.3.Tiga tahapan Simulacra

Terdapat tiga tahapan simulacra yang berjalan seiring dengan suksesi mutasi hukum nilai, yang terjadi semenjak jaman Renaisans:
Counterfeit adalah skema dominan dari periode klasikal, dari jaman Renaisans sampai dengan Revolusi Industri.
Production adalah skema dominan dari era industrial
Simulation adalah skema dominan dari fase yang diatur oleh code dewasa kini.
Mendahului tiga tahapan modern tentang simulacrum diatas, Baudrillard meletakkan dunia arkaik primitif dan masyarakat feodal, dimana tanda dengan jelas terikat dengan tatanan sosial yang kaku, kasta, status atau peran. Ini adalah dunia yang sarat emosional, dunia symbolic exchange and seduction. Hidup di dunia diterima sebagai suatu ilusi, dan tidak terdapat masalah dengan realitas. Pada bagan dibawah ini dapat dengan jelas perbedaan diantara jaman arkaik dengan jaman Renaisans.

Archaic/Feodal
Renaissance
Feudal
Bourgeois
no class mobility
class mobility
no fashion
fashion
obligatory sign
restricted sign
emancipated sign:
free production of signs
ceremonial
counterfeit
symbolic order
arbitrary sign:
- counterfeit the symbolic order
- simulacrum of symbolic obligation
- simulacrum of a ‘nature’
no forgery
forgery: stucco


Dalam buku ini Baudrillard sepenuhnya meninggalkan Marxisme dan masuk kedalam dunianya, “radical semiurgy”, dominasi total oleh the code of sign-exchange. Marxisme, semiotik, antropologi, dan psikoanalisa tidak ada artinya bagi kritik revolusioner sampai mereka dibalikkan melalui the logic of reversibility dan simulasi.
Kode merupakan prinsip organisasi yang utama dari entitas sosial – Perhatian kita tidak lagi kepada “mode of production” melainkan kepada “code of production.” Ideologi telah mati: Pada saat ini seluruh sistem mengambang dalam ketidak pastian. Realitas diserap oleh hiperrealitas dari kode dan simulasi. Sekaranglah saatnya bagi prinsip simulasi, dan bukannya realitas yang mengatur kehidupan sosial. Finalitas telah sirna; Sekarang kita disebabkan oleh model-model. Tidak ada lagi apa yang disebut dengan ideologi; yang ada hanyalah simulacra. (Death: 2). Suksesi tiga tahapan simulacra dibawah ini, merupakan tahapan material dalam sejarah, yang masing-masing dipisahkan oleh suatu revolusi (ini adalah yang sebenar-benarnya revolusi (Death 3):

Trinitas Revolusi yang lengkap
Counterfeit
Production
Simulation
Rennaissance
Industrial Revolution
Bauhaus:
techno culture/cyberblitz
natural laws
forces/tensions
structures and binary oppositions:
DNA, digital
metaphysics of being and appearances
metaphysics of energy and determinacy
metaphysics of indeterminacy and the code
tradition
avant-garde
mass culture
Shakespeare
Brecht/Jarry
Warhol
meaning is fixed
logic of equivalence
logic of ambivalence/reversibility
revolution
revolution
catastrophe
class
class
mass
sign = referent
sign exchanged for referent
sign exchanged for sign
religion
labor power
code
God/nature
ideology
simulacra


Setiap revolusi adalah total; pada tahapan ketiga dari wacana, tahapan kedua (misalnya Marxisme) sudah tidak relevan lagi. Metafisika kode hanya dapat dikalahkan oleh kematian. “This is why the only strategy is catastrophic, and not dialectical at all. Things must be pushed to the limit, where quite naturally they collapse and are inverted.” (Death: 4). ‘Itulah sebabnya mengapa satu-satunya strategi adalah catastrophic, dan sama sekali tidak dialektis. Segalanya didorong ke batasnya, dimana segalanya secara alamiah collapse ‘berantakan’ dan inverted ‘berbalik kedalam.’ Signs ‘tanda’ sendiri membentuk "the purest and most illegible form of social domination” ... sepenuhnya diserap, tanpa ada ceceran darah, dalam signs yang mengelilingi kita … suatu kekerasan simbolis ada dimana-mana terukir dalam signs, termasuk signs dari revolusi. (Death: 10). Benjamin dan Mcluhan menganggap bahwa tehnik bukanlah suatu kekuatan produksi (dimana analisa Marxis selalu dalam perangkap) tetapi sebagai medium, sebagai bentuk dan prinsip dari suatu keseluruhan generasi baru dari makna. Bahwa suatu obyek dapat direproduksi, itu saja merupakan suatu revolusi … simulacra melampaui sejarah. (Death: 62). Logika binarisme adalah kita hidup dalam mode referendum, dan ini disebabkan tidak ada lagi referensi. Semua signs dan messages … dihadirkan dalam format pertanyaan/jawab. Sistem komunikasi berkembang dari sintaksis bahasa ke sistem sinyal binari. (Death: 62). Komunikasi secara holistik menyusun konsep berdasarkan suatu logika struktural:

… the great Culture of tactile communication, under the sign of techno-lumino-kinetic space and total spatio-dynamic theatre! A whole imaginary based on contact, a sensory mimicry and a tactile mysticism, basically ecology in its entirety, comes to be grafted on to this universe of operational simulation, multi-stimulation and multi-response. (Death: 71)

Alternatif terjemahan:
"The culture of tactile communication is in fact burgeoning in the techno-lumino-kinetic space provided by this total, spatio-dynamic theater. It brings with it a kind of contact Imaginary, a sensorial mimeticism, a tactile mysticism that grafts onto the universe of operational simulation, multistimulation, and multiresponse like an entire system of ecological concepts," (JBSW 144).

Hiperrealitas: Dari medium ke medium, realitas di uapkan, menjadi suatu alegori dari kematian. Realitas juga mempercepat kehancurannya sendiri. Realitas menjadi reality for its own sake, the fetishism of the lost object: tidak lagi menjadi representasi obyek, melainkan ekstasi pengingkaran dan ritual kebinasaannya sendiri: hiperrealitas … hiperrealitas … menghapuskan kontradiksi diantara realitas dan khayali. Non-realitas tidak lagi berada dalam mimpi atau fantasi, tetapi didalam real's hallucinatory resemblance to itself," (Death: 71-2).
Hiperrealitas juga membuat kita pening:
“… the barriers of representation rotate crazily, an implosive madness which, far from being ex-centric, keeps its gaze fixed on the centre, on its own abyssal repetition. (Death: 73-4)
Alternatif terjemahan:
"the whirlgig of representation goes mad, but with an implosive insanity which, far from being ex-centric, casts longing eyes at the center, towards its own repetition en abime," (JBSW: 146).


3.3.Massa yang Bungkam
Massa adalah suatu konsep yang diciptakan oleh simulasi. Dapatlah dipertanyakan pada fakta yang aneh, bahwa setelah sekian revolusi dan seratus atau atau duaratus tahun pengalaman politik, … masih ada … ribuan orang yang sadar dan duapuluh juta orang yang “pasif” – tidak hanya pasif, bahkan tidak pula bertanya kepada dirinya, mengapa lebih suka menonton sepak bola dibandingkan dengan drama manusia dan politik? … kekuasan tidak memanipulasi apapun, massa tidak diselewengkan maupun dikacaukan pikirannya.
Kekuasaan hanya terlalu senang melihat sepak bola memperoleh tanggapan yang lancar, bahkan mengambil kesempatan diabolikal untuk membodohi massa.
Power is only too happy to make football bear a facile responsibility, even to take upon itself the diabolical responsibility for stupefying the masses. This comforts in its illusion of being power, and leads away from the much more dangerous fact that this indifference of the masses is their true, their only practice, that there is no other ideal of them to imagine, nothing in this to deplore, but everything to analyze as the brute fact of a collective retaliation and of a refusal to participate in the recommended ideals, however enlightened," (Shadow: 13-14).

"The only referent which still functions is that of the silent majority. Semua sistem kontemporer berjalan pada entitas nebula ini, pada substansi yang mengambang yang eksistensinya tidak lagi sosial, melainkan statiskal, dan satu-satunya cara kehadirannya adalah dari survei … Mereka tidak mengekspresikan dirinya melainkan disurvei (Shadow: 19-20). Kini segalanya sudah berubah: tidak ada lagi kekurangan suplai makna, makna diproduksi dimanapun juga, dalam jumlah yang selalu bertambah – hanya permintaannya yang melemah. The production of this demand for meaning which has become crucial for the system. Tanpa hal ini … kekuasaan tidak lain hanya suatu simulakrum kosong dan suatu efek yang terkucil dari perspektif. (Shadow: 27).
Massa “menyerap” semua energi sosial, tetapi tidak lagi membiaskannya. Massa menyerap segala sign dan makna, tetapi tidak lagi memantulkannya. Massa menyerap semua pesan dan diringkasnya. Setiap pertanyaan yang diajukan dijawab melingkar dan tautologikal … massa itu bebal seperti binatang. Walaupun sudah diteliti sampai matinya … massa tidak mengatakan apakah kebenaran itu kekiri atau kekanan, atau apakah massa memilih revolusi atau represi. Massa hidup tanpa kebenaran dan tanpa akal. Massa telah mendapat julukan yang mengada-ada. It is without conscience and without unconscious (Shadow: 28-9). Sudah menjadi anggapan bahwa hal ini merupakan ideologi dari mass media – mass media lah yang melingkupi massa. Rahasia memanipulasi [makna] diupayakan oleh mass media dalam semiologi yang kalut. Tetapi hal ini berlebihan, dalam logika komunikasi yang naif, bahwa the masses are a stronger medium than all the media, massa lah yang melingkupi dan menyerap mass media – atau paling tidak tidak ada prioritas dari yang satu dengan yang lainnya. Massa dan media adalah suatu proses yang tunggal. Mass(age) is the message (Shadow: 44). Massa mengetahui bahwa tidaklah ada apa yang disebut dengan kemerdekaan, bahwa a system is abolished only by pushing it into hyperlogic, by forcing it into an excessive practice which is equivalent to a brutal amortization. Kamu ingin mengkonsumsi – OK, mari kita selalu mengkonsumsi lebih banyak lagi, apapun juga; untuk segala hal yang tidak berguna dan tujuan yang absurd (Shadow: 46). Massa dan terrorism adalah "the most radical, most intense contemporary form of the denial of the whole representative system," (Shadow: 52).
“Libidinal economy” dari Lambasts Lyotard dan “micropolitics of desire” dari Deleuze & Guattari dapat dikatakan dengan kasar: “But take care! Out of this private and asocial universe,” ... ada yang akan membuat suatu sumber energi revolusioner (khususnya versi seksual dan desire). Mereka ingin memberikannya makna dan menanamkan kembali banalitasnya, sebagai historical negativity.

Exaltation of micro-desires, small differences, unconscious practices, anonymous marginalities. Final somersault of the intellectuals to exalt insignificance, to promote non-sense into the order of sense. And to transfer it back to political reason. Banality, inertia, apoliticism used to be fascist; they are in the process of becoming revolutionary -- without changing meaning, without ceasing to have meaning. Microrevolution of banality, transpolitics of desire -- one more trick of the 'liberationists'. The denial of meaning has no meaning," (Shadow: 40-1).

The "social" no longer exists, (Shadow: 65-84). Oleh karena itu sosialisme menjadi tidak mungkin: Masyarakat yang ada pada tahapan kedua dari simulacra, bahkan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk dihasilkan pada tahapan ketiga dari simulacra: from the beginning it is trapped in its own 'blown up' and desperate staging, in its own obscenity. Sign dari hiperrealisasi ini, signs dari reduplikasi dan antisipasi pemenuhan dirinya terdapat dimana-mana. Transparansi hubungan sosial dijajakan, signified, dikonsumsi dimana-mana. Sejarah sosial tidak pernah mempunyai waktu untuk revolusi: it will have been outstripped by signs of the social and of revolution. Masyarakat tidak pernah akan mempunyai waktu untuk sosialisme, it will have been short-circuited by the hypersocial, by the hyperreality of the social (barangkali sosialisme tidak lebih dari hal ini). (Shadow: 85).
Informasi itu JELEK: informasi menghancurkan makna dan signifikasi (Shadow: 96); berdasarkan dua alasan: 1. "Bukannya menyebabkan komunikasi, it exhausts itself in the act of staging ‘adegan’ komunikasi; bukannya menghasilkan makna, informasi menguras dirinya dalam adegan makna," (Shadow: 97-8). 2. "Dibelakang adegan komunikasi yang makin buruk ini, masmedia, dengan tekanannya akan informasi, carries out an irresistable destructuration of the social," (Shadow: 100). “Maka informasi melarutkan makna dan sosial kedalam situasi nebulous ‘kekeruhan’ yang membawa ke total entropy. Oleh karena itu media tidak membawa kepada sosialisasi, melainkan sebaliknya: the implosion of the social in the masses; dan ini hanya merupakan perpanjangan makroskopik dari implosi makna pada derajat tanda.(Shadow: 100). Impact, fascination: "Beyond meaning, there is fascination, which results from the neutralization and implosion of meaning," (Shadow: 104)
Juga, Medium adalah Medium! “tidak hanya implosi makna saja dalam medium; pada saat yang bersamaan terjadi juga implosi medium pada kenyataan, implosi medium dan kenyataan dalam nebulous hyperreality. (Shadow: 101). Ringkasnya medium adalah pesan yang menandakan tidak hanya akhir dari pesan, melainkan juga akhir dari medium.


3.4.Rayuan yang Menghanyutkan
“Seduction is what seduces, and that’s that”. ‘Rayuan adalah apa yang merayu, demikianlah’. (Ecstasy: 57).
Rayuan dalam agama merupakan strategi iblis, apakah itu dalam sihir maupun cinta -- selalu merupakan rayuan setan atau dunia. Rayuan dalam psikoanalisa dikenal dengan “liberation of desire” ‘pembebasan naluri’. Pada abad delapan belas, yaitu jaman aristokratik, rayuan masih dikenal namun dengan valour ‘kesatriaan’ dan honour ‘kehormatan’. Revolusi kaum borjuis – seperti revolusi apapun juga berupaya mengakhiri rayuan; namun seperti apa yang Foucault katakan, bahwa seksualitas muncul dari suatu proses produksi – maka tidaklah mengherankan bahwa kini rayuan semakin menjadi-jadi. (Ecstasy: 1).
Rayuan tidaklah termasuk kedalam tataran nature ‘kodrati’, melainkan ke artifice ‘kelihaian’ – tidak termasuk kedalam tataran energi, melainkan kedalam sign dan ritual. (Ecstasy: 2).
Challenge ‘tantangan’ dan bukannya desire ‘hasrat’ berada dijantungnya rayuan. Bila hasrat hanya dapat mengatasi hukum pertukaran, maka rayuan lebih jauh dari sekedar prinsip kesenangan, membawa kita keluar dari prinsip realitas. (Ecstasy: 58).
Rayuan tidaklah dipertentangkan dengan produksi, namun rayuan adalah yang merayu produksi – demikian juga halnya feminin tidak dipertentangkan dengan maskulin, namun feminin merayu maskulin; keburukan tidak dipertentangkan dengan kebaikan, namun keburukan merayu kebaikan. (Ecstasy: 58). Dalam kosmogoni kuno, air, tanah, api dan udara bukanlah elemen-elemen yang berbeda – namun elemen-elemen tersebut mempunyai daya tarik terhadap yang lainnya: air dirayu oleh api, api merayu air. (Ecstasy: 58-59).
Sign dari rayuan tidaklah menandakan apapun; rayuan masuk kedalam tataran elips, short circuit ‘aliran listrik pendek’, dan le trait d’esprit ‘flash of wit’ ‘humor cerdik yang spontan’. (Ecstasy: 60).
Terdapat kekacauan diantara distinctive sign dan discursive sign, yang pertama adalah linguistik, dan yang lainnya adalah sign, mark (le trait). Linguistik selalu gagal untuk menangkap apa yang merayu kita dalam sebuah puisi, cerita maupun dalam humor. (Saussure merasakan rayuan dalam “Anagrammes”; namun pada saat itu ia seorang ahli anagram, dan bukan ahli semiotik maupun linguistik – ia menolak the immanent reversibility of the sign, yang dalam puisi menyebabkan bahasa mengkonsumsi dirinya dalam detour ‘jalan yang menyimpang’. (Ecstasy: 60).
Psikoanalisa juga telah gagal untuk menjelaskan rayuan berkenaan dengan neurosis, mimpi, latah, kegilaan – hal ini disebabkan karena rayuan tidaklah termasuk kedalam tataran fantasi, represi maupun hasrat – psikoanalisa hanya melihatnya sebagai simptom. (Ecstasy: 60-61).
Rayuan juga lebih dari sekedar sign – seperti dalam gaze ‘tatapan’ yang kekuatannya bukanlah dalam pertukaran, melainkan double moment ‘momen ganda’, langsung dan tanpa dapat dipahami. Rayuan hanya mungkin dalam giddiness of reversibility (juga hadir dalam anagram), yang membatalkan kedalaman dan makna: superficial giddiness, superficial abyss. (Ecstasy: 61-62).
Ruang gerak rayuan adalah pada permukaan dan penampakan. Pada rayuan, rahasia kehilangan maknanya, dan hanya apa yang kelihatan mempunyai nilai bagi kita. Hal ini tidak berarti kita kekurangan makna, bahkan sebaliknya makna yang bertubi-tubi membunuh kita. (Ecstasy: 63).
Tidak ada yang lebih merayu daripada rahasia – sifatnya yang menantang dan le trait d’esprit. Sebagaimana halnya rayuan dan rayuan menantang tataran produksi, maka rahasiapun menantang kebenaran dan pengetahuan. (Ecstasy: 64).
Walaupun sedemikian kerasnya upaya kaum materialis, produksi tetaplah suatu utopia, “THERE IS NEVER ANYTHING TO PRO-DUCE”. Hal ini dapat dimengerti bahwa rayuan, seperti halnya sihir, mempunyai prinsip reversibility yang mensyaratkan bahwa apa yang telah diproduksi harus dihancurkan, dan apa yang nampak harus dihilangkan. (Ecstasy: 64-72).
Dalam agama pun, dosa asal haruslah digantikan dengan original seduction ‘rayuan asal’. (Ecstasy: 64-72).

3.4.1.Rayuan dan Peraturan

Rayuan adalah sekaligus permainan dan juga takdir (fate). (Seduction: 131). Rayuan pada hakekatnya adalah suatu game of appearances diantara obyek-obyek atau subyek dengan obyek – suatu proses melingkar diantara tantangan, persaingan dan kematian. Teori rayuan ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari Symbolic Exchange and Death dan teori destruction dari Bataille. Rayuan adalah suatu permainan pertukaran timbal-balik yang terus menerus – dan tidak hanya dalam sex saja. Rayuan dapat berakhir dalam sex, tetapi juga dapat menguras dirinya dalam pelanggaran dan kematian.
Permainan patuh kepada rules ‘peraturan’ (dibedakan dengan law ‘hukum’). Permainan menciptakan ritual obligation, seperti juga dalam challenges – adalah tidak sportif untuk meninggalkan suatu permainan. Dalam permainan tidak ada kata dialektika kehendak bebas yang terkait dengan realitas dan law ‘hukum’. Peraturan tidak mempunyai dasar kepercayaan, psikologikal dan metafisika. Seseorang tidaklah harus mempercayai maupun mengingkari suatu peraturan – cukuplah dengan mengamatinya. (Seduction: 133).
Permainan bersifat serius, lebih serius daripada kehidupan, yang terlihat pada fakta paradoksal bahwa dalam permainan kehidupan menjadi terpaku. Itulah sebabnya mengapa dalam permainan poker tidak ada canda-ria, karena logikanya adalah cool, tanpa harapan, tanpa alternatif, never obscene, there is nothing “possible” – karena segalanya dimainkan dan diputuskan dengan intens oleh suatu logika tanpa mediasi. (Seduction: 133).
Bila Hukum terkait dengan sistem nilai, dengan tujuan obyektifitas dan didasari oleh transendensi – maka peraturan bersifat imanen, dalam sistem terbatas. (Seduction: 134).
Kepercayaan dalam wilayah agama adalah serupa dengan rayuan dalam permainan cinta. (Seduction: 142). Kepercayaan adalah suatu challenge ‘tantangan’ bagi eksistensi Tuhan, suatu tantangan bagi Tuhan untuk eksis, dan sebagai imbalannya adalah kematian. Seseorang merayu Tuhan dengan kepercayaannya, dan Tuhan tak dapat tidak menjawabnya bagi rayuan – seperti halnya tantangan, adalah suatu bentuk yang dapat dibalikkan.

3.4.2.Rayuan dan Feminitas

Baudrillard membenarkan pendapat Freud bahwa hanya ada satu seksualitas, satu libido – yaitu maskulin: seksualitas yang berpusat pada phallus, pengebirian, Atas-Nama-Bapak, dan represi. (Seduction: 6). Revolusi seksual yang terjadi dewasa kini: polivalensi erotik, pembebasan naluri, difraksi, intensitas libinal semuanya menuju kepada suatu struktur non-differentiation dengan potensi netralisasinya.
Bahaya revolusi seksual bagi female ‘wanita’ adalah, ia akan terbelenggu dalam suatu struktur yang akan menghukumnya dengan diskriminasi, bila struktur itu kuat atau mengecilkan perjuangannya bila struktur itu lemah. (Seduction: 6).
Wanita, walau bagaimanapun selalu berada dilain tempat. Inilah yang merupakan kekuatannya.
Apakah yang dilakukan gerakan emansipasi perempuan (women) yang dipertentangkan dengan struktur phallocracy? Otonomi, difference, naluri dan kesenangan yang spesifik, relasi yang berbeda terhadap tubuh wanita, dalam pembicaraan, tulisan – but never seduction. Para wanita malu akan rayuan, seperti halnya menonjolkan tubuh, ketergantungan hidup dan prostitusi. Para wanita tidak memahami bahwa that seduction represents mastery over the symbolic universe, while power represents only mastery of the real universe.
Anatomi adalah tujuan, demikianlah dikatakan oleh Freud. Orang dapat terkejut dengan penolakan gerakan emansipasi perempuan terhadap definisi ini, suatu definisi yang bersifat phallic, yang pada dasarnya biologis dan anatomis:

Indeed, woman’s pleasure does not have to choose between clitoral activity and vaginal passivity, for example. The pleasure of the vaginal caress does not have to be substituted for that of the clitoral caress. They each contribute, irreplaceably, to woman’s pleasure. Among other caresses … Fondling the breasts, touching the vulva, spreading the lips, stroking the posterior wall of the vagina, brushing against the mouth of the uterus, and so on. To evoke only a few of the most specifically female pleasures.
Luce Irigaray (Seduction: 9)

Terjemahannya:
Kenikmatan wanita tidaklah misalnya harus memilih diantara aktivitas clitoral dan pasivitas vaginal. Kenikmatan mengelus vaginal tidaklah dapat digantikan dengan mengelus clitoris. Mereka saling melengkapi, tak dapat dipertukarkan bagi kenikmatan wanita. Diantara belaian lainnya … memeras susu, menyentuh vulva, membuka lebar-lebar bibirnya, mengasari dinding luar vagina, membelai mulut uterus, dan sebagainya. Ini hanyalah sedikit dari kesenangan wanita yang paling spesifik.

Parole de femme? ‘Pembicaraan tentang wanita?’ Selalu merupakan pembicaraan anatomis, selalu tentang tubuh – suatu revolusi seksual – dari anagramnya Bellmer sampai dengan Deleuze’s mechanized connections.
Lalu pertanyaannya berkenaan dengan rayuan, olah tubuh dengan kelihaian (artifice) dan bukan oleh naluri (desire). Tubuh yang dirayu, hasrat naluriah yang dipisahkan dari kebenaran dan etika, tubuh dalam penampakannya – seduction alone is radically opposed to anatomy as destiny. Hanya rayuan yang dapat memecahkan perbedaan seksualitas dan kekuasaan ekonomi phallic sebagai akibatnya.
Baudrillard berpendapat bahwa wanita itu tidak lain adalah appearance ‘penampakan’. And it is the feminine as appearance that thwarts masculine depth. ‘Wanita sebagai penampakanlah yang membuat frustrasi kedalaman maskulin’. The masculine is certain, the feminine is insoluble. (Seduction: 11). ‘pria bersifat pasti, dan wanita melarutkan’; perbedaan diantara otentisitas dan kelihaian (artifice) juga menjelaskan ruang simulasi yang juga bersifat melarutkan.

3.5.Strategi Fatal
Sering kali terjadi kesalah pahaman berkenaan dengan Fatal Strategies: Fatal Strategies sering dipahami sebagai perkembangan catastrophic yang terkandung dalam suatu sistem; padahal bagi Baudrillard merupakan kebalikannya. “It meant finding a form of play and destiny which precisely thwarted that implacable development of the system”. (Paroxysm: 47) ‘Strategi Fatal berarti mencari suatu bentuk permainan dan tujuan, yang memotong atau membuat frustrasi dari sistem yang kokoh’. Bahwa perkembangan itu sama sekali tidak fatal melainkan banal ‘menjemukan dan tidak orisinil’. Fatal Strategy adalah penemuan kembali pemikiran yang meledakkan kebenaran dari suatu sistem, melainkan logikanya. “Against the strategy of evil, that of the greater evil”. (Paroxysm: loc. cit.).
Baudrillard cukup mengalami kesulitan untuk menerangkan strategi fatal karena “… so great is the sway of the real over the imagination” (Fatal: 181) ‘sangatlah besar kontrol kenyataan terhadap imaginasi’. Bila pada teori kritis, subyek merupakan pusat orientasi, maka pada strategi fatal, obyeklah yang menjadi pusatnya. Obyek bukanlah kembaran, represi, cermin, refleksi, fantasi maupun halusinasi dari subyek – kehadiran obyek secara tak terbatas bersifat ironis, merayu, menantang, the fetish dan transparan terhadap evil. Strategi fatal juga merupakan the principle of Evil yang tak patuh terhadap tatanan simbolik, sebagaimana halnya seorang pencuri(Fatal: 181-2), yaitu obyek sebagai strange attractor. (Evil: 172).
Baudrillard pertama-tama melihat evil sebagai suatu prinsip antagonistik, lebih sebagai suatu bentuk daripada nilai dan berada sebelum atau diatas oposisi diantara good dan evil. Dengan kata lain, maka kebaikan adalah seperti halnya permukaan iceberg yang mengambang di atas air, dan evil adalah sembilan persepuluh yang berada didalam air.(Paroxysm: 25-6). Selanjutnya Baudrillard mengatakan bahwa:
Anything that purges the accursed share in itself signs its own death warrant. This is the theorem of the accursed share. The energy of the accursed share, and its violence, are expressions of the principle of evil. (Evil: 106).

Terjemahannya:
Apapun juga yang mencampakkan the accursed share adalah sebagai tanda yang menjamin kematiannya. Inilah yang disebut teorem the accursed share. Energi the accursed share, dan kekuatan yang menghancurkannya adalah ekspresi dari the principle of evil.


Terdapat kecenderungan panteistik dalam pemikiran Baudrillard, yaitu penghargaannya terhadap the inhuman, sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat pada kebudayaan fatalist atau primitif. (Fatal: 183).
The principle of evil berarti juga, "The world is not dialectical -- it is sworn to extremes, not to equilibrium, sworn to radical antagonism, not to reconciliation or synthesis". (Fatal: 7). Di dalam buku ini Baudrillard hendak mengungkapkan gagasan bahwa cara untuk meradikalkan dunia adalah "fight obscenity with its own weapons." Maka "To the truer than true we will oppose the falser than false," (Fatal: 7). Ini adalah pataphysics dari sistem. Menurut Canetti, hanya kalimat tautological yang benar secara sempurna. (Fatal: 34). Baudrillard lalu menganggap bahwa tautologi itu baik.
Satu-satunya revolusi benda-benda sekarang ini tidak lagi pada transendensi dialektikal (Aufhebung), melainkan dalam potensialisasinya, kemampuan mengangkatnya ke kekuatan kedua, ke kekuatan nth, apakah itu terrorism, irony, atau simulation. Ini tidak lagi dialektika, melainkan proses ecstasy (Fatal: 41).

fashion -- more beautiful than beautiful
simulation -- more true than the true
pornography -- more sex than sex
seduction -- more false than the false
obscenity -- more visible than the visible
terrorism -- more violent than the violent
obesity -- more fat than the fat
catastrophe -- more eventful than the event
hypertelia -- more final than the final
hyperreality -- more real than the real

3.6.L'autre par lui-même
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa eksposisi paling cemerlang berkenaan dengan perkembangan pemikiran Baudrillard diberikan oleh Baudrillard sendiri, dalam bukunya yang berjudul L’Autre par lui-même, 1987, diterjemahkan kedalam bahasa Inggris sebagai The Ecstasy of Communication. Tulisan tersebut dibuat oleh Baudrillard sebagai syarat untuk doctoral Habilitation di Sorbonne, pada tahun 1986. Dalam pendahuluan buku tersebut, dikatakan olehnya, bahwa:
It is paradoxical to make a retrospective survey of a work which never intended to be prospective. It recalls the fate of Orpheus, who looked back on Eurydice too soon, and thereby condemned her to the underworld forever. One must pretend that the work prexisted to itself and forebode its own end from the very beginning. This may be an ill omen. Yet this is an exercise in simulation which may be resonant with one of the pretend themes of the whole: to pretend that this work were accomplished, that it developed in a coherent manner and has always existed. Therefore I can only conceive of speaking of it in terms of simulation, much in the same manner that Borges reconstitutes a lost civilization through the fragments of a library. In other words, I can hardly examine the question of sociological verisimilitude, to which, moreover, I could only answer with the greatest of difficulty; rather I must put myself in the place of an imaginary traveler who stumbles upon these writings as upon a lost manuscript and who, for lack of supporting evidence, would attempt to reconstitute the society they describe. (Ecstasy: 9-10).

Terjemahannya:
Adalah paradoksal untuk membuat suatu penyelidikan retrospektif pada suatu karya yang tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi prospektif. Seperti halnya nasib Orpheus, yang terlalu cepat menengok kebelakang kepada Eurydice sehingga menghukumnya untuk tinggal di dunia selamanya. Orang harus bertindak seolah-olah bahwa suatu karya telah ada sebelumnya dan melupakan akhirnya dari awal. Hal ini dapat merupakan ramalan yang buruk. Akan tetapi hal ini merupakan latihan simulasi yang dapat bergaung dengan satu tema yang diandaikan dari keseluruhan: mengandaikan bahwa karya tersebut sudah tercapai, bahwa ini berkembang secara koheren dan selalu ada. Oleh karena itu saya hanya dapat mengatakannya dalam artian simulasi, seperti juga Borges membawa kembali kepada keaslian dari peradaban yang telah sirna melalui pecahan-pecahan suatu perpustakaan. Dengan kata lain, dengan sulit saya berupaya mengkaji pertanyaan sosiologikal yang seolah-olah benar, oleh karena itu, saya hanya dapat menjawabnya dengan sangat sukar; lebih baik saya menempatkan diri saya sebagai seorang pelancong dalam khayalan yang tertatih-tatih pada tulisan ini sebagai suatu manuskrip yang hilang dan karena kurangnya bukti-bukti yang dapat mendukungnya, berupaya untuk membawa kembali kepada keasliannya dari masyarakat yang mereka maksudkan.

Disini Baudrillard meletakkan kebudayaan masa kini dengan latar belakang suatu dunia yang hilang. Tenggelamnya Atlantis, kalau mau dikatakan seperti itu, adalah pemikiran Eropa klasik, sejak jaman Renaisans, yang diterima dari Yunani klasik. Ini adalah Promethean cosmos yang hendak dibuang oleh strukturalisme dan postrukturalisme Perancis yang anti humanis: the anthropocentric universe of a ‘subject’ (individual or collective) appropriating nature as an inert ‘object’ in the linear time of progressive history.19

3.6.1.Komunikasi Ekstasi

“Everything began with objects, yet there is no longer a system of objects.” ‘Segalanya dimulai dengan obyek-obyek, akan tetapi sekarang sudah tidak ada lagi suatu sistem obyek-obyek. Demikianlah dikatakan oleh Baudrillard dalam bukunya. Pernyataan ini berkenaan dengan obyek sosial pada masyarakat kapitalis akhir dan suatu ontological metaphor. Seperti halnya St John’s ‘In the beginning was the word’ atau Faust’s ‘In the beginning was the deed’. Maka bagi Baudrillard, keberadaan obyek mendahului masyarakat20.
Baudrillard mengkhayalkan suatu mimpi antropologikal tentang obyek yang hadir diluar dan diatas aspek guna dan pertukaran – suatu symbolic exchange21 yang menempatkan obyek sebagai cermin dari subyek, sebagaimana halnya cermin dan scene22 ‘adegan’. Kini scene dan mirror sudah digantikan oleh screen ‘monitor’ dan network ‘jaringan’. Tidak ada lagi transendensi dan kedalaman, yang ada hanyalah permukaan fungsional dari komunikasi. Dalam televisi, prototip obyek yang paling indah pada era kini, alam dan tubuh kita menjadi layar monitor.
Sewaktu Baudrillard menulis buku ini, komputer (walaupun sudah ada) tidak seperti halnya televisi, belum lagi menjadi kehidupan sehari-hari – namun apa yang digambarkan oleh Baudrillard belasan tahun yang lalu, masih relevan dan lebih canggih lagi dengan adanya komputer, jaringan dan internetnya; dengan kata lain Baudrillard telah dapat meramalkan hal-hal yang belum terpikirkan pada masa itu.
Di dalam televisi, setiap individu terisolasi dari kehidupan aslinya, seperti halnya astronot mengambang didalam kehampaan kapsulnya, mengorbit dan mempertahankan kecepatannya agar tetap tanpa gravitasi dan menghindari tabrakan dengan planet asalnya.
Manusia kini beralih dari domestic universe ke celestial metaphor (dua kamar/dapur/kamar mandi). Keseharian dari terrestial habitat yang menandakan akhir dari metafisik dan dimulainya era hyperreality: yang sebelumnya secara mental diproyeksikan, hidup sebagai suatu metafor pada terrestial habitat, mulai sekarang diproyeksikan, sepenuhnya tanpa metafor dan masuk kedalam the absolute space of simulation.
Kehidupan pribadi manusia dengan stage ‘panggung’ nya telah sirna: Manusia tidak lagi hidup sebagai pemain, melainkan sebagai suatu terminal dari multiple networks ‘jaringan dengan kemungkinan banyaknya titik-titik akses’. (16).
Era miniaturisasi pada elektronik, waktu, ruang, remote control dan sebagainya telah tiba. Perubahan skala pada tubuh manusia, dimana segalanya dikonsentrasikan pada otak dan genetic code. Semua tindakan dikonsentrasikan pada kota-kota. Waktupun diminiaturisasi menjadi serial instan. Semua hal ini merupakan masalah bagi kita. Baudrillard menganggap bahwa miniaturisasi hal-hal tersebut diatas tidaklah berharga dan cenderung kepada obscenity.
Tubuh, alam, waktu sebagai stage ‘panggung’ perlahan-lahan sirna. Demikian pula halnya dengan ruang publik: Iklan menggantikan teater sosial, politik dan merasuk kemana-mana. Iklan dalam versi barunya tidaklah bersifat baroque, skenario utopia tentang obyek dan konsumsi, melainkan suatu efek dari perusahaan yang hadir dimana-mana, merk dagang, PR, dialog sosial dan virtues of communication. (19). Beaubourg, Les Halles atau La Villette yang dalam artian bahasa adalah merupakan advertising monuments (atau anti-monuments) merupakan suatu demonstrasi kebudayaan komoditas dan gerakan massa.
Sebagaimana halnya dengan ruang publik, maka ruang pribadi berangsur-angsur kehilangan spectacle dan rahasianya. Pemisahan diantara interior dan eksterior yang merupakan ciri dari domestic stage dan ruang simbolik telah kabur kedalam suatu double obscenity: ruang pribadi menjadi medan media (non-stop televisi) dan alam semesta tanpa perlu menjadi terbuka di layar pribadi. Hal ini merupakan suatu pornografi mikroskopik; menjadi pornografik karena dipaksakan, dibesar-besarkan, seperti halnya close-up adegan seksual porno di film. Semua hal ini menghancurkan stage, yang pernah dipertahankan dan hanya diketahui oleh aktornya. (21).
Masyarakat konsumer hidup dalam sign of alienation; ini adalah masyarakat spectacle – dan spectacle, bahkan bila teralienasi pun tidak pernah obscene. Obscenity dimulai bila tidak adalagi spectacle, stage, theatre, illusion -- bila segalanya langsung transparan, terlihat, ditampilkan apa adanya, terus-menerus dalam cahaya informasi dan komunikasi.
We no longer partake of the drama of alienation, but are in the Ecstasy of communication. Dan ekstasi ini bersifat obscene. Obscene karena membatasi gaze ‘tatapan’, image ‘citra’, dan setiap representasi. Tidak adalagi yang tersembunyi, ditekan, rahasia maupun kabur – obscenity karena visible, the all-too-visible, the more-visible-than-visible yang sepenuhnya larut dalam informasi dan komunikasi.
Marx sudah menyatakan sifat obscenity dari komoditas. Sifat obscenity dari komoditas berasal dari fakta bahwa, komoditas (exchange value) adalah abstrak, formal dan ringan dibandingkan dengan berat, masif dan substansial dari obyek. Komoditas dapat dikenali, yaitu harga sebagai esensi nyatanya -- dilawankan dengan obyek yang tidak pernah benar-benar membuka rahasianya. Ringkasnya, ekstasi ini adalah: pasar adalah suatu bentuk ekstatik dari sirkulasi barang-barang, sebagaimna halnya prostitusi dan pornografi merupakan bentuk ekstatik dari sirkulasi seks.
Ecstasy dalam semua fungsinya dihapuskan kedalam satu dimensi, yaitu komunikasi dan informasi – dan ini bersifat obscene.
Mengikuti Marshall Mcluhan, maka dibedakan hot medium, seperti halnya radio, film, kuliah, foto dengan cool medium seperti halnya telepon, televisi, seminar, kartun. Suatu hot medium bersifat “high definition” dan sarat dengan data, sebaliknya cool medium bersifat “low definition” dan minim akan data23.
Bila komunikasi langsung dapat bersifat hot, sexual obscenity -- maka komunikasi melalui media, televisi misalnya, bersifat cool communicational obscenity. Pada cool communication terdapat sifat fascination dan giddiness – suatu bentuk pleasure, atau lebih tepat aleatory dan dizzying. Mengikuti klasifikasi Roger Caillois tentang games –- mimicking, agôn, alea, ilinx: games of expression, games of competition, games of chance, games of giddiness – maka seluruh kebudayaan kita, dari sirnanya bentuk-bentuk ekspresi dan kompetisi, menuju ke suatu ekstensi bentuk-bentuk chance (alea) dan giddiness.
Dari scene, mirror, challenge, otherness menjadi ecstatic, solitary dan narcissistic. Pleasure tidak lagi bersifat scenic atau manifestasi estetik (seductio) tetapi menjadi pure fascination, aleatory dan psychotropic (subductio). Hal ini tidak perlu dinilai negatif, karena bentuk kesenangan dan persepsi kita telah mengalami mutasi yang mendasar. Kita sulit untuk mencerap konsekwensi dari transformasi ini, bila berdasarkan kriteria lama kita yang bersifat “scenic” sensibility.
One thing is for certain: if the scene seduced us, the obscene fascinates us. However, ecstasy is the opposite of passion. Desire, passion, seduction, or again, acccording to Caillois, expression and competition, are the games of the hot universe. Ecstasy, fascination, obscenity (Caillois’ chance and giddiness), are games of the cold and cool universe (even giddiness is cold, especially the giddiness of drugs).

Terjemahannya:
Satu hal yang pasti: bila panggung merayu kita, maka kebejatan menawan kita. Namun, ekstasi berlawanan dengan nafsu. Hasrat, nafsu, rayuan, atau menurut Caillois, ekspresi dan persaingan, adalah permainan dari dunia panas. Ekstasi, daya tarik, kebejatan (kesempatan dan kegamangan menurut Caillois), adalah permainan dari dunia dingin (bahkan kegamangan adalah dingin, terutama kegamangan dari obat bius).

Mengikuti metafor dari patologi, maka bila hysteria adalah patologi dari subyek dan paranoia adalah patologi dari organisasi – maka sekarang kita memasuki suatu bentuk baru schizophrenia – dengan munculnya suatu immanent promiscuity dan interkoneksi tanpa henti dari segala jaringan informasi dan komunikasi. Tidak adalagi hysteria, atau paranoia, akan tetapi teror yang merupakan karakteristik dari schizophrenic. Kendatipun terhadap dirinya, schizophrenic terbuka terhadap apapun dan hidup dalam kebingungan yang paling ekstrim, absolute proximity to and total instantaneousness with things. Ia tidak dapat lagi memproduksi dirinya sebagai suatu cermin. Ia menjadi sepenuhnya screen ‘monitor’, diserap dan mencerap permukaan network yang berpengaruh.

3.6.2.Transparansi Ritual

Ketidak pastian eksistensi dan konsekwensi obsesi untuk membuktikan eksistensi kita, mengatasi hasrat seksualitas. Bila seksualitas diartikan sebagai upaya untuk meneruskan keturunan, maka kita tidak lagi berurusan dengan hal ini, karena kita terlalu sibuk untuk menyelamatkan identitas kita. Apa yang penting diatas segalanya adalah membuktikan eksistensi kita, bahkan bila itu adalah satu-satunya arti.
Baudrillard memberikan contoh tentang sebuah patung manekin telanjang yang bersifat hyperrealistic. Para penonton berupaya untuk memperhatikan detail, namun tidak ada lagi yang bisa dilihat, karena semuanya sudah dibeberkan secara blak-blakan.
Obscenity terletak pada fakta bahwa there is nothing to see ‘tidak ada sesuatupun yang bisa dilihat’; bukanlah suatu sexual obscenity, melainkan the obscenity of the real. Penonton melihat patung tersebut tidaklah karena hasrat seksual, melainkan mengamati sifat realistiknya – in verifying to the point of giddiness the useless objectivity of things – genetalia lalu hanya merupakan suatu efek spesial.
Sexuality is but a ritual of transparency ‘seksualitas tidak lain merupakan suatu ritus transparansi’. Seksualitas yang sebelumnya disembunyikan, maka sekarang seksualitas menyembunyikan apa yang masih tinggal sedikit di dalam realitas.
Fascination ini tidaklah berasal dari seduction, melainkan Fascination is this disembodied passion of a gaze without an image. Terdapat suatu collective giddiness of escape into the obscenity of a pure and empty form… (Ecstasy: 33). Fascination ini juga terdapat pada politik dan kesenian.

3.6.3. Metamorphoses, Metaphors, Metastases
Kemanakah perginya tubuh fabel? Tubuh metamorfosis, tubuh murni dalam rangkaian appearances ‘penampakkan’, tubuh tanpa ruang dan waktu, tubuh tanpa alat kelamin, tubuh dalam seremonial mitologi, dalam teater Timur, Opera Peking. Tubuh metamorfosis adalah tubuh non-individual, tanpa hasrat, tubuh yang bebas dari cermin dirinya.
Kekuatan metamorfosis berada pada akar semua seduction. Melalui metamorfosis kita mengkafani rayuan. Metamorfosis terikat dengan the law of appearances, dan tubuh adalah obyek pertama dari game ‘permainan’ ini.
Tubuh metamorfosis tidak mengenal tatanan simbolik, metafor maupun makna. Perubahan dari suatu species ke species lainnya, dari suatu bentuk ke bentuk yang lainnya merupakan suatu disappearing, not of dying.
Kemudian tubuh metamorfosis berlalu, dan seketika seksualitas dan hasrat muncul, maka tubuh menjadi metaphor. Tubuh metaforis adalah suatu phantasmagoria of species ‘mahluk aneh dalam mimpi’, the unconscious sexual phantasmatic ‘ilusi seksual tak sadar’.
Psychological body, repressed body, neurotic body, space of phantasy, mirror of otherness, mirror of identity, tubuh kita tidak lagi pagan dan mitik, melainkan Christian dan metaforis – tubuh yang berhasrat dan bukanlah fable.
Setelah tubuh metamorphosis dan metaphor kemudian diikuti oleh tubuh metastasis, yaitu: tubuh lobotomy sebagai hasil dari gangguan dalam circuits.24 Lebih lanjut ada kemungkinan ahli-ahli neurologis kita dapat menemukan letak soul ‘ruh’ dalam otak, apakah diotak kiri atau kanan?
Definisi filosofis tentang being telah diserahkan kepada definisi operasional dalam istilah genetic code (DNA) dan organisasi cerebral (kode informasional dan milyaran neurons). Kita berada pada satu sistem yang tidak ada lagi ruh, metafor tubuh; “our being is exhausting itself in molecular linkings and neuronic convolutions” (EC: 51).
Bila hal ini sudah tercapai maka tidak akan ada lagi individu, dan dari sudut pandang biologi, genetik dan cybernetic, kita semua adalah mutants – bukan lagi species manusia, melainkan suatu species lain, suatu dehumanisasi konkrit.

3.6.4. Scene dan Obscene

Dalam buku ini scene dan obscene di hadap-hadapkan; kita sekarang telah meninggalkan scene menuju obscene:

Scene
Obscene
spectacle
ceremony
seduction
fascination
passion
ecstasy
sexuality
pornography
secrecy
hypervisibility
seductio
subductio
drama of alienation
ecstasy of communication
expression ('mimicking')
alea (games of chance)
agon (competition)
ilinx (giddiness/vertigo)
Hot
Cold
Hysteria/paranoia
Schizophrenia
violence
terror
knowledge
information
transcendence
immanence
banal vision of the fatal
fatal vision of the banal
explosion
implosion
speed (Virilio)
immobility (thru absolute mobility)
self/other
self/self
subject
object
finitude
metastasis

Oposisi scene dan obscene menjadi basis bagi karya-karya Baudrillard kemudian, terutama dalam Fatal Strategies. Expression/agon v. alea/ilinx adalah empat jenis permainan yang dinyatakan oleh Roger Caillois. Cepatnya kebudayaan kita cenderung mandeg karena "all trips have already taken place," (Ecstasy: 39). Tidak adalagi perbedaan diantara subyek-subyek, yang ada adalah perbedaan manifestasi dari subyek yang sama -- "One is alienated from oneself, from one's multiple clones, from all these little isomorphic 'I's," (41).

3.6.5. Teori

Teori pada jaman hyperreality dewasa kini, tidak lagi sebagai refleksi dari kenyataan – seperti halnya pada jaman pencerahan. Apa kegunaan teori bila tidak lagi sejalan dengan konsep kenyataan?
Theory: "It is not enough for theory to describe and analyze, it must itself be an event in the universe it describes ... Theory must operate on time at the cost of a deliberate distortion of present reality," (Ecstasy: 99). Theory is exorcism; it must "conquer the world and seduce it through an indifference that is at least equal to the world's. (Ecstasy: 101).

Terjemahannya:
Teori: Tidaklah cukup bagi teori untuk menjelaskan dan menganalisa, ia juga harus menjadi suatu kejadian dalam dunia yang dijelaskannya … teori harus beroperasi pada waktu [yang sedang berjalan] dengan biaya distorsi metodis dari realitas yang ada. Teori adalah upaya untuk menaklukan kejahatan; ia harus menaklukan dunia dan merayunya tanpa perduli, paling tidak sebanding dengan dunia.

Jarak yang diambil oleh teori bukanlah retreat melainkan exorcism. Maka teori mengambil kekuatan sebagai suatu fatal sign.
Marilah kita seperti kaum Stoa: bila dunia itu fatal, marilah kita lebih fatal dari dunia. Bila dunia acuh-tak acuh, marilah kita lebih tidak perduli.
Untuk menghadapi percepatan dari jaringan komputer dan dunia, kita mencari kelembaman, inertia. “The fatal, the obscene, the reversible, the symbolic, are not concepts, since nothing distinguishes the hypotheses from the assertion”. (Ecstasy: 101). ‘fatal, kebejatan, pembalikan, simbolika, bukanlah konsep, karena tidak ada yang dapat membedakan hipotesa dengan pernyataan’. Dalam hal ini fatal adalah suatu wacana dimana kebenaran mengundurkan diri.







Bab 4
FENOMENA KEBUDAYAAN KONTEMPORER

4.1.Pemikiran Radikal25 sebagai dasar untuk memahami Kebudayaan Kontemporer

Baudrillard mengutip Stevenson, bahwa: “The novel is a work of art not so much because of is inevitable resemblance with life but because of the insuperable differences that distinguish it from life”. ‘Novel adalah karya seni tidaklah karena kemiripannya dengan kehidupan, melainkan karena perbedaan yang tak dapat diatasi dengan kehidupanlah yang membedakannya.
Tidaklah perlu bahwa untuk dapat hidup, manusia harus mempercayai eksistensinya. Demikian juga halnya dengan pikiran – pikiran tidaklah harus terkait dengan kebenaran, sebagaimana perbedaan yang tidak teratasi diantara keduanya memisahkannya.
Kesadaran kita tidaklah pernah merupakan gaung dari realitas kita, dari suatu eksistensi yang disetel pada “real time” ‘waktu yang sebenarnya’, melainkan merupakan gaung dari “delayed time” ‘waktu yang ditunda’. Hanya dalam tidur, ketidak-sadaran dan kematianlah, kita identik dengan diri sendiri. Kesadaran sepenuhnya berbeda dengan belief ‘kepercayaan’. Kesadaran lebih spontan daripada kepercayaan, sebagai hasil dari suatu challenge ‘tantangan’ terhadap realitas – sebagai hasil dari menerima objective illusion ‘ilusi objektif’ daripada objective reality ‘realitas objektif’. Tantangan ini lebih vital bagi perjuangan hidup kita dan bagi species manusia, daripada kepercayaan terhadap realitas dan eksistensi yang selalu mengacu kepada harapan akan kehidupan lain setelah kematian. Dunia kita adalah beginilah, namun hal ini tidak membuatnya menjadi lebih nyata. Naluri paling kuat dari manusia adalah melakukan konflik dengan kebenaran dan dengan realitas.
Kepercayaan akan kebenaran adalah bentuk sederhana dalam kehidupan beragama. Hal ini merupakan kelemahan pemahaman – suatu common sense ‘pendapat umum’. Menurut rasul-rasul dan kaum moralis, prinsip realitas tidak dapat dipertanyakan. Mujurnya, tidak ada seorangpun, bahkan yang mengajarkannya, hidup berdasarkan prinsip ini. Tidak seorangpun yang benar-benar percaya akan kenyataan, maupun percaya pada bukti kehidupan yang nyata. Hal ini sangat menyedihkan sekali. Pendapat kaum moralis ini juga merupakan suatu penghinaan – mereka pikir kehidupan disusun seperti halnya asuransi kehidupan, konsensi yang tidak ada habisnya atau produk konsumer utama sehari-hari.
Katakanlah: “Saya nyata, dunia ini nyata,” dan tidak ada seorangpun yang mentertawakan. Tetapi katakanlah: “Ini hanya simulacrum, kamu hanyalah simulacrum, perang ini adalah simulacrum”, dan setiap orang akan tertawa terbahak-bahak. Walaupun demikian, kepercayaan kita terhadap realitas adalah jauh lebih obscene ‘tak bermoral’. Truth is what should be laughed at. ‘Kebenaranlah yang sebenarnya harus ditertawakan’. Orang boleh bermimpi tentang suatu kebudayaan dimana semua orang tertawa terbahak-bahak ketika seseorang berkata: “ini adalah benar, ini kenyataan”.
Semua ini menunjukkan persoalan yang tak terpecahkan diantara pikiran dan kenyataan. Hal ini bermula dari hipotesa bahwa terdapat referensi yang nyata bagi suatu idea, dan kemungkinan “ideation” dari realitas. Pikiran, sebaliknya adalah ex-centric from the real ‘ek-sentrik dari kenyataan’. It is an “ex-centering”26 of the real world. ‘Ini suatu ex-centering dari dunia nyata’. Konsekwensinya, pikiran asing terhadap dialektika, asing terhadap cara berpikir kritis. Cara berpikir radikal juga adalah suatu ilusi, permainan27. Pemikiran radikal ini tidak berasal dari kesangsian filosofis maupun dari suatu utopian transference28 ‘pengalihan utopia’. Pemikiran radikal adalah “putting into play” – mise en jeu – dari dunia. Berpikir radikal juga non-kritikal dan non-dialektikal; pemikiran radikal nampaknya datang dari lain tempat. Tidak ada kompatibilitas diantara pikiran dan kenyataan, tidak juga alternatif: only an “alterity” keeps them under pressure.
4.2. Implosi

Apakah arti dari implosi:

The sense of nervous angst and the trembling of hands precipitated by the utterance of the word "IMPLOSION" is but the foreshadowing of the great earthquake that is coming, threatening to shake the foundations of Western Civilization and bring it crashing down upon itself. This inescapable catastrophe Jean Baudrillard calls the IMPLOSION, and it is already upon us. We are only beginning to see the signs of its relentless precession. 29

Perasaan gugup-gelisah dan gemetarnya tangan mengikuti ucapan "implosion" tidak lain bayangan gempa bumi besar yang telah datang, mengguncangkan landasan kebudayaan Barat dan meruntuhkannya. Malapetaka yang tak terelakkan ini oleh Jean Baudrillard disebut "Implosion", dan ia sudah hadir. Kita hanya mulai menyaksikan tanda dari relentless precession.


Menurut Baudrillard kehidupan masa kini ditandai oleh implosi. Implosi mengejewantah dalam tiga bentuk: Implosi makna, kebudayaan dan sosial yang merupakan awal dari akhir peradaban Barat.
Implosi makna adalah fenomena yang pertama kali diungkapkan di era modern oleh Friedrich Nietzsche. Ia menyebutnya dengan "nihilism", dan kehadirannya dapat dicatat dengan erosi yang cepat dari binary meaning-making structures, yang bagi teoritikus diartikan sebagai momen posmodern. Tidak dapat disangkal bahwa teori Baudrillard tentang implosi berangkat dari karya Nietzsche dan turunannya, yaitu Heidegger dan Derrida (yang menyebutnya sebagai dekonstruksi). Berbicara tentang struktur binari yang mengkonstruksi makna melalui bahasa, Baudrillard mengatakan
bahwa:

There is no longer any polarity between the one and the other in the mass [the people]. This is what causes that vacuum and inwardly collapsing effect in all those systems which survive on the distinction of poles [good/bad, true/false, alive/dead, up/down, and especially left/right (in a political sense)]. This is what makes the circulation of meaning in the mass impossible: it is instantaneously dispersed, like atoms in a void.
In the Shadow of the Silent Majorities 6

Terjemahannya:
Tidak ada lagi polaritas diantara satu sama lainnya dalam massa (masyarakat). Inilah yang menyebabkan kekosongan dan efek keruntuhan kedalam dalam semua sistem yang berjuang hidup pada perbedaan kutub (baik/buruk, benar/salah, hidup/mati, keatas/kebawah, dan terutama kiri/kanan -- dalam artian politik). Hal inilah yang menyebabkan sirkulasi makna dalam massa menjadi tidak mungkin: makna dengan seketika bubar, seperti halnya atom-atom dalam kehampaan.


Argumen Baudrillard merupakan jawaban terhadap Marxisme yang pernah ia anuti. Bilamana Marx berpendapat bahwa "massa" dikuasai oleh ideologi yang "salah" yang mengekalkan perbudakan, maka Baudrillard berpendapat bahwa "massa" sudah mengetahui bahwa semua ideologi adalah "salah". "Massa" ingin
dikuasai oleh ideologi yang salah dari yang satu ke yang lainnya. Massa menyerap ideologi-ideologi dan spectacle … Perang Teluk, Timor-Timur, Aceh … tontonan demi tontonan, dari ideologi ke ideologi lainnya. Bagi massa semua makna menjadi tidak ada artinya, tidak karena massa menolak ideologi borjuis, melainkan massa mengkonsumsinya dengan kalutnya.

4.2.1Implosi dan Kecepatan

Paul Virillio dalam Speed & Politics mengatakan bahwa "speed is the hope of the West" (47). Demikianlah yang terjadi di Barat, kecepatan yang menggelinding seperti bola salju mengakibatkan terjadinya implosi. Menurut Baudrillard, sturuktur sosial dan bumi kita sudah tidak dapat lagi menampung kecepatan atau eksplosi dari modernitas: Kerusakan bumi, kemacetan lalu-lintas, AIDS, dan sebagainya.

4.2.2Implosi Kebudayaan

"Massa" juga mengkonsumsi kebudayaan borjuis dengan sangat kalutnya. Analisa Baudrillard terhadap museum Centre Pompidou, Beaubourg, Paris, menjelaskan bagaimana konsumsi "massive" menyebabkan kehancuran kebudayaan borjuis:

The masses rush toward Beaubourg as they rush toward disaster sites, with the same irresistable elan. Better: they are the disaster of Beaubourg. Their number, their stampede, their fascination, their itch to see everything is objectively a deadly and catastrophic behavior for the whole undertaking.

Simulacra and Simulation 66


Berkenaan dengan makna, "massa" tidaklah menolak kekuasaan dari ideologi maupun kelas yang dominan. Sebaliknya, "massa" merangkul kebudayaan borjuis sepenuhnya, bahkan rangkulan ini bagi kebudayaan borjuis lebih mematikan ketimbang perlawanan yang frontal dari Marxis. Bangunan kebudayaan borjuis, seperti halnya Beaubourg semakin terancam oleh "massa" sebagai kebudayaan massa itu sendiri. "It is the masses themselves who put an end to mass culture!" (SS: 66).


4.2.3Implosi Sosial


Kehancuran sosial lebih menakutkan lagi daripada kehancuran kebudayaan. Akhir dari sosial berarti, akhir dari pemerintahan, ekonomi, sekolah, bank, jaminan kesehatan, rumah-sakit, dan apapun juga yang kita ketahui dan tergantung kepadanya. Hanya ada satu kata untuk mengekspresikan implosi sosial: anarki.
Dalam In the Shadow of the Silent Majorities, Baudrillard memberikan contoh bagaimana industri obat-obatan hancur karena inertia massa:
Frontal resistance has been replaced by a more subtle form of subversion; an excessive, uncontrollable consumption of medicine, a panicked conformity to health injunctions. A fantastic escalation in medical consumption which completely corrupts the social objectives and finalities of medicine. What better way to destroy it? ... The masses alienated in medicine? Not at all: they are in the process of ruining its institution, of making Social Security explode, of putting the social itself in danger by craving always more of it, as with commodities. (46-47)

Terjemahannya
Penolakan frontal sudah digantikan oleh suatu bentuk subversi yang lebih lihai; konsumsi obat-obatan yang berlebih-lebihan dan tak terkendali, kekalutan dalam menjalankan anjuran kesehatan. Konsumsi medikal yang makin menjadi-jadi yang sepenuhnya menggerogoti objektivitas sosial dan finalitas obat-obatan. Cara apa lagi yang lebih baik untuk menghancurkannya?… Massa teralienasi oleh obat-obatan? Tidak juga: mereka dalam proses menghancurkan institusinya, membuat Jaminan Sosial meledak, dengan membiarkan masyarakat dalam bahaya dengan selalu makin berhasrat akan obat-obatan, sebagaimana halnya dengan komoditas.

Pataphysics30 tahun 2000
Beberapa hipotesis dapat dijelaskan berkenaan dengan vanishing of history 'sirnanya sejarah'. Baudrillard menyetujui pendapat Canetti bahwa:
A tormenting thought: as of a certain point, history was no longer real. Without noticing it, all mankind suddenly left reality; everything happening since then was supposedly not true; but we supposedly didn't notice. Our task would now be to find that point, and as long as we didn't have it, we would be forced to abide in our present destruction.
Elias Canetti

Terjemahannya:
Suatu pikiran yang menyakitkan: yaitu pada suatu titik, sejarah tidak lagi nyata. Tanpa memperhatikannya, umat manusia tiba-tiba meninggalkan realitas; segala hal yang terjadi sesudah itu menjadi tidak benar; tetapi barangkali kita tidak memperhatikannya. Tugas kita sekarang adalah menemukan titik tersebut, dan sepanjang kita tidak mempunyainya, maka kita akan dipaksa untuk membiarkan kehancuran kita sekarang.


Ekspresi Canneti bahwa umat manusia tiba-tiba membelakangi realitas, membangkitkan gagasan bahwa kita didorong untuk escape velocity 'lepas dari kecepatan' akselerasi modernitas, teknologi, media, politik, ekonomi dan sebagainya. Kita dibebaskan dalam segala artinya, sedemikian bebasnya kita meninggalkan ruang-waktu yang kita sebut realitas (le réel) menuju hyperspace, yang mana karena tidak pernah akan kembali, menjadi kehilangan segala maknanya. Tidak perlu lagi science fiction: sekarang, disini sudah terjadi -- di dalam komputer, sirkuit, jaringan informasi -- kita menjadi akselerator partikel.(IE: 2).

Menceritakan sejarah menjadi tidak mungkin, karena definisi re-citatum 'menceritakan kembali' adalah kemungkinan pengulangan tanpa hentinya rangkaian makna-makna.
Teoripun tidak dalam posisi untuk merefleksikan apapun. Teori hanya dapat mencabik konsep-konsep dari wilayah kritikal referensi dan memaksanya pada titik yang tidak dapat kembali, kepada hyperspace simulasi, suatu proses dimana teori kehilangan validitas objektifnya. (EC: 2-3).
Hipotesa kedua berkenaan dengan sirnanya sejarah adalah kebalikan dari escape velocity, yaitu suatu proses slowing down. Baudrillard mengambil hal ini dari teori fisika.
Matter slows the passing of time. Waktu pada permukaan dari tubuh yang sangat tebal cenderung untuk bergerak lambat. Waktu akan makin lambat bila ketebalan tubuh bertambah. Efek perlambatan kecepatan ini akan memperbesar panjang gelombang-cahaya yang dipancarkan oleh tubuh dan diterima oleh pengamat. Diatas suatu limit tertentuk, waktu berhenti dan panjang gelombang menjadi tak terbatas. Gelombang tidak hadir lagi. Cahaya menjadi sirna.
Baudrillard membuat analogi teori fisika tersebut dengan perlambatan sejarah berkaitan dengan the astral body of the 'silent majorities'. 'tubuh luar angkasa dari masyarakat yang bungkam' dalam keadaan inertia 'tak berdaya'. Ketidak berdayaan masyarakat ini bukanlah karena serba kurang, bahkan sebaliknya: informasi, komoditas, circuit yang melimpah dan kota-kota yang sesak. Massa yang disembuhkan, dinetralisasi oleh informasi, kemudian menetralisasi sejarah dan bertindak sebagai suatu écran d'absorption.31 Massa tidak mempunyai sejarah, makna, kesadaran maupun hasrat. Massa adalah residu potensial dari semua sejarah, makna dan hasrat. (IE: 3).
Hipotesa ketiga, analogi ketiga berkenaan dengan vanishing point, adalah apa yang disebut stereophonic effect: Apakah high fidelity pada reproduksi musik masih disebut musik? Musik telah sirna karena telah melampui batasnya, lalu kehilangan nilai estetis dan kenikmatan mendengarkannya. Musik menjadi the ecstasy of musicality, and its end.
Demikian pula dengan sirnanya sejarah karena melampaui batasnya; kecanggihan informasi telah menghapuskan sejarah. Fakta bahwa kita meninggalkan sejarah dan bergerak kepada dunia simulasi hanyalah merupakan konsekwensi dari fakta sejarah, bahwa jauh didasarnya, sejarah adalah suatu model simulasi yang sarat.
Pada masyarakat ritual, akhir dari segalanya sudah ada diawalnya, dan upacara dilakukan untuk menjiplak kembali kesempurnaan kejadian orisinal tersebut. Lalu model sejarah linear nampak khayali, abstrak dan absurd. (IE: 7).
Waktu kita adalah non-Euclidean fin de siècle space, suatu lengkungan yang berbahaya yang tidak pernah gagal untuk membelokkan semua lintasan. (IE: 10).
Masyarakat, generasi masa kini tidak lagi mengharapkan masa depan yang sudah tiba, dan kepercayaan terhadap sejarah berangsur-angsur sirna. Mereka membenamkan dirinya dalam teknologi futuristik, bank-data, jaringan komunikasi, dimana waktu dihapus oleh sirkulasi murni, bahkan tidak pernah akan bangkit lagi. Tetapi mereka tidak pernah mengetahuinya. Tahun 2000 barangkali tidak pernah akan terjadi. Tetapi mereka tidak mengetahuinya. (IE: 9).
Baudrillard menggunakan istilah deterrence sebagai suatu bentuk khusus dari tindakan: "… it is what causes something not to take place". (IE: 17). '… hal ini menyebabkan sesuatu menjadi tidak terjadi". Deterrence mendominasi seluruh periode kontemporer atau masa kini -- dalam perang, sejarah dan passion 'dorongan naluri' . "It causes strange events to take place (!)". "Hal ini menyebabkan terjadinya kejadian yang aneh".

4.4. Ilusi Perang Teluk
Amerika turut serta dalam Perang Teluk sebagaimana halnya perang nuklir, yang merupakan substitusi Perang Dunia Ketiga yang tidak terjadi. Suatu perang atom, tanpa atom, tetapi serupa dalam dampaknya, langsung, non-konfrontasi dan tak terkendali. Hantaman yang pertama adalah yang terakhir. Tembakan nuklir hanyalah suatu permainan deterrence, hanyalah suatu skenario. Skenario kedua adalah Sadam Husein membuat dummy pesawat terbang yang akan ditembak dari atas. Berkenaan dengan ini Baudrillard mengatakan bahwa:
So this military 'orgy' wasn't an orgy at all. It was an orgy of simulation, the simulation of an orgy. A German word sums all this up very well: Schwindel, which means both giddiness and swindle, loss of consciousness and mystification.

Terjemahannya:
Lalu pesta pora kemiliteran ini sama sekali bukanlah pesta pora. Ini merupakan suatu pesta pora simulasi, simulasi dari suatu pesta pora. Kata dalam bahasa Jerman mengungkapkannya dengan baik, Schwindel, yang sekaligus berarti kegamangan dan pengecohan, hilangnya kesadaran dan mistifikasi.

Amerika juga berperang melawan opini dunia -- melalui media yang sudah disensor, CNN, dan sebagainya -- sebagaimana mereka bertempur pada medan perang yang sebenarnya.
Amnesia tentang berita perang ini, merupakan konfirmasi tentang tidak benarnya perang ini. Overexposed to the media, underexposed to memory. 'Dibesar-besarkan pada media, dan kecil artinya bagi ingatan'.
Terdapat analogi diantara Perang Troya dengan Perang Teluk. Simulacrum of Helen32 merupakan jantungnya perang Troya -- lalu apakah Helen nya Perang Teluk? Dimanakah simulacrum nya, except in the simulacrum of war itself? 'kecuali dalam simulacrum perang itu sendiri? (IE: 64-65).


4.5. Transaesthetics

Pada masa kini avant-garde sudah tidak lagi hadir, baik avant-garde dalam bidang seksual, politik maupun artistik. Gerakan avant garde yang didasari semangat modernisme: berjalan dalam percepatan linear sejarah, dengan kapasitas antisipatoris dan kemungkinan kritik atas nama desire ‘hasrat’, atas nama revolusi, atas nama pembebasan bentuk – telah ditutup. Gerakan yang menawan, yang disebut modernitas ini tidaklah membawa kita kepada suatu transmutasi dari semua nilai, seperti yang pernah kita mimpikan, tetapi kepada penyebaran dan involution ‘kompleks’ nilai-nilai yang membingungkan kita. Kebingungan ini tercermin dalam ketidak mampuan kita untuk menangkap prinsip kebaruan – baik itu politik, seksual maupun estetik.
Baudrillard sangsi bahwa pada masa kini, dalam domain kesenian, ada orang yang mampu untuk melihat elemen-elemen yang cukup untuk menilai apakah yang menjadikan sesuatu itu adalah karya seni, apakah mutasinya atau disappearance-nya.
Untuk mengevaluasi kesenian (bila kata ini masih bermakna), adalah perlu untuk membawa data-data yang diperlukan dari filsafat, politik dan seksualitas. Hal ini dilakukan karena bidang kesenian telah dipukul-rata kepada ekstrim-nya, sehingga kita tidak mempunyai pilihan lain. “Everything is sexual. Everything is political. Everything is aesthetic. Simultaneously”. (TTT: 9). ‘Segalanya adalah seksual. Segalanya adalah politikal. Segalanya adalah estetik. Secara simultan’. Lalu segalanya mempunyai makna politikal, terutama setelah revolusi kultural pada tahun 1968 di Perancis. Dengan segalanya, apa yang Baudrillard maksudkan bukan hanya dalam kehidupan sehari-hari (daily life), tetapi juga madness ‘kegilaan’, bahasa, media dan juga desire ‘hasrat’. Makin segalanya secara berangsur-angsur diserap kedalam bidang liberation ‘pembebasan’ dan mass media, makin pula segalanya menjadi politikal. Pada saat yang bersamaan segalanya menjadi seksual, segalanya adalah obyek yang diinginkan: baik itu
kekuasaan dan pengetahuan. Semenjak seksual stereotip menjadi kunci dari segalanya, maka segalanya diterjemahkan dalam artian phantasms dan repression. Dan dalam waktu yang bersamaan semuanya menjadi estetik. Seperti apa yang Baudrillard katakan:
Everything aestheticizes itself: politics aestheticizes itself into the spectacle, sex into advertising and pornography and the whole gamut of activities into what is held to be called culture, which is something totally different from art; this culture is an advertising and media semiologizing process which invades everything.

Terjemahannya:
Segalanya menjadikan dirinya estetik: politik menjadikan dirinya estetik, kedalam tontonan, sex kedalam periklanan dan pornografi dan seluruh aktivitas kedalam apa yang disebut kebudayaan, sesuatu yang sepenuhnya berbeda dengan kesenian; kebudayaan ini adalah periklanan dan media – suatu proses semiologisasi yang merasuki segalanya.

Bila setiap kategori (politikal, seksual dan estetik) diangkat setinggi-tingginya dan dipukul-rata, maka pada waktu yang bersamaan setiap kategori kehilangan spesifikasinya dan menyerap kembali dirinya dengan suatu cara. Bila segalanya adalah politikal, maka tidak ada lagi politikal; kata ‘politik’ menjadi kehilangan maknanya. Bila segalanya adalah seksual, maka tidak ada lagi seksual; seksualitas kehilangan semua batasannya. Bila segala hal adalah estetik, maka tidak ada lagi keindahan dan keburukan dan seni itu sendiri menjadi sirna. Keadaan paradoksal dan aneh ini adalah akibat pencapaian total dari suatu idea, perfeksi gerakan “modern” dan pada waktu yang bersamaan, denegation ‘penolakan’ nya, likuidasi oleh akal, ekses dan perpanjangan diluar batas kemampuannya. Inilah apa yang Baudrillard maksudkan dengan transpolitikal, transseksual dan transestetik dalam tataran posmodern. (TTT: 10).
Disini Baudrillard hendak mengatakan bahwa kaidah yang berlaku bukanlah dialektikal melainkan segalanya dibawa sampai habis kepada batasnya, yang merupakan juga the principle of evil. Seperti apa yang Baudrillard katakan dalam bukunya, Fatal Strategies:
Things have found a way of avoiding a dialectics of meaning that was beginning to bore them … Unreason is victorious in every sense, which is the very principle of Evil. The world is not dialectical – it is sworn to extremes, not to equilibrium, sworn to radical antagonism, not to reconciliation or synthesis. This is also the principle of Evil … We will not oppose the beautiful to the ugly, but will look for the uglier than ugly: the monstrous. (FS: 7-8)

Pertumbuhan kesenian dengan cepatnya berpulang kepada genius tertentu, petualangannya, kekuatan ilusi, kemampuannya untuk menolak yang nyata dan memberikan alternatif yang lebih unggul. Kesenian transendental semacam ini, dimana garis dan warna pada kanvas dapat kehilangan maknanya, melampaui tujuannya, lari dalam seduction, bergabung dengan bentuk idealnya, bahkan bila itu menghancurkannya – kesenian semacam ini telah punah. Kesenian transendental telah punah dalam suatu symbolic pact ‘perjanjian simbolik’ yang dibedakan dengan produksi sederhana dan murni dari nilai estetik, dengan apa yang kita sebut kebudayaan; misalnya, seni sekarang adalah pertumbuhan yang cepat dan tak terbatas dari signs – Baudrillard menyebutnya sebagai kebudayaan Xerox.
Kini dalam domain kesenian, mengikuti metafor ekonomi, tidak ada lagi standar emas untuk penilaian suatu karya seni maupun kesenangan estetik. Seperti pula halnya dengan mata uang, kesenian hadir dalam ketidak pastian ekivalensi – mereka tidak dapat dipertukarkan, dan mengambang dalam ketidak pastian.
Nampaknya disini Baudrillard hendak mengatakan bahwa kesenian telah mati bukannya tidak ada lagi kesenian, melainkan terlampau banyak, tetapi tidak mempunyai kaitannya dengan judgment ‘penilaian’, dan bersifat indifferent – suatu keadaan inertia sebelum stasis; dimana ada stasis disana juga ada metastasis. Serupa dengan kanker, sel-sel sehat menjadi mati dan kemudian sel-sel berkembang dengan cepatnya dengan tidak beraturan. Stasis dan metastasis. Ringkasnya, dalam kekacauan kesenian masa kini, orang dapat membaca pecahnya suatu genetic code, pecahnya the secret code of aesthetics.
Pada transestetik masa kini, utopia dalam kesenian sudah sepenuhnya tercapai; melalui media, komputer, dan video setiap orang menjadi seorang kreator yang potensial. Bahkan dalam gerakan anti-art yang merupakan gerakan terakhir yang paling radikal dari utopia artistik, sudah direalisasikan sejak Andi Warhol menyatakan dirinya ingin seperti mesin dan sejak Marcel Duchamp menampilkan rak-botolnya sebagai obyek yang sakral. Keseluruhan mesin industri dunia menjadi estetik, ketidak jelasan dunia dirubah menjadi estetik.
Perdagangan dunia Barat yang mendunia dengan komoditasnya, sebenarnya adalah membuat dunia menjadi estetik, dengan kosmopolitannya mise-en-scène, mise-en-images, dengan organisasi semiologikal-nya. Apa yang kita saksikan sekarang, diatas materialisme komersial, adalah suatu materialisasi semiotik, suatu semiologi dari segalanya, melalui periklanan, media dan image.
Pada transestetik kesenian bertumbuh dengan cepatnya, tetapi secara diam-diam kita adalah iconoclast ‘menghancurkan citraan’ tersebut karena where there is nothing to be seen ‘tidak ada lagi yang dapat dilihat’. (TTT:13). Suatu citraan tanpa jejak dan konsekwensi, akhirnya sirna.
Satu-satunya faedah yang dapat diambil dari Campbell soup nya Andi Warhol adalah hilangnya pertanyaan akan keindahan dan keburukan, yang nyata dan tidak nyata, transendental dan imanen. Citraan tersebut adalah seperti icon; kita melihatnya sebagai suatu karya seni dengan mengabaikan eksistensinya.
Faktanya icon bukanlah obyek estetik. Icon adalah obyek ritual dan digunakan untuk keperluan ritual. Baudrillard disini bermaksud untuk menyarankan bahwa seluruh kesenian kita, lukisan kontemporer misalnya, adalah sebagai suatu ensemble ritual dengan maksud suatu ritual dari fungsi antropologikal, tanpa referensi pada penilaian estetik.
Perubahan yang tak terduga itu, baik dibidang estetik, politikal maupun seksual membawa kita kepada asal dan tujuan dari nilai. Dalam hal ini Baudrillard menyitir kembali tesisnya yang terdapat dalam bukunya, Symbolic Exchange and Death, yaitu: Terdapat tiga tahapan simulacra, pertama, tahapan alamiah yang berkaitan dengan use-value, tahapan mercantile ‘perdagangan’ yang berkaitan dengan exchange-value dan tahapan struktural dengan sign-value-nya. Namun kali ini ia tambahkan tahapan keempat dari nilai, yaitu tahapan fractal (yang dapat dikaitkan dengan teori fractals dalam matematika) atau disebut juga tahapan viral yang tidak mempunyai referen sama sekali.
Pada tahapan fractal tidak ada lagi persamaan alamiah maupun umum. Juga tidak terdapat segala hukum nilai, dialektikal atau struktural. Hanya terdapat semacam epidemik dari nilai, suatu metastasis nilai yang umum; semacam pertumbuhan yang cepat dan multiplikasi organik yang problematik. Baudriilard kemudian menganjurkan untuk tidak lagi memakai istilah value ‘nilai’, seperti yang ia katakan: “In order to be rigorous, one should not use the word value any longer since this kind of acceleration and chain reaction nullifies all evaluation”. (TTT: 16). ‘Supaya lebih ketat lagi, maka tidak perlu menggunakan kata nilai lagi karena percepatan semacam ini dan reaksi berantainya menihilkan segala evaluasi’. Selanjutnya ia mengatakan bahwa:

The reckoning of value in terms of beautiful or ugly, good or evil, true or false is as imposssible as the simultaneous calculus of a particle’s speed and position. Each particle follows its own movement, each value or fragment of value shines momentarily in the sky of simulation, then disappears into void, according to a broken line which will only cross other lines occasionally. This is the very schema of fractals and it is the present schema of our culture. (TTT: 16).

Terjemahannya:
Memperhitungkan nilai dalam artian keindahan atau keburukan, baik atau jahat, benar atau salah adalah tidak mungkin seperti halnya kalkulus yang secara serempak berkenaan dengan kecepatan dan posisi partikel. Setiap partikel mengikuti gerakannya sendiri, setiap nilai atau fragmen dari nilai bersinar sesaat di langit simulasi, dan kemudian sirna kedalam kekosongan, sesuai dengan garis putus yang kadang-kadang hanya bersilangan dengan garis lainnya. Skema fractal semacam ini hadir pada skema kebudayaan kita.

Mulai hari ini terdapat suatu multiplikasi fractal dari citra tubuh. Bila kita melihat lebih dekat, semua tubuh dan wajah nampak sama. Pembesaran pada wajah adalah secabul (obscene) sebagaimana halnya suatu organ seksual dilihat dengan sangat dekat. Setiap citra, setiap bagian dari tubuh dilihat dari dekat adalah suatu organ seksual. Adalah promiscuity ‘persetubuhan (tanpa pandang bulu)’ terhadap detail, pembesaran – zoom – yang memberikan suatu nilai seksual. Perhatian yang berlebih-lebihan terhadap detail menarik perhatian kita, atau lebih tepatnya percabangan, multiplikasi serial dari detail yang sama. Terdapat suatu extreme promiscuity ‘persetubuhan tanpa pandang bulu yang ekstrim’ dalam pornografi yang menguraikan tubuh sekecil-kecilnya, gestures kepada gerakan yang paling dasar. Hasrat kita akan citra kinetik yang baru ini juga adalah digital, fractal, artificial dan sintetik karena itulah suatu definisi yang terkecil.

Komputer
Manusia menciptakan mesin pintar karena mereka secara diam-diam putus asa terhadap kecerdasannya atau mereka dalam bahaya dengan menanggung beban pikirannya yang tak berguna dan menakutkan tersebut dan mengalihkannya kepada mesin – dengannya kita dapat bermain dan bercanda. Kita menjadi terbebas dari kewajiban akan pengetahuan, sama seperti halnya kita menyerahkan dan mempercayakan kekuasaan kepada para wakil-wakil politik. (Evil: 51).
Manusia putus asa dengan keunikannya atau dapat hidup tanpanya dan menyerahkannya kepada mesin pintar yang unik – menikmati proxy ‘fungsi atau substitusi kekuasaan’ pada komputer, dan dengan memanipulasinya, manusia makin cenderung kepada spectacle of thought daripada pikiran itu sendiri.
Artificial intelligence ‘kecerdasan buatan’ disebut juga virtual, karena manusia dapat menyimpan pikirannya secara tak terbatas, dalam upaya pencapaian pengetahuan yang lengkap. Tindakan berpikir menjadi berakhir untuk selamanya.
Manusia masa depan bercinta dan belajar (teleconference) melalui layar, adalah generasi yang lumpuh mental maupun fisiknya, karena hidup sebagai operational mesin virtual; didalam fisik dan mentalnya telah ditanamkan prostheses – suatu species tanpa kemampuan berpikir. Barangkali mereka adalah cyborg
Pertanyaan antropologis tentang apakah saya manusia ataukah mesin menjadi tidak akan pernah memperoleh jawabannya; kita merasakan, menyaksikan akhir dari antropologi yang secara magis disingkirkan oleh kecanggihan komputer belakangan ini.
Tidak adalagi kebebasan, pilihan maupun keputusan akhir. Semua keputusan berkaitan dengan networks, screens, informasi atau komunikasi bersifat serial, partial, fragmentaris dan fractal.
Komputer tidak mengalienasi manusia, melainkan membentuk jaringan yang terintegrasi dengan manusia. Alienasi antar manusia adalah hal yang sudah lalu: “… now man is plunged into homeostasis by machines”. (Evil: 59).







Bab 5
KESIMPULAN


NILAI DAN TUJUANNYA33


Seperti halnya Marx, Baudrillard memimpikan hilangnya perbedaan kelas dalam masyarakat, dan wilayah sosial menjadi transparan sebagai akibat dari krisis kapital yang tak terelakkan. Baudrillard juga memimpikan, mimpi menentang Marx, yaitu penolakan terhadap postulat ekonomi. Baudrillard melakukan alternatif radikal dengan penolakannya terhadap pentingnya ekonomi dan politik: ekonomi politik sirna sebagai epiphenomenon ‘fenomena sampingan’, terpukul oleh simulacrum nya sendiri dan oleh logika yang lebih tinggi. Namun kini mimpi itu tidak perlu lagi, karena ekonomi-politikal telah menghilang dan menjadi spekulasi trans-ekonomik yang menistakan logikanya (hukum nilai, pasar, produksi, surplus-value, logika kapital). Politikal ekonomi berkembang kedalam suatu permainan, mengambang, aturan yang mengada-ada, suatu jeu de catastrophe – ia berakhir dalam parodi. Spekulasi bukan lagi surplus-value, melainkan ekstasi nilai, tanpa referensi dari produksi maupun kondisi yang nyata. Spekulasi adalah bentuk kosong dan murni, nilai yang telah dinetralisasi, mengorbit dan berevolusi sendiri.
Gagasan Nietzsche mengenai transvaluation of all values telah terwujud dalam kebalikannya: involution of all values. Diesseits von Gut und Böse. Requiescat Nietzsche.
Baudrillard memimpikan suatu transgressive, excessive mutation of values, namun apa yang terjadi adalah regressive, recessive, involutive mutation.
Seluruh sistem, termasuk sistem nilai telah kehilangan referensi dan melampaui batasnya, menjadi metastatic ‘tumor yang menjalar’. Oleh karena itu sex bukan lagi sex, politik bukan lagi politik dan estetika menjadi seperti suatu filterable virus. Semua kategori telah jatuh kepada semacam hypersyncretism, homeostasis ‘keseimbangan’ dan indistinction.
Virality of value ‘nilai yang telah tercemar oleh virus’ – yang pada akhirnya menanamkan virus dan menjalarkannya dengan cepat merupakan suatu strategi fatal – aliran liar uang di bursa saham, apakah merupakan pencapaian utopia dari nilai?
Apa yang dapat disusun berhadapan dengan destiny of value adalah destiny of form. Seluruh bentuk-bentuk (estetika, moralitas, ideologi) lebur kedalam nilai-nilai, seperti misalnya energi lebur kedalam panas. Namun nilai-nilai juga, oleh suatu proses percepatan yang tiada hentinya, berakhir membingungkan, indifferent and equivalent, dalam suatu fractal, random, statistical universe. Dalam hal ini kita telah kehilangan use-value, exchange-value, yang telah dihancurkan secara habis-habisan oleh spekulasi – bahkan kita telah kehilangan sign-value untuk suatu indefinite signaletics, hilangnya segala logika tanda untuk suatu undifferentiated circulation of machine logics. Sign lalu tidak seperti apa adanya. Physical entropy, metaphysical entropy: setiap nilai berada dibawah sign of entropy, dan setiap difference berada dibawah sign of indifference. Semua yang hidup berdasarkan difference akan sirna oleh indifference. Semua yang hidup berdasarkan nilai akan sirna oleh equivalence. Semua yang hidup berdasarkan makna akan sirna oleh insignificance. Hal ini disebabkan karena kita tidak tahu lagi apa yang benar dan salah, apa yang baik dan buruk – kita telah menyimpan, merekam, memelihara segalanya – dari sinilah munculnya devaluasi yang tak terelakkan.
Berhadapan dengan differential play of value, adalah dual play of form: reversibility and metamorphosis. Semua bentuk-bentuk adalah singular dan tidak dapat dibandingkan satu sama lainnya; hal inilah yang membuat kita dapat mengalaminya, sebagaimana halnya bahasa, sebagai suatu happy catastrophe – atau seperti dualitas maskulin dan feminin, yang hadir untuk merayu satu sama lainnya, tanpa pernah ada rekonsiliasi. Tidaklah aktif atau pasif, subyek atau obyek, tunggal atau majemuk: inilah dual and reversible mode, dimana dari satu bentuk ke bentuk yang lainnya mempertahankan suatu jarak radikal dan secret connivance – a predestined progression.
Metamorphosis sendiri adalah suatu happy catastrophe: upaya yang tiada hentinya untuk merubah dari satu sex kepada yang lainnya, dari satu idea ke idea yang lainnya, nada, kata dan warna. Perubahan dari manusia ke inhuman, dari dan melalui siklus total dari appearances ‘penampakkan’, bentuk-bentuk dan substansi, secara berturut-turut: tumbuh-tumbuhan, mineral, binatang dan manusia. Kenapa tidak suatu bentuk superhuman bila manusia tidak lagi menjadi tujuan?
Berhadapan dengan hipotesa nilai yang buruk, adalah hipotesa bentuk yang menawan (enchant). Bila segala nilai menghilang dalam proses yang tak terelakkan, maka bentuk-bentuk tidak dapat dihancurkan – paling tidak dalam mimpi. Dan jebakan yang dapat membuat kita jatuh kedalamnya, adalah harapan untuk menyelamatkan segala nilai, berapapun juga harganya – bila kehilangan fundamental tersebut adalah hilangnya bentuk-bentuk.

5.2. Relevansi Pemikiran Baudrillard bagi Indonesia
Pusat perhatian Baudrillard adalah kepada kebudayaan masa kini, oleh karena itu mengaitkan pemikiran Baudrillard dengan Indonesia berarti membicarakan kebudayaan Indonesia masa kini; adalah sulit untuk membahasnya dengan ringkas, karena hal ini dapat merupakan tesis tersendiri. Adalah lebih baik untuk membicarakan beberapa saja fenomena di Indonesia berikut dibawah ini:

5.2.1. Homo Consumans di Indonesia
Monopoli kapitalistik yang mendunia telah menciptakan sistem obyek, code, yang dengan mudahnya menjerat masyarakat Indonesia yang “latah” dan tidak kritis kedalamnya. Indonesia adalah keranjang sampah simulacra, apapun juga, berharga maupun tidak, prestisius ataupun tidak, semakin dikonsumsi oleh massa secara rakusnya. Kita menyaksikan simulacra berkembang-biak dengan suburnya: “Taman Impian …”, mall-mall impian yang berisi obyek-obyek impian, real-estate gaya Renaissance, Victorian, anak-anak muda berseliweran dengan sepatu olah-raga mahal yang tidak ada urusan dengan olah-raga, game, simulasi komputer menjadi mainan sehari-hari sampai dengan ke pelosok-pelosok desa, dan sebagainya.
Iklan adalah agen dari monopoli kapitalistik –- suatu kebudayaan reklame -- yang membius masyarakat kita dalam keadaan ekstatik (shabu-shabu,putau, dan sebagainya hanyalah ekspresi dari masyarakat kita yang dalam keadaan ekstatik), sehingga dibuat dan membuat kita lalai untuk mengolah tanah air kita yang kaya dan subur, dan membiarkannya diolah oleh mereka. Perut kita tidak kenyang dengan nasi “digital”, kita masih butuh nasi yang konkrit.



5.2.2. Globalisasi dan Universalitas

Monopoli kapitalistik telah menyebarkan virus globalisasi keseluruh dunia.
Global adalah dimana semua perbedaan menjadi sirna, yaitu suatu sirkulasi murni dan sederhana dari pertukaran. Globalisasi dan universalitas tidaklah dapat berjalan bersamaan – dapatlah dikatakan sebagai mutually exclusive. Globalisasi adalah globalisasi teknologi, pasar, tourisme dan informasi. Universalitas adalah universalitas nilai-nilai, HAM, kebebasan, kebudayaan dan demokrasi. (Paroxysm: 11). Agama pun membawa nilai-nilai universalitas.
Protes yang keras disertai kekerasan dari Islam fundamentalis (Iran, Afghanistan, Iran, dsb.) atau yang memakai Islam sebagai kedok, yang membawakan nilai-nilai universal, menjadikan Islam musuh nomor satu bagi Barat (Kapitalisme). “…it’s because it’s the most vehement protest against this Western globalization that Islam is the number one enemy today”. “…Islam karena ia melakukan protes disertai kekerasan terhadap globalisasi Barat, menjadikan Islam musuh nomor satu dewasa ini’ (Paroxysm: 13-4).
Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam (84%), walaupun tidak fundamentalis dan keras, menjadi pantauan pula oleh Kapitalisme.

5.2.3. Simulacrum di Indonesia

Indonesia yang belum lagi mempunyai landasan yang kokoh dalam industri metallurgic-nya, telah terseret dan diseret oleh monopoli kapitalistik kedalam ruang semiurgic, masuk kedalam hiperrealitas. Kita menyaksikan disinipun terjadi seksualitas, estetik dan politik yang melampaui batas-batasnya – transsexuality, transaesthetics, transpolitics; seperti virus ia merasuk keseluruh sendi-sendi masyarakat dan mengubah cara pandang kita terhadap dunia.
Kita menyaksikan bermunculannya AIDS, kanker di Indonesia sebagai suatu bentuk pathology, transsexuality dan transvestitism ‘banci’ sebagai bentuk sexual, dan secara umum adalah estetik.
Kita menyaksikan beberapa artis kita, seperti halnya Michael Jackson, bermetamorfosa melalui plastic-surgery dan bio-teknologi menjadi in-human, suatu dehumanisasi konkrit. They are more beautiful than beautiful, they are fascinating.
Kita menyaksikan matinya kesenian kontemporer Indonesia; bukannya tidak ada melainkan terlampau banyak: setiap hari dapat kita saksikan pameran kesenian dimana-mana di Jakarta, namun tidak bermakna.
Kita menyaksikan kesemuan demokrasi, para wakil rakyat yang berbicara dalam idiom masing-masing, bukanlah merupakan syntax yang benar (seperti juga reklame) dan tidaklah bermakna dan menjadikan kita makin bertambah dalam keadaan ekstatik. Politik dan kekuasaan bukanlah termasuk bidang yang relevan dengan hiperrealitas, sehingga membuatnya menjadi tidak bermakna. Barangkali presiden kita yang berikutnya adalah cyborg.


5.2.4. Masyarakat Indonesia?

“Indonesia” dan kebudayaannya adalah identitas dalam pertanyaan.
Masyarakat tradisional “Indonesia” terdiri dari sekitar 13.677 pulau, 350 kelompok etnik dan kebudayaan, serta 219 juta penduduk (sensus tahun 1990). Masyarakat tradisional ini pernah eksis karena mempunyai akar primordial yang kuat, dan berangsur-angsur memudar tergerus oleh modernisasi dan ideologi nasional.
“Masyarakat Indonesia” adalah pseudo-masyarakat, bukanlah masyarakat dalam artian yang sebenarnya, barangkali hanyalah merupakan mass-consumer belaka. “Masyarakat Indonesia” tidaklah ada melainkan massa yang tidak mempunyai akar primordial, makna, orientasi dan tujuan. Kesadaran akan identitas belakangan ini, mengembalikan orang-orang ke suku-sukunya masing-masing, dan meninggalkan Indonesia dalam keadaan kosongkah?
Hiperrealitas dan globalisasi yang bersifat omnipotent menghapus segala perbedaan; apakah bangsa ini akan hilang, ataukah dapat eksis tanpa identitas?
Barangkali simulacrum itu sendiri harus dimatikan karena merupakan parody dari monopoli kapitalistik, sehingga kita bisa memperoleh kembali identitas kita. Atau dapatkah kita hidup tanpa identitas?

GLOSARIUM


Accursed share (La Part Maudite; the Devil’s share):

pemikiran Georges Bataille (1897-1962) tentang karakteristik esensial dari ekonomi ‘umum’, dilihat sebagai totalitas alamiah – seperti halnya matahari yang memberikan energinya kepada bumi, tanpa mengharapkan balasan; atau dalam pengertian manusia adalah pemborosan kekayaan melalui useless expenditure ‘pengeluaran biaya yang sia-sia’. Adalah mungkin untuk menunda pemborosan ini melalui akumulasi dan pertumbuhan dengan menyalurkannya kepada regularitas operasi produktif. (hlm. 45). Namun karena pertumbuhan memerlukan pengendalian (melalui rencana rasional: menabung, investasi, bekerja) – Bataille menyebut jenis ekonomi sampingan ini sebagai restricted ‘terbatas’. ‘Nothing is more different from man enslaved to the operations of growth than the relatively free man of stable societes. The character of human life changes the moment it ceases to be guided by fantasy (hlm. 45)
Semenjak utilitas menjadi kesadaran yang menuntun kehidupan, seperti halnya dengan ekonomi Barat, maka tumbuhlah suatu pengetahuan yang agak jelas, namun ‘cannot become full self-knowledge’ (hlm. 46). Menurut Bataille pengetahuan manusia tergantung kepada pengakuan akan adanya pemborosan berlebihan yang tidak masuk akal dari energi kehidupan: fakta bahwa lahan yang kita tinggali lebih kecil bila dibandingkan dengan wilayah penghancuran yang banyak (hlm. 23). Menolak adanya keharusan penghancuran surplus energi, konsumsi tak berguna dan mewah –- maka energi tersebut yang akan menghancurkan kita34.
Dalam pengertian Bataille, accursed share adalah sesuatu yang tidak dapat dipertukarkan menurut prosedur pertukaran yang konvensional. Upacara ritual pengorbanan dapat mengembalikan keseimbangan dari suatu bentuk yang mengalami ketimpangan. Pada masyarakat primitif terdapat dua tingkatan pertukaran, yaitu yang rutin dan yang menggunakan upacara ritual pengorbanan. Menurut Bataille yang terakhir ini digunakan sampai habis (Baudrillard menolaknya: keseimbangan baru akan terbentuk). Ekses fantastik ini berasal dari matahari atau cinta, dan energi ini harus digunakan. Bila hal ini tidak bekerja, maka masyarakat itu berada dalam bahaya. Menurut Baudrillard pada masyarakat sekarang ini, kita tidak mungkin lagi dapat berbicara tentang evil dan menggunakan accursed share secara ritual. Hal ini disebabkan pada fakta bahwa terlampau banyak yang diproduksi, signs, barang-barang, kekayaan – dan barangkali juga terlampaui banyak orang. Sudahlah diketahui bahwa pemborosan pada masyarakat konsumer serupa dengan potlatch, dan segala hal yang tidak ekonomis dapat dimasukan sebagai semacam accursed share. (Paroxysm: 26).

Anagram35

Saussure mengatakan bahwa “The revolution will be symbolic or will not be at all” (Ecstasy: 78).
Gagasan Saussure tentang Anagrams, hypograms dan sebagainya adalah suatu prinsip yang menata puisi klasikal. Saussure melakukan analisa phonetic yang cermat terhadap Homer, Virgil, Lucretius, Horace dan Ovid. Saussure berpendapat bahwa huruf-huruf atau bunyi dalam suatu kata atau nama dalam puisi, menyajikan suatu tema formal atau motif, akan muncul pada permulaan setiap puisi.
Menurut Baudrillard, anagram adalah struktural linguistik bagi Saussure, death instinct adalah psychodynamics bagi Freud, dan gift sosiologi bagi Mauss. Dalam anagram terdapat unsur permainan yang spontan tanpa tujuan apapun, sehingga dengan mudah kita dapat membaca konsep ritual dan upacara, demikian juga halnya dengan seduction sebagai suatu prinsip anti-utilitarian dari makna. (Levin: 264-5).

Avant-garde

Adalah gerakan revolusioner dan modernisasi dalam kesenian. Suatu gerakan kesenian dengan gagasan, metode baru dan eksperimental.

Chora36

Istilah ini ditarik dari tulisan Plato, Timaeus, oleh Julia Kristeva dalam La révolution du langage poétique (1974) yang maksudnya adalah “a non-expressive totality formed by the drives and their stases … an essentially mobile and extremely provisional articulation” (p.25). Menurut Kristeva, chora ini adalah mendahului sign and syntax. Karena chora mendahului perolehan bahasa dalam perkembangan kematangan subyek, maka chora adalah pra-Simbolik dan karenanya pra-Oedipal. Chora berkaitan erat dengan konsep Freud tentang primary process, yang berfungsi seolah-olah diluar waktu, ketiadaan negasi dan hukum kontradiksi. Untuk membedakan chora dengan Symbolic (i.e. the signifying modality of language), Kristeva menghubungkan Chora dengan Semiotic, yang ia definisikan sebagai “psychosomatic modality of the signifying process” (p. 28).

This is the sensorimotor dimension of the body as signifying material: rhythm, beat , texture, pitch, timbre, shape, volume, gesture, etc., and their primitive relations to the erogenous zones, to the flows, breaks, densities, intervals, fragmentations and condensations of proto-articulate experience. The semiotic dimension is ‘indifferent to language, enigmatic and feminine … rhytmic, unfettered, irreducible to its intelligible verbal translation (p. 29).

Terjemahannya:
Ini merupakan dimensi sensorimotor dari tubuh sebagai material penandaan: irama, hentakan, tekstur, pitch, timbre, bentuk, volume, gerak-isyarat, dan sebagainya, dan relasi primitifnya dengan daerah peka seksual, kepada aliran, berhenti, kepekatan, interval, fragmentasi dan kondensasi dari pengalaman artikulasi yang asli. Dimensi semiotik bersifat netral terhadap bahasa, sulit untuk dipahami dan feminin … berirama, tanpa hambatan, tidak dapat direduksi kepada terjemahan verbal yang dapat dimengerti.

Menurut Kristeva, tubuh ibu adalah prinsip yang memberikan chora semiotik, yang berada pada jalur penghancuran, agresivitas dan kematian (hlm. 27-8). Sebagai mana dimensi tubuh yang tidak dapat direduksi, chora berfungsi sekaligus sebagai prakondisi dan negasi yang mengganggu, atau mencerai-beraikan, terhadap identitas sosial dan linguistik yang teratur, khususnya the imaginary ego-identity dari subyek dalam ‘tahapan cermin’, dan organisasi phallocentric dari subyek Oedipal. Berkaitan dengan ini, chora mengingatkan kita kepada konsep Baudrillard tentang symbolic exchange, yang mengantisipasi dan mengolah lebih lanjut gagasan Kristeva (FCPES, 1972).

Code37

Code adalah kata teknikal yang dipakai Baudrillard secara metaforis dari linguistik dan semiotik. Code dalam pengertian Baudrillard adalah semacam supraordinate combinatorial ‘logic’ yang membatasi makna-makna yang dapat diungkapkan, pengalaman yang dapat dibagi, dalam suatu sistem sosial atau kebudayaan. Tiga tahapan simulasi (Death) merupakan contoh dari code.

Death38

Kematian tidaklah dipahami sebagai suatu kejadian kematian terhadap subyek maupun tubuh, melainkan sebagai bentuk dimana determinasi diantara subyek dan nilai hilang. Reversibilitas sekaligus mengakhiri determinasi dan indeterminasi. “It puts an end to bound energies in stable oppositions, and is therefore in substantial agreement with theories of flows and intensities, whether libidinal or schizo”. Pelepasan dari energi-energi adalah bentuk dari sistem sekarang, yaitu suatu strategi pergerakan nilai yang tak menentu. Sistem dapat diteruskan atau diputuskan, tetapi semua energi-energi yang dibebaskan pada suatu waktu akan kembali: hal ini menjelaskan bagaimana datangnya konsep-konsep energi dan intensitas; sehingga menjadi tidak mungkinnya membedakan ekonomi libidinal dari ekonomi politik (lihat Jean-François Lyotard, Libidinal Economy [tr. I.H. Grant, London: Athlone, 1992] tentang sistem nilai; dan tidak mungkinnya membedakan capitalist schizzes dari revolutionary schizzes (lihat Giles Deleuze dan Félix Guattari, Anti-Oedipus: Capitalism and Schizophrenia I [tr. R. Hurley, M. Seem dan H.R. Lane, London: Athlone, 1984]. Karena sistem adalah master: seperti Tuhan yang dapat menyatukan maupun melepaskan energi-energi; namun apa yang tak dapat ditolak atau dihindari adalah reversibilitas. Hanya reversibilitas saja, daripada melepaskan atau membiarkannya bergerak tak menentu, adalah fatal. Inilah persisnya apa yang dimaksudkan dengan symbolic ‘exchange’.

Différance39
Suatu neologisme falsafati dari Jacques Derrida yang mengubah imbuhan ‘a’ kepada kata benda ‘difference’ sehingga menggabungkan konotasi aktif dan pasif dari kata kerja ‘to differ’ (non-identity) dan ‘to defer’ (delay). Seperti halnya Baudrillard, dengan ketidak sukaannya terhadap ‘realisasi’ utopian pada apa yang sebenarnya suatu inspirasi. Derrida menolak sepenuhnya. Mengikuti Lacan dalam beberapa hal, Derrida melemahkan, jarak, lubang, absen dan penghancuran (penghapusan) ‘Being’. Seperti halnya margin dan jarak pada kata-kata dalam teks, yang memungkinkan efek semantik. Différance bukanlah ‘existent’ dari sesuatu (satu dari yang hanya beings fenomenal dari Heidegger {seindes} yang ‘menyembunyikan’ ‘Being’ yang sesungguhnya {Sein}). Tetapi différance bukan juga Being, karena différance berdasarkan kepercayaan populer terlalu diaphoric, terlalu banyak gerakan walaupun banyak rintangan, selalu tidak pasti dan lambat. Différance tidak dimaksudkan sebagai ontological substratum, atau dimaksudkan sebagai semacam absennya God-like, non-being dari teologi negatif. Différance bukanlah sebuah konsep, sign, signified maupun signifier; tidak merupakan kehendak untuk berkuasa, kekuatan, drive, libido, maupun death instinct dari Freud, walaupun mungkin lebih dekat kepadanya. Deskripsi yang vulgar dari différance dapat dikatakan: “the play of spacing and tracing which somehow occurs as silence passes into utterance and back”. Différance adalah (non)concept yang menarik bagi teori kebudayaan. Différance mempunyai kaitan dengan chora dari Kristeva, dan aspek symbolic exchange, seduction, dan fatal strategy dari Baudrillard.


Evil

Evil, The principle of Evil bukanlah suatu prinsip moral, melainkan suatu prinsip instabilitas dan vertigo, kompleksitas, sesuatu yang asing, rayuan, inkompatibilitas, antagonisme, dan sesuatu yang tidak bisa direduksi. The principle of Evil juga jauh dari prinsip kematian. Ia adalah prinsip vital dari disjunction. Semenjak Garden of Eden, Evil selalu dekat dengan kita, sebagai prinsip dari knowledge ‘pengetahuan’. Bila kita dikeluarkan dari surga karena dosa akan pengetahuan, maka kitapun dapat meraih manfaat yang maksimum dari pengetahuan tersebut. Upaya untuk melepaskan diri dari accursed share atau the principle of evil akan mengakibatkan terbentuknya suatu surga baru yang palsu, berdasarkan konsensus, yang mengandung prinsip kematian yang sebenarnya. (Evil: 107).


frac·tal [frákt’l] noun (plural frac·tals)

repeating geometric pattern: an irregular or fragmented geometric shape that can be repeatedly subdivided into parts, each of which is a smaller copy of the whole. Fractals are used in computer modeling of natural structures that do not have simple geometric shapes, for example, clouds, mountainous landscapes, and coastlines.

adjective
of fractals: involving or relating to fractals

[Late 20th century. From French, coined by the mathematician Benoît Mandelbrot from Latin fract-, the past participle stem of frangere, (see FRACTION).]40

Gestell41 ‘bingkai’

Gestell adalah istilah Heidegger untuk ‘sistem teknologikal’, seperti yang dijelaskan dalam The Question Concerning Technology. Baudrillard tidaklah sebenarnya menggunakan istilah ini, maupun secara langsung dikaitkan dengan pemikiran Heidegger; namun pengaruh Heidegger berkenaan dengan kajiannya akan ‘Metafisika Barat’ ada dimana-mana dalam karyanya. Singkatnya, Heidegger melihat metafisika merupakan kecenderungan pemikiran Eropa semenjak Plato mengasumsikan bahwa realitas adalah transparan dan rasional – dengan kata lain, terstruktur berdasarkan bentuk akal dan prinsip logika. Sebelum Plato, Pythagoras sudah berspekulasi dengan cara yang mistis, bahwa harmoni alamiah dan bilangan memberikan kunci kepada hakekat Ada (melalui perbedaan diantara bilangan rasional dan irrasional). Kredibilitas intuisi ini diperbesar dan diperkuat oleh ilmu pengetahuan modern, terutama melalui kekuatan konseptual dari fisika matematikal. Heidegger melihat bahwa rasionalisme abstrak dari jaman kuno dengan cepatnya berkembang, semakin terwujud secara konkrit melalui kekuatan pembentukan sosial material dari teknologi. Masalahnya adalah Gestell metafisika dan teknologi tidaklah sekedar kerangka kerja, melainkan suatu saringan yang menyaring segala hal yang tahan terhadap kodifikasi dalam bentuk rasional. Konsekwensinya, Heidegger percaya bahwa Being beralih menjadi beings – hanya sebagai fenomena. Setelah kematian Heidegger, semakin menjadi jelas bahwa physical engineering technologies dan abstract knowledge technologies telah bertemu. Hal ini terutama melalui komputer, yaitu konsekwensi konsolidasi dari Gestell. Baudrillard adalah salah satu yang pertama kali mengolah teori teknologi Heidegger dengan cara ini, terutama dalam critique of the political economy of the sign (FCPES) – yaitu analisanya tentang digitalisme dari tahapan ketiga simulasi, dan revolusi struktural dari nilai (Death).

Globalization and Universality
Global adalah dimana semua perbedaan menjadi sirna, yaitu suatu sirkulasi murni dan sederhana dari pertukaran. Globalisasi dan universalitas tidaklah dapat berjalan bersamaan – dapatlah dikatakan sebagai mutually exclusive. Globalisasi adalah globalisasi teknologi, pasar, tourisme dan informasi. Universalitas adalah universalitas nilai-nilai, HAM, kebebasan, kebudayaan dan demokrasi. (Paroxysm: 11).

Fatal Strategy42

Buku Fatal Strategies, seperti halnya Symbolic Exchange and Death, dan Seduction, merupakan buku klasik utama berkenaan dengan metafisika kultural kontemporer; sebagai suatu exercise dalam spekulasi murni ( dalam artian irrasional dan excessive gambling) dan juga tour de force yang tidak lazim. Dapat dikatakan bahwa fatal strategy untuk menjadi obyek, obyek yang merayu – “not give a damn about one’s own being” (FS: 139) – subyek membiarkan “play of the world” ‘permainan dunia’, penampakkannya, ilusi dan rahasianya. Ironi berlaku pada benda-benda dan kejadian-kejadian, yang didorong pada ekstrimnya, dan melampaui maknanya sendiri. Fatal strategy juga merupakan ekstrim tersembunyi, atau bentuk “ecstatic”, yang mengandung rahasia dari yang nyata:
The real does not efface itself in favor of the imaginary … [but] the more real than real: the hyperreal. The truer than true: this is simulation.
Presence does not efface itself before emptiness, but before a redoubling of presence which effaces the opposition between presence and absence. (FS: 11).

Fatal strategy bukanlah merupakan strategi politik, aktif maupun pasif, tetapi merupakan semacam identifikasi magikal berkenaan dengan obyek. Fatal strategy muncul bersamaan dengan ‘objective irony’ dari benda-benda – suatu ironi yang dimiliki sistem, yang tumbuh dari sistem karena sistem secara konstan berfungsi melawan dirinya (Evil: 48). Oleh karena itu oposisi berasal dari sistem itu sendiri, suatu absurditas intrinsik.
The world is not dialectical – it is sworn to extremes, not to equilibrium, sworn to radical antagonism, not to reconciliation or synthesis. This is also the principle of Evil, as expressed in the ‘evil genie’ of the object, in the ecstatic form of the pure object and in its strategy, victorious over that of the subject. (FS: 7).

Hyperreality43

Hyperreality berkaitan dengan tahapan ketiga dari simulacra, efeknya adalah sekaligus bentuk estetik dan epistemologikal dari simulation (Death 70-5). Terdapat hubungan tematik diantara hyperreality of simulation dengan Gestell dari Heidegger (pembingkaian pengalaman kita akan Being melalui teknologi) yang dapat diartikulasikan sebagai dekonstruktif, reproduktif dan kapasitas rekonstruktif dari teknologi digital. Tetapi hyperreality dan simulation bukanlah kategori yang terpisah dari realitas. Melainkan suatu cara untuk menghadirkan dan menerima realitas – singkatnya, ini adalah realitas yang diterima tanpa otherness. Dalam arti, hyperreality menghilangkan ruang dimana scene dari realitas dapat dihadirkan. Baudrillard kadangkala mengatakan bahwa hyperreality adalah obscene. Obscenity muncul bila tidak adalagi spectacle, stage, theatre, illusion, bila segalanya menjadi langsung transparan, nampak, dibuka secara blak-blakan dalam informasi dan komunikasi (Ecstasy: 21-2). Hyperreality adalah bentuk ecstatic dari komunikasi, yang berarti bahwa hyperreality adalah reality as if overexposed, didorong ke ekstrim, in manic flight from itself, Jarak diantara apa yang nyata dan apa yang dapat dibayangkan menjadi dihapuskan. Tidak ada lagi rahasia, atau illusions of interiority.
Pada saat yang bersamaan the hyperreality of simulation has eerie quality of the uncanny, of the déjà vu – a hallucinatory resemblance of the real to itself (Death: 72). Yang nyata reduplicates dirinya secara tak terbatas, fractally, en abyme, dan kita merasa terperangkap didalamnya: we have passed alive into the models (FS: 9). Baudrillard menganalogikannya dengan pemimpi yang sadar bahwa ia mimpi: suatu jarak simbolik menjadi terbentuk dimana proses mimpi dapat berjalan tanpa gangguan (Death: 74). Dengan membuat teori hyperreality semacam ini, sebagaimana halnya evolusi kultural berjalan bersamaan dengan crisis of representation, suatu pertarungan diantara realisme dan surealisme, Baudrillard effectively reopens the gap into which presentiments of otherness can be invited; and redraws the veil through which they can be expressed.

Mirror (fase cermin dari Lacan)

Baudrillard kerap menggunakan metafora cermin, tidaklah dapat dikembalikan ke konsep tahap cermin dari Lacan. Gagasan Lacan adalah corps morcélé, atau tubuh infantil yang terpecah, bertemu dalam citra virtual dari tubuh yang utuh sebagai identitas imaginary ego – suatu ilusi uniformitas homogen, atau konsistensi intensional. Identifikasi dengan citra virtual tidaklah dalam artian tersurat dalam suatu refleksi cermin. Imaginary ego identity ini terbentuk dalam narcissistic relationship, baik membebaskan maupun membatasi, yang dijembatani oleh kehadiran pembelajaran dari ibu dan kualitas dari tatapannya (gaze). Menurut Lacan ‘the sight alone of the whole form of the human body gives the subject an imaginary mastery over his body, one which is premature in relation to a real mastery’. Selanjutnya ia mengatakan:
This is the original adventure through which man … has the experience of seeing himself, of reflecting upon himself and conceiving of himself as other than he is – an essential dimension of the human, which entirely structures his fantasy life.44

Terjemahannya:
Ini merupakan petualangan yang asli … suatu pengalaman manusia dalam melihat dirinya, refleksi dirinya dan menerima dirinya yang lain – suatu dimensi yang hakiki bagi manusia, yang sepenuhnya menyusun kehidupan fantasinya.

Dalam The Mirror of Production, Baudrillard menggunakan retorika cermin untuk mengolah pandangan Heidegger tentang metafisika Barat yang tersusun sekitar gagasan produksi (pro-ducere), atau membuat nyata, terukur, tertata, berguna. Ia menjelaskan dengan kecermatan yang mengena tentang keyakinan diri imaginer dari ego analitis Marxis, berkenaan dengan penghayatan citra virtual dirinya dalam ‘cermin’ utilitarianisme modern, atau ekonomi politikal.45

Nihilism46

Dalam fiksi fin de siècle, nihilisme merupakan semacam anarchist terrorism yang dijelaskan oleh Dostoevsky dalam The Devils (diterjemahkan juga sebagai The Possessed)dan oleh Joseph Conrad dalam Under Western Eyes. Makna filosofis dari istilah ini terutama berasal dari Nietzsche. Nihilisme mengacu kepada kecenderungan ‘Metafisika Barat’, yang kemudian ditafsirkan secara beragam, menurunkan dan menghancurkan moral absolut dan nilai-nilai epistemologis.


Obese

Obese ‘terlampau gemuk’ adalah figur transpolitikal. Suatu anomali menawan yang dapat ditemukan dengan mudah di Amerika Serikat dewasa ini. Obesity terdapat baik pada orang-orang dan kebudayaan Amerika Serikat sebagai suatu keseluruhan. Anehnya obesity merupakan suatu cara untuk menghilangkan tubuh. Hal ini disebabkan mereka telah kehilangan mirror stage ‘tahapan cermin’ yang penting bagi anak-anak untuk imajinasi dan representasi. Lalu obesity menjadi suatu patologi scene dan obscene. (Fatal: 27-34).

Orgy

Orgy adalah momen dimana modernitas meledak dihadapan kita. Momen kemerdekaan pada segala bidang: politik, seksual, produksi, destruksi, emansipasi perempuan, kesenian dan sebagainya. Barat dewasa ini telah melampaui momen ini (after the orgy), dimana utopia telah tercapai. Apa yang dilakukan Barat after the orgy adalah melakukan simulasi orgy dan kemerdekaan. (Evil: 3-4).



pa·ta·phys·ics [ptə fízziks] noun

pseudoscience: an imaginary science invented by the French absurdist dramatist Alfred Jarry, supposedly investigating and explaining what is beyond metaphysics (takes a singular verb)

[Mid-20th century. Via French pataphysique, an alteration of Greek ta epi ta metaphusika, “that which comes after the metaphysics.”]47

Progress

Gagasan tentang kemajuan telah menghilang, namun produksi tetap berlanjut. Gagasan tentang kemakmuran yang diperoleh dari produksi telah sirna, namun produksi tetap berlanjut dan semakin menjadi-jadi. (Evil: 6).

Seduction

What makes you exist is not the force of your desire (wholly a nineteenth centrury imaginary of energy and economy), but the play of the world and seduction: it is the passion of playing and being played, it is the passion of illusion and appearance, it is that which comes from elsewhere, from others, from their face, their language, their gestures – and that which bothers you, lures you, summons you into existence; it is the encounter, the surprise of what exists before you, outside of you, without you – the marvellous exteriority of the pure object, the purest event … [B]eing doesn’t give a damn about its own being; it is nothing, and exists only when it is lifted out of itself, into the play of the world and the vertigo of seduction. (FS: 139).

Simulacra, Simulation48
Mengenai simulacra, simulation, Baudrillard diilhami oleh Samuel Beckett yang mengatakan bahwa the shadow in the end is no better than the substance.
Pada awal 70’an Baudrillard sering mengacu pada the simulation effect of organized systems. Maka, bagi Marx need dan use value (natural ontological values) nampak sebagai landasan biologikal dan antropologikal dari sistem komoditi. Menurut Marx apa yang harus dilakukan adalah membebaskan need dan use value dari kepalsuan exchange value (uang dan sistem pasar). Baudrillard menunjukkan bagaimana komoditas (use value/exchange value) digabungkan dengan sign-form (signified/signifier) untuk membentuk wacana sign-objects dalam suatu sistem tertutup yang kuat (the object system) yang menumbuhkan suatu simulacrum – halusinasi kolektif bahwa terdapat sesuatu yang solid ‘kukuh’ diluar sistem, misalnya natural values (need, use value, functionality) dan grand referents (Man, Kesehatan, Kebahagiaan, Kebebasan, Fullfilment ‘Pemenuhan Diri’, Kepuasan, Persamaan Hak, Keadilan) yang membentuk validitas mendasar dari sistem dan berguna sebagai alibi bagi eksistensinya (SO, SC, FCPS, Mirror).
Dalam Symbolic Exchange and Death, Baudrillard mengolah simulation, simulacra dalam tiga tahapan dalam sejarah yang diilhami oleh skema Marx tentang feodalisme/kapitalisme dan skema Foucault tentang epistemes. Tiga tahapan appearance sejak Renaisans sampai sekarang tersebut adalah:
Counterfeit adalah skema dominan dari periode klasik, sejak jaman Renaisans sampai dengan revolusi industri.
Production adalah skema dominan dari era industri.
Simulation adalah skema dominan pada masa kini yang dikendalikan oleh code.
Tahap pertama dari simulacrum bersandar pada the natural law of value, tahap kedua pada the commercial law of value, dan tahap ketiga pada the structural law of value.
Mendahului tiga tahapan modern tentang simulacrum diatas, Baudrillard meletakkan dunia arkaik primitif dan masyarakat feodal, dimana tanda dengan jelas terikat dengan tatanan sosial yang kaku, kasta, status atau peran. Ini adalah dunia yang sarat emosional, dunia symbolic exchange and seduction. Hidup di dunia diterima sebagai suatu ilusi, dan tidak terdapat masalah dengan realitas.
Skema ini kemudian oleh Baudrillard ditambah dengan tahapan keempat: viral atau exponential atau metastatic dari simulacrum dan nilai utamanya adalah fractal.
Gagasan umum tentang simulasi terutama berkenaan dengan revolusi intelektual cybernetics dan komunikasi, linguistik struktural, poststructuralist ‘textualism’ dan sistem-sistem teori, semuanya melarutkan substansi kedalam relasi-relasi dan entitas kedalam pola-pola organisasi.
Pertanyaannya adalah apakah terdapat hubungan yang langsung diantara simulation, simulacra dengan fenomena sosial yang diamati? Referen yang paling efektif dari Baudrillard adalah pada tingkatan epistemik – dan tidak pada realitas sosial.

Strange attractor

Attractor adalah titik keseimbangan maksimum dimana dinamika dari suatu sistem tersusun – seperti halnya titik pusat dalam ruang dimana pendulum berhenti. Strange attractor pada hakekatnya adalah koherensi tetapi eccentric organizing pattern dari suatu sistem yang ‘chaotic’ dengan banyaknya variabel. Ia mempunyai suatu struktur fractal yang dapat membiarkan proses dinamik berjalan dalam suatu variasi yang tak terhingga dalam suatu ruang yang terbatas; seperti halnya figur tiga dimensional delapan – tanpa bersilangan atau berulang secara periodik. Baudrillard mengatakan:
The strangeness of the strange attractor is merely a metaphor; the radical strangeness lies in the enigmatic duality of a world and in the inexorable contradiction (that of our will and its loss) which keeps up the indestructible illusion. (IE: 113).

Transexuality

Transexuality seperti dalam anjuran, maksimalisasi seksualitas dan minimimilasi reproduksi. Transexuality, seperti halnya transeconomics dan transaesthetics, adalah seksualitas yang melampaui wilayahnya, dan seperti halnya virus mempengaruhi bidang-bidang kehidupan yang lain. Contohnya: AIDS. (Evil: 7-9).

Value

Menurut Baudrillard terdapat tiga tahapan formal dari nilai: tahap alamiah (use-value), komoditas (exchange-value) dan struktural (sign-value). Nilai lalu mempunyai aspek-aspek alamiah, komoditas dan struktural. Setelah tiga tahapan nilai tersebut diatas, Baudrillard kemudian menambahkan tahapan keempat: fractal stage ‘tahapan fraktal’ – disebut juga tahapan viral atau radiant.Pada tahapan fractal tidak lagi terdapat nilai, selain epidemic of value – semacam metastasis umum dari nilai. Lalu pada microphysics of simulacra, tidaklah mungkin lagi membicarakan nilai: antara keindahan dan keburukan, baik dan jahat, benar dan salah. Sebagaimana setiap partikel mengikuti lintasan terbangnya (trajectory) – setiap fragmen nilai bersinar sebentar di angkasa simulasi, dan kemudian menghilang dalam kekosongan. Pola-pola ini disebut fractal yang merupakan ciri dari kebudayaan Barat dewasa kini. (Evil: 5-6).


KEPUSTAKAAN



Appignanesi and Chris Garatt

1995Introducing Postmodernism, Totem Books, New York, U.S.A
Baudrillard, Jean

1981For a Critique of the Political Economy of the Sign, translated by Charles Levin, Telos Press, U.S.A. Aslinya tahun 1972 sebagai pour une critique de l’économie politique du signe, Paris: Gallimard.
1982In the Shadow of the Silent Majorities or, the end of the Social, translated by Paul Foss, et. All, Semiotext(e), U.S.A. Aslinya tahun 1978 À l’ombre des majoritíes silencieuses, ou la fin du social. Fountenay-sous-Bois: Cahiers d’Utopiè.
1983Simulations, translated by Paul Foss, et. all, Semiotex(e), New York, U.S.A.
1988The Ecstasy of Communication, translation by Bernard Schutze and Carline Schutze, Semiotext(e), Autonomedia, U.S.A. Aslinya tahun 1987 sebagai L’Autre par lui-même, éditions Galileé, Paris.
1988America, translated by Chris Turner, Verso, London. Aslinya: Amérique, Bernard Grasset, Paris, 1986.
1989Jean Baudrillard: The Disappearance of Art and Politics, William Stearns and William Chaloupka, ed., St. Martin’s Press, New York.
1990 Seduction, translated by Brian Singer, New World Perspectives, U.S.A. Aslinya: De la séduction, Editions Galilée, 1979.
1993 Symbolic Exchange and Death, trans. by Iain Hamilton Grant, with an intro. by Mike Gane (London: Sage Publications). Originally as: L’échange symbolique et la mort (Paris: Gallimard, 1976).
1994 Simulacra and Simulation, translated by Sheila Faria Glaser, The University of Michigan, U.S.A. Aslinya: Simulacres et Simulation, Paris: Galilée, 1981.
1996The Transparency of Evil: essays on Extreme Phenomena, translated by James Benedict, London: Verso. Aslinya: La Transparence du Mal: Essai sur les phénomènes extrêmes, Paris: Galilée, 1990.
1996 The System of Objects, translated by James Benedict, Verso. Aslinya: Le systèm des objets, Paris: Gallimard, 1968.
1997Paroxysm, interviews with Phillippe Petit, translated by Chris Turner, London: Verso. Aslinya: Le Paroxyste indifferent: Entretiens avec Philippe Petit, Grasset & Fasquelle, 1997.
1998The Consumer Society: Myths & Structures, translated by Sage Publications. Aslinya: La société de consommation, Editions Denoël, 1970.
1999Fatal Strategies, translated by Philip Beitchman and W.G.J. Niesluchowski, edited by Jim Fleming, Pluto Press, London. Aslinya: Les Fatales Stratégies, Paris: Grasset, 1983.
Cobley, Paul and Litza Jansz

1997Introducing Semiotics, Totem Books, New York, U.S.A.
Horrocks, Chris and Zoran Jevtic

1997Introducing Baudrillard, Totem Books, New York, U.S.A.
Levin, Charles

1996Jean Baudrillard: a study in cultural metaphysics, Prentice Hall Europe, Great Britain.

McLuhan, Marshall

1964 Understanding Media: The Extension of Man, Mentor Book, New York, U.S.A.

Referensi dari internet
"IMPLOSION! - Main Page." http://www.uta.edu/english/apt/collab/Implosion.html (01/25/01 22:33:57)

Kellner, Douglas
Boundaries and Borderlines: Reflections on Jean Baudrillard and Critical Theory
http://www.uta.edu/huma/illuminations/kell2.htm (01/25/01 22:26:43)

Sens & Tonka, eds.

1994 Radical Thought, terjemahan dari La Pensee Radicale, Collection Morsure, Paris, 1994.


Buku-Buku Acuan:
Neufeldt, Victoria ed.
1996 Webster’s New World Dictionary, Third College Edition, New York.
Robert, Paul
1983 Le Petit Robert 1, Dictionnaire de la langue Francaise, réd. A. Rey et J. Rey-Debove ed., Paris.
Schnorr, Veronika Calderwood et al.
1982 Deutsch-Englisch, English-German, Collins: Great Britain.


Index


A
advertising 83, 109
aesthetic 44, 108
agon 90
alea 85, 90
aleatory 56, 85, 86
Althusser 47, 52
anagram 54, 55, 69, 130
anomie 8
B
Barthes, Roland 2
Bellmer 74
Benjamin, Walter 18, 28, 60
Brecht, Bertolt x, 37, 60
bricolage 8, 24
C
Caillois, Roger 85, 90
Canetti, Elias 77, 101, 102
challenge 72, 86, 94
Chaloupka, William 3
cloning 49
code 11, 16, 24, 34, 35, 37, 40, 42, 44, 46, 51, 52, 56, 58, 59, 60, 111, 132, 144
code, genetic 82, 111
coded exchange 43
consumption 23, 26, 33, 101
cool 72, 85, 86
counterfeit 58
Crusoe, Robinson 30
culture industry 28
culture, techno 43, 44
cyberblitz 44, 59
D
death deferred 56
Defoe, Daniel 30
Deleuze 65, 74
Derrida, Jacques 18, 97, 133
design 44
Dichter 21
difference 30, 33, 73, 120
DNA 49, 59
E
Enzensberger 37
exchange, gift 50, 54
expenditure 26, 34, 42, 128
F
fatal strategy 137
fetishism 10, 16, 28, 29, 35, 39, 61
Feuerbach 46
Foucault, Michael 18, 68
Foucault, Michel xi, 49, 143
Freud, Sigmund 50, 54, 72, 73, 130, 131, 134, 140
functionalism 44
G
Galbraith 23
Galbraith, J.K. 43
gaze 62, 69, 84, 88, 140
gift 33, 53, 54, 130
globalisasi 5, 124, 137
Gropius, Walter 44
Guattari 65
H
happiness 25
Heidegger, Martin 97
Helen 107
Hendrix, Jimi 1, 2
Horkheimer 18
hot 85, 86
hypercivilization 20
hyperreality 4, 11, 66, 67, 78, 82, 91, 138, 139
hysteria 86
hysteria, general 24
I
ilinx 85, 90
implosion 67, 90, 97
Irigaray, Luce 74
irruption 52
J
Jameson, Fredric 4
John, St. 81
K
Kellner, Douglas 4, 19, 20, 32, 47, 49, 150
komoditas 7, 9, 20, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 38, 39, 43, 45, 55, 83, 84, 103, 143, 145
Kroker, Arthur 4
Kroker, Marilouise 4
L
labor 8, 10, 24, 35, 40, 41, 45, 60
Lacan, Jacques 81
langue 21, 55
law, enforcement of 37
Lefebvre, Henri 2
Lenin 47
Levin, Charles 1, 6, viii, 14, 25, 27, 80, 81, 129, 130, 132, 133, 135, 137, 138, 140, 143, 147, 149
Luther 2
Lyotard, Lambasts 65
M
Marcuse, Herbert 18, 28
Marx, Karl 9, 10, xv, 26, 28, 30, 31, 33, 40, 41, 42, 46, 47, 50, 52, 53, 54, 84, 98, 118, 143
mass 8, 12, 36, 59, 60, 64, 98, 100
mass-media 32, 108
Mauss, Marcel xiv, 33, 50, 54, 81, 130
McLuhan, Marshall 4, 14, 85, 150
medium, cool 85
medium, hot 85
messages 61
metaphysics, cultural 1, 6, 14, 15, 129, 130, 140, 150
mettalurgic 43
mirror 10, 45, 81, 86, 141
N
Nietzsche, Frederich xiv, xv, 119, 141
Nietzsche, Freiderich 2, 97
Nietzsche, Friedrich 97
nihilist 14
O
objective irony 13, 138
P
paranoia 86, 90
parole 21
postmodernism 48, 50
production 10, xi, 16, 23, 34, 35, 45, 49, 58, 59, 63
psikoanalisa 11, 20, 59, 67, 69
R
reference 12, 22
reification 7, 16, 28, 36
reversibility 12, 54, 59, 60, 69, 70, 121
rules 71
S
Saussure, Ferdinand de 69
scene 81, 86, 90, 138, 141
seduction 17, 58, 70, 73, 74, 78, 86, 88, 90, 110, 130, 142, 144
semiotic 11, 16, 50, 52, 53, 58, 69, 112, 131, 132
semiurgy 11, 43, 58
sign 4, 8, 9, 20, 25, 29, 30, 32, 33, 34, 36, 38, 41, 42, 43, 44, 46, 49, 51, 56, 58, 60, 61, 64, 66, 68, 69, 76, 84, 91, 97, 111, 120, 129, 131, 136
signified 9, 36, 38, 44, 66, 143
signifier 5, 9, 30, 36, 38, 44, 143
simbolik 27, 50, 51, 52, 53, 56, 76, 83, 111, 139
simulacra 57, 59, 60, 61, 66, 113, 138, 143, 144, 146
simulacrum 4, 15, 58, 95, 107, 119, 143, 144
Simulacrum 107
simulation xii, 17, 61, 78, 79, 82, 106, 114, 137, 138, 139, 143, 144
situationism 3
society, affluent 8, 26
society, growth 26
spectacle 83, 84, 90, 99, 109, 138
Stearns, William 3
Stevenson 93
Strauss, Levi 24
symbolic exchange 27, 50, 53, 58, 81, 132, 144
syntax 21, 131
T
theory, New French 18
V
value, beyond 43
value, exchange 9, 26, 28, 30, 31, 33, 34, 36, 38, 39, 41, 42, 84, 143
value, luxury 42
value, surplus 42
value, use 9, 26, 29, 30, 31, 39, 41, 42, 143
Virilio, Paul 90
Virillio, Paul 99
W
Warhol, Andi 25, 60, 112, 113

CURRICULUM VITAE

BAMBANG UTOYO, lahir di Bandung, 28 Mei 1954, adalah anak kedua dari R. Soeharta dan Nani Aisyah.

Riwayat Pendidikan Formal
1961-66 S.D. Kepodang, Jakarta.
1967-69 S.M.P. Sumbangsih, Jakarta.
1970-72 S.M.A. Negeri III, Jakarta.
1973-81 I.T.B., Fakultas Seni-Desain, Jurusan Seni Lukis.
1984-89 U.I., Fakultas Sastra, Program Studi Filsafat.
1997-01 U.I., Fakultas Sastra, Program Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Filsafat.

Riwayat Pendidikan Informal
1968-72 belajar melukis pada Dukut Hendranoto (Pak Ooq).
1983-84 atelier de Joel Servre, Paris.

Riwayat Pekerjaan
1979-91 Fotografer profesional.
1992-93 membuat video dokumenter tentang kebudayaan Indonesia.
Salah satu pendiri Lembaga Studi Filsafat.
1995- , dosen luar biasa di Fakultas Seni-Desain, I.T.B.
1995- , dosen di Fakultas Seni-Desain, Universitas Trisakti.
2000 mulai melukis kembali, setelah 20 tahun ditinggalkan!


e-mail: utoyo@mail.com



My Profile

Jakarta, Indonesia
He painted a foreseen-painting Tsunami, 25th. Dec. 2004 at 00:00... 7 hours before the real Tsunami destroyed Aceh!